
Hari ini Neneng kembali berjualan di kampus seperti biasa, membantu ibunya.
Ada yang nampak berbeda hari ini, usai kemarin di antarkan, dan ketahuan cekikikan di jalan, Neneng merasa sedikit malu.
Ia malu berpapasan dengan Rido, ia takut di ledek, dan di kata-katain.
Ia melamun, sambil sedikit tersenyum. Ada yang membuat Neneng bahagia atas kejadian kemarin.
Masih terekam jelas dalam ingatannya.
*Flasback On*
"Makasih Pa, saya pulang dulu," ucap Neneng pamit, lalu ia memegang pembuka pintu.
"Kok susah," gumamnya pelan. Ia mencoba lagi, namun tak kunjung terbuka.
Bagaimana jika ia tak bisa keluar dari mobil ini, apakah ia akan terus berdua seperti ini dengan Rido? Tidaaak!
"Pa ini gimana kok gabisa dibuka!" Neneng histeris saat sudah sampai di rumahnya namun pintu mobilnya susah di buka.
"Hah gimana dong Neng?" Rido bertingkah seolah-olah iapun tak tau bagaimana caranya.
"Bapak coba buka pintu punya Bapa," pinta Neneng.
Rido menurutinya, dan ternyata tidak terbuka juga.
"Gimana Neng? Pintunya ini gabisa di buka loh!" Rido dengan bodohnya menirukan gaya histeris Neneng.
"Bentar saya telpon Mang Ujang Pa," Neneng mengeluarkan posel keluaran tahun 2005an itu.
"Eh tunggu!" Rido menahan tangan Neneng.
"Siapa Ujang?" Rido bertanya menyelidik.
"Pegawai bengkel Pa!"
"Kamu kok kenal tukang bengkel kan kamu gapunya kemdaraam?" Rido memicingkan sedikit matanya.
Neneng tak memperdulikan ocehan Rido. Ia segera menekan nomor Mang Ujang dan memanggilnya.
"Halo Mang!" Teriak Neneng.
Rido membiarkan, biar saja ia malu nanti. "Loadspeaker!" Rido ingin mendengar pembicaraannya.
"Mang tolongin Neng, