Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 11


__ADS_3

                  Bagian 18


Keysa dengan setia memeluk erat tangan Rido dari samping. Saat ini mereka sedang berada dalam mobil menuju bandara.


"Do ... aku mau pergi kamu ga sedih, aku sedih pisah!" Keysa semakin mengeratkan pelukannya.


Rido tidak menjawab ia malah melamun melihat jalanan yang nampak cerah kembali menatap Keysa kembali ke luar negri.


***


"Hati-hati!" Rido melambaikan tangan salam perpisahannya kepada Keysa.


Keysa bukannya pergi malah berlari memeluk Rido kembali.


"Tunggu aku!" Keysa memeluk kekasihnya semakin erat.


Rido jengah melepas pelukan Keysa, ayolah, apa harus selalu seperti ini jika Keysa akan kembali ke luar negerinya.


"Jangan gini! Kamu yang betah disana, aku pamit," ucap Rido meninggalkan Keysa sendiri.


***


Neneng melangkahkan kakinya ke kanan, namun ada seseorang menghalanginya.


Ia melangkahkan kakinya ke kiri masih ada yang menghalanginya.


Di angkat nya kepala Neneng menatap siapa orang yang menghambat langkahnya ini.


Rido?


"Hai apa kabar?" Rido memulai pembicaraan dengan senyum manis nya.


"Baik," jawab Neneng cuek. Sebenarnya dalam hati Neneng ingin bertanya, kemana saja Rido seminggu ini.


"Kehilangan saya yah?" Rido mulai menghambat lagi jalannya Neneng.


"Engga biasa aja!" Neneng mengelak.


"Saya jajan hampir empat mangkok loh tiap hari, serius gak kehilangan pelanggan setiamu ini," Rido bertanya kembali.


"Rezeki dari mana aja Pa, bukan cuma dari Bapa," ucap Neneng meninggalkan Rido.


"Tunggu!" Rido kembali menghentikan langkahnya Neneng.


"Saya minta nomor Hp,"


"Buat apa?"


"Jangan GR, buat hubungi kamu sebagai penggantian jas mahal saya lah! Minggu kemarin kamu kan libur, berarti minggu ini dua kali lipat,"


"Gak bisa gitu dong Pa, kemarin kan Bapa yang menyuruh saya libur!"


"Gak ada yang gabisa buat saya! Minggu ini kamu tidak hanya beres-beres. Minggu ini kamu menyiapkan kebutuhan perut saya, deal!" Rido mengacungkan jari kelingking nya.


Neneng meninggalkan Rido. Ia kesal dosen itu sangat seenaknya sekali sama orang lain.


Neneng sedang tak ingin bicara dengan Rido saat ini, ia tak peduli, minggu ini ia taakan datang ke rumah Rido pokonya.


Ia akan balas dendam, salah siapa kemarin seminggu ia tidak menampakan diri.


***


"Mbak berapa?"


"Dua mangkok yah tadi? Dua puluh ribu,"

__ADS_1


Mahasiswa itu menyodorkan uang pas, lalu berlalu pergi.


"Bu aku minggu ini gamau beres-beres kerumah Pa dosen itu deh!" Neneng mengajak ibunya berbicara.


"Kenapa Neng, harus tanggung jawab dong," ucap ibunya menasihati.


"Habisnya Neng kesel Bu," jawab Neneng.


"Kemarin ia seminggu gak kelihatan Bu!" Neneng mengeluarkan semua keluhannya.


Tanpa Neneng ketahui ibunya menatap nya dengan penuh selidik.


"Neng, jadi bener kamu baper sama Rido?"


'Mati aku keceplosan,' gumam Neneng pelan.


"Jawab ibu Neng?"


"Engga Bu, maksud Neneng gak gitu," Neneng berusaha menutupi perasaannya.


"Dengerin ibu Neng, dia itu gapantes buat kamu!" Ibunya mulai mendekati Neneng dan mengusap-ngusap bahu Neneng.


"Iya Bu, maafin Neng Bu," lirih Neneng.


"Sadar diri Neng, kita bukan siapa-siapa, ya Nak, sadar Nak," Ibunya terus memberi nasihat pada Neneng.


***


"Baru pulang Bu?" Ibunya Neneng melihat siapa yang menyapanya.


"Eh ia Nak Danu, ini baru pulang." Ibunya Neneng terus melanjutkan melangkah.


"Bu Neneng nya mana?" Danu mulai mengejar Ibunya Neneng.


"Belum pulang, itu lagi nunggu ojeg Nak, soalnya banyak bawaannya gabisa naek angkot, ibu rencana nya mau cari ojeg dulu dari sini,"


"Memang tidak merepotkan Nak?"


"Tidak Bu,"


***


"Hai Neng," ucap Danu memanggil Neneng yang sedang sendiri.


"Eh?" Neneng tak paham melihat Danu yang mulai mendekatinya.


"Ayo, Ibumu suruh aku menjemputmu!" Danu mulai membantu Neneng dan barang bawaannya.


Neneng mengangguk, dan mengikuti Danu.


Seseorang di belakangnya menatap tajam pelayan bakso itu, "siapa dia?" Rido bertanya tanya penasaran dalam hatinya.


Karena rasa penasaran yang akut, Rido pun ahirnya mengikuti Neneng dengan mobilnya dari belakang.


***


                


Di tengah perjalanan Neneng melihat sebuah mobil hitam mengkilap sedang mengikutinya.


Tungu. Mobil itu kaan?


"Bang ngebut dong, udah sore nih," ucap Neneng meminta pada Danu.


"Siap Neng," jawab Danu. Danu menancapkan gas nya.

__ADS_1


Neneng melihat lagi kebelakang mobil itu masih ada, sebenarnya untuk apa Pa Rido mengikutinya?


***


"Makasih Bang, nih uangnya," ucap Neneng menyodorkan uang dua puluh ribu.


"Eh apaan, gausah Neng, abang niat kok, itung-itung pendekatan," jawab Danu cengengesan.


Neneng menghela nafas, "yaudah Neng  pulang dulu ya Bang!" Neneng mengambil barang-barangnya dan mulai berjalan menuju rumahnya, karena ia memilih turun di persimpangan jalan, yang mengharuskan ia berjalan sedikit lagi untuk kerumahnya.


Neneng masih berfikir, sebenarnya kenapa tadi Rido mengikutinya.


Di tengah-tengah lamunannya Neneng merasakan pergelangan tangannya di tarik.


"Hah Pa Rido? Ngapain disini," ucap Neneng tak percaya. Pasalnya tadi ia dan Danu memilih jalan pintas, yang tidak bisa di masuki mobil.


"Kamu yang ngapain ngehindarin saya Neng barusan!" Rido mulai memberi tatapan mautnya.


"Barusan apa," ucap Neneng mengelak.


"Hah sudah, kamu fikir saya lulusan S2 bisa tertipu sama lulusan SMA hah!" Rido mendelik sinis.


"Terserah Pa," putus Neneng. Ia memutuskan akan meninggalkan Rido. Namun barang bawaan nya sengaja di senggol oleh Rido sampai terjatuh.


"Apaan sih Pa, sebenarnya apa mau bapa?" Neneng menatap jengah Rido si lulusan S2 yang kekanak-kanakan ini.


Neneng menurunkan dirinya untuk mengambil sebagian barang yang sengaja Rido jatuhkan.


Namun Rido sudah lebih dulu mendahuluinya.


"Pa sini!" Neneng menunjuk barangnya.


"Apa?" Rido mengangkat dagunya mengisyaratkan pertanyaannya barusan.


"Itu, sini!" Neneng menunjuk barangnya dengan sangat geram.


"Apa?"


"Gimana sih, lulusan s2 kok tidak mengerti bahasa isyarat!" Neneng meledek Rido sengaja agar Rido membencinya dan tidak menganggu lagi Neneng.


"Emangnya saya bisu, pake bahasa isyarat. Neng kalau mau sesuatu ambil dong jangan nyuruh, gasopan banget sih! Saya dosen loh," ucap Rido geram.


"Mau dosen mau polisi, mau SBY, kalau ga sopan, kenapa saya harus sopan?" Neneng merebut barangnya di tangan Rido secepat kilat.


"Mana nomor HP?" Rido menahan tangan Neneng yang hendak meninggalkannya.


Neneng tertawa sinis mendengar permintaan Rido, "jadi sengaja ngebuntutin saya, lalu menghadang saya gini demi nomor HP tukang gorengan Pa dosen?"


"Jangan Geer, selain dosen, saya juga majikan kamu!" Rido mengelak. Mati, kenapa ia bisa di rendahkan seperti ini oleh Mbak-Mbak gorengan ini.


"Ayo tulis!"


"Berapa?" Rido mengeluarkan HP nya dari saku.


"083826789000." Neneng menyebutkan nomornya.


"Ini nomor siapa?" Rido tampak ragu, takut jika Neneng mengerjainya.


Neneng berlari sambil berteriak, "Nenek saya!"


Seketika Rido mengepalkan tangannya, "sialan! Di baikin, malah ngerjain!"


Bersambung ...


Apa kabar hihihi. Ada yang kangen gak yah? Semoga ada ...

__ADS_1


Di tunggu vote & komen nya, itu menambah semangatku 😍😍😍


__ADS_2