
Hari ini sesuai janjiku pada Pa Rido, aku akan membereskan rumahnya, sebagai pengganti jas nya yang mahal.
Ku tatap alamat dalam secarik kertas di tanganku. Sepertinya jauh, karena aku belum pernah kesini.
Kupesan taxi online, lebih tepatnya Sari tetanggaku yang memesan. Karena aku tidak memiliki ponsel yang memuat aplikasi-aplikasi seperti itu, ponselku sekali tut langsung halo, mengirim pesan, juga mendengarkan radio, taada kamera atau yang lainnya.
"Itu Mbak sudah datang!" Tari menunjuk sebuah ojek berjaket hijau.
"Makasih yah Sar," ucapku. Lalu aku mendekat kepada tukang ojek itu.
"Atas nama Sari?"
"Sari?" Aku mengernyit tak paham.
"Nama saya Neneng pak," Tegasku.
"Oh pake Hp nya Sari tadi?"
Aku mengangguk, bagaimana bisa ia tahu? Apa jangan-jangan ...
Di tengah lamunanku ia memberikan helm nya, lalu segera ku pasang di kepalaku.
Sebelum naik ke motor aku ragu, "Pak? Saya akan di sampaikan ke tujuan kan Pak?"
"Ya iya di sampaikan, itu sudah tugas saya," ucapnya menjawab kehawatiranku.
Namun hatiku bimbang, aku takut ia orang pintar, karena buktinya tadi ia mengetahui aku meminjam ponselnya Sari.
***
Disinilah aku sekarang, ku tatap bangunan di hadapanku, satu kata dalam fikiranku, mewah!
Aku segera mendekati gerbang, dan ternyata disana ada satpam yang berjaga.
"Pa maaf, saya mau bertemu dengan Pa Rido," ucapku memulai.
"Maaf siapa?"
"Neneng,"
Kudengar ia mengambil ponselnya, "pa ada seorang wanita yang ingin bertemu bapa, dia memperkenalkan dirinya Neneng," ia seperti sedang menelpon seseorang.
"...,"
"Baik Pa,"
"Silahkan masuk Mbak!" Ia membukakan pintu gerbangnya.
"Makasih Pa," ucapku berterimakasih.
Ku langkahkan kaki ku mendekat kearah pintu.
Tok ... tok. Ku ketuk pintunya.
"Masuk!"
Ku tatap sekeliling rumahnya, kenapa berantakan sekali. Terasnya banyak jejak jejak kaki.
Saat aku masuk, aku di suguhi ketampanan Pa Dosen itu.
Ia duduk santai, memakai kaos hitam, dengan celana selututnya, mengapa ia terlihat lebih tampan.
__ADS_1
"Ko ngeliatin saya gitu?" Ia membuyarkan lamunanku.
"Ah en. Engga," jawabku tergagap.
"Sudah siap kerja?" Ia berdiri dari duduknya mendekatiku.
Aku memgangguk, "dari mana saya harus mulai?"
"Dari sini!" Ia menunjuk tempat nya.
"Darimana Pa?"
"Iya dari sini, dari ruang tamu," jawabnya.
Kulihat di meja sudah ada kemoceng, segera ku bersihkan peralatan nya dari debu-debu, namun tak kutemukan debu satupun, aneh!
Segera ku ambil sapu dan mulai menyapu ruang tamunya, melihat banyak nya jejak kaki disini, aku heran, mengapa jejak kaki banyak, namun debu tak ada?
Tanpa menyapu langsung ku pel saja, lantai rumahnya, agar lebih cepat beres dan cepat pulang.
"Yang bersih!" Ia berlaga seperti majikan yang sedang mengontrol pegawainya.
"Iya Pa, saya bisa kok ngepel," jawabku.
Tak lama kemudian kudengar suara langkah, tak ... tak. Aku berbalik mendapati ia mendekati barang-barangnya nampak keheranan.
"Ada apa Pak?" Aku penasaran.
