
Rutinitas pagi hari, seorang gadis cantik berusia 20 tahun yang mempunyai aktivitas berjualan gorengan.
Neneng namanya, Neng Ane. Hampir 2 tahun, setelah Neneng lulus SMA, karena ia memang adalah orang yang kurang mampu, ia memutuskan membantu ibunya, untuk menjajakan gorengan.
"Gorengan Bu ...," Neneng menawari ibu-ibu yang sedang berlalu lalang di tengah kemacetan jalanan.
"Gorengan Pa ...," tak pernah bosannya ia menawari dagangannya.
"10 ribu gorengan tempe nya yah Neng," ucap salah seorang pria didalam sebuah mobil.
"Kembaliannya Pak!" Teriak Neneng saat melihat mobilnya sudah melaju.
Ia melirik lampu hijau sudah menggantikan si merah, dengan tergesa ia segera menepi.
"Ya ampun, ini kembalian bapak tadi," keluhnya saat sudah menepikan diri.
***
"Gimana Neng jualan hari ini?" Tanya ibunya saat Neneng terlihat sudah memasuki rumah.
"Alhamdulilah bu sisa sedikit, tadi ada yang lupa ambil kembalian bu gimana yah? Kembaliannya 40 ribu Bu," jawab Neneng. Ia mengambil gorengan sisa dagangannya, dan melahapnya.
"Yaudah kalau ketemu kasih lagi aja Neng," ucap ibunya. Ibunya mengambil wadah dagangan Neneng kedapur untuk mencucinya.
***
"Baik anak-anak, silahkan buka link yang Bapa share di grup untuk mengisi kuis hari ini," ucap Rido.
Rido adalah seorang dosen di sebuah kampus swasta di jakarta. Rido yang baru lulus S2 di Yogyakarta, langsung menerima tawaran menjadi seorang Dosen di kampus swasta itu.
"Waktu mengisinya 20 menit, dimulai dari sekarang!" Ucap Rido memberi tahu mahasiswa nya.
"Yah Pak kok dikit banget waktunya pak!" Teriak salah satu mahasiswanya.
"Maka dari itu, segeralah kerjakan!" Jawab Rido membuat mahasiswa nya bungkam.
***
"Neng ... sebaiknya kamu jangan dagang lagi di jalan Neng, ibu hawatir," ucap ibunya. Neneng yang sedang bersiap-siap untuk berdagang menatap ibunya.
"Ibu doain aja yah!" Jawab Neneng menenangkan.
Neneng yang sudah bersiap untuk berdagang, segera menyalimi tangan ibunya, dan pergi berdagang.
***
"Gorengan nya dek ...," seperti biasa Neneng menawarkan dagangannya.
"5000 Mbak!" Jawab anak itu.
__ADS_1
"Kuliah Dek?" Tanya Neneng pada pembelinya. Ia membungkuskan pesanannya.
"Iya Mbak, Mbak kenapa ga jualan ke kampus aku aja Mbak, disana banyak loh mahasiswa nya,"
"Wah. Iyayah Dek, siapa tau aja gorengan Mbak laris," ucap neneng berfikir.
***
"Gorengan-gorengan!"
"Gorengan!"
"Ah lampu merah ...," sorak Neneng saat melihat lampu hijau digantikan oleh si merah.
Neneng sedikit mempercepat langkahnya menuju jalanan, lalu ia menawarkan dagangan nya.
Ia melihat mobil hitam, sepeti ... ah itu mobil yang kemarin. Ia mendekati mobil yang tempatnya sedikit jauh itu. "Pa ... ini kembalian kemarin pak!" Teriaknya.
"Pa ...," teriaknya. Namun pemilik mobil itu seakan tidak mendengarnya.
Tak lama terlihat si merah berubah lagi jadi hijau. Ia segera menepikan diri lagi.
"Ah semoga lain waktu bisa mengembalikan ini,"
***
Setelah jam mengajarnya habis, Rido segera menuju mobilnya, untuk segera pulang.
"Ah aku lupa memakannya," Rido mengambil salah satu gorengan dalam pelastiknya, dan memasukan kedalam mulutnya.
---☆☆☆---
Keesokan paginya.
"Bu Neng pamit yah," ucap Neneng.
"Kok pagi-pagi banget Neng, mau kemana?" Tanya ibu. Ibu melihat Neneng sudah rapi-rapi sekali pagi-pagi.
"Aku mau nanya alamat kampus Dek Sari bu, yang kuliah itu loh Bu, katanya jualan disana banyak mahasiswa nya," jawab Neneng semangat.
"Oh iya Neng, sok hati-hati," ucap ibu.
'Neng, seharusnya kamu juga kuliah, namun karena Ayah kamu sudah tiada, jadi kamu harus membantu ibu menanggung beban keluarga Neng,' lirih ibunya menatap kepergian Neneng.
---☆☆☆---
"Gorengan Neng 10ribu,"
"Siap Pak. Ngga ngantor Bang?"
__ADS_1
"Agak siangan Neng ah, mau beli gorengan Mbak Neneng dulu,"
"Ah si abang bisa aja, inget orang rumah bang!"
"Siapa Neng di rumah, masih kosong nih ati,"
"Ibu, Bapak nya abang maksud Aku, kasian sisain," ucap Neneng tertawa.
Sedang si Danu, yang kerap disapa Abang ini malah terdiam, ia kira Neneng cemburu.
"Udah bang? Nambah gak?" Tanya Neneng. Ia membuyarkan lamunan Danu.
Sontak Danu yang sedang melamun terkejut, "Eh iya Neng," jawabnya.
"Neng duluan Bang, ini ada perlu," ucap Neneng. Ia mulai menjauh, dan sedikit mempercepat langkahnya.
---☆☆☆----
"Tukang gorengan itu lagi," gumam Rido dalam hati.
Saat ini ia sedang berhenti, menunggu si hijau mengambil alih. Ia menatap penjual gorengan cantik beberapa waktu lalu.
Tanpa ia sadari Neneng berbalik, dan menatapnya, "ah Pak!" Teriak Neneng. Ia membuyarkan lamunan Rido.
"Pak, tunggu!" Ucap Neneng. Ia segera mengambil dompet di sakunya untuk mengembalikan kembalian.
Tanpa di sadari, mereka menyodorkan uang secara bersamaan.
"Eh kamu kan pedagang, kok memberi uang?" Rido menatap Neneng tak paham.
"Itu Pak, kemarin kembalian bapak saya lupa ngembaliin,"
"Oh gitu? Yaudah saya borong aja 40ribu gorengan nya!" Pinta Rido.
"Ah serius? Baik pak, bisa kepinggirkan dulu mobilnya, ini akan sedikit lama,"
"Baik," Rido menepikan mobilnya setelah lampu hijau menyala.
"Namanya siapa Mbak?" Rido bertanya karena penasaran.
"Neneng Pak! Neng Ane," jawabnya. Neneng mulai membungkuskan gorengan pesanan.
"Ah ... Neneng yah! Mbak Neneng?" Tanya Rido yang tidak di tanggapi oleh Neneng.
"Ini Pa! Makasih sudah memborong Pak!" Ucap Neneng melangkah pergi meninggalkan Rido.
'Alhamdulilah,' guma Neneng, ini akan mengurangi jam waktu berdagang nya.
"Ngomong-ngomong, buat apa saya membeli gorengan sebanyak ini?" Rido menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kelakuannya.
__ADS_1
Bersambung ...
Next jangaaan? Komen yang panjang.