"Ah tidak," jawabnya cuek.
Kulanjutkan lagi mengepel lantai nya, dan ahirnya beres. Saat ku tatap lantai hasil pekerjaanku, jejak kaki.
Jejak kaki nya menghiasi lantainya lagi, masyaallah aku sudah beres loh ini.
Segera ku dekati bekas jejak itu, dan ku pel lagi jejak nya.
Kemana Pa Rido, ah biar saja, ku lanjutkan mengepel, dan beres.
***
Kulanjutkan untuk bagian dapurnya, aku menghela nafas lega, saat mendapati hanya sedikit piring yang kotor, ini meringankan bebanku. Dengan semangat segera ku cuci piring yang kotornya.
Tak lama kemudian aku di sodorkan sekantong aqua bekas minuman, "ini apa Pa?" Aku tak paham.
"Ini tolong cucikan juga,"
"Tapi ini bekas Pa," aku mencoba menawarnya.
"Saya suka kebersihan, jadi sebelum di jual ke tukang rongsokan saya mau bersih," jawabnya santai lalu meninggalkanku.
Apa katanya? Suka kebesihan? Mana ada yang suka kebersihan rumah kok acak-acakan begini.
***
Kulihat jam sekarang sudah sore, dan aku baru menyelesaikan pekerjaan disini.
Inilah akibat kecerobohanku, aku tak memiliki waktu liburku di hari minggu ini.
Nasib memang benar nasib.
Setelah memastikan semua pekerjaan telah selesai, aku segera bersiap pulang.
__ADS_1
"Pa saya izin pulang dulu,"
"Silahkan,"
Dengan semangat kulangkahkan kakiku menuju pintu, eh tapi tunggu.
Bagaimana cara aku pulang?
"Neng pulang naik apa?" Baru kali ini ia bertanya tanpa kesombongan.
Aku berbalik, dan menggeleng.
"Saya pesankan taxi online, mau?" Mengapa ia mendadak ramah sekali.
"Neng," panggilnya. Mungkin ia memanggilku terus-terusan karena aku memang diam terus.
"Em itu ... saya naik angkot saja deh!" Aku menolak tawarannya.
"Memang tau?" Aku menggeleng lagi.
"Ya sudah pesan taxi saja, atau mau ojek biar cepat?"
"Jangaan!" Cegahku.
"Kenapa," ia menatapku tak paham.
"Saya malu, takut ketahuan lagi saya pinjam hp," ucapku malu.
"Engga lah gabakal ada yang tau kali Neng!"
"Tau Pa, tukang ojek tau,"
"Gini Pa tadi juga saya pas mau kesini, ia tau saya minjem Hp nya Sari buat pesen ojek!" Aku bercerita.
"Saat aku mendekatinya ia bertanya, Sari ya?" Aku bercerita dengan gaya menirukan tukang ojek tadi.
"Aku jawab Neneng,"
"Dan bapa tau gak? Tukang ojek nya bilang, pinjem hp nya Sari yah? Gituh," ucapku.
Kulihat ia seperti menahan tawa, "saya malu Pak, takut nanti ketahuan pinjem lagi,"
"Apa lagi ini nanti, dengan Rido yah, tapi kok Rido perempuan, nanti ojek nya bingung Pa!"
"Ah iya terus," ucapnya. Kok ia senyum-senyum gitu sih.
"Kasih tau saja rutenya pak, saya naik angkot saja," ucapku final.
"Saya antar!" Ia berdiri dan mengambil kuncinya.
"Hah?" Aku menatapnya tak paham.
"Ayo, saya antar kamu pulang," ucapnya menarik tanganku keluar.
Melihat tanganku di tarik membuat pipiku panas.
Dan ahirnya aku pasrah, untuk di antarnya.
Sebenarnya, setengahnya pasrah, selebihnya sumbringah.
Bersambung ...
__ADS_1
Neneng neneng, udah mulai modus nih apa gimana? Hahaha ... di tunggu komennya yah semua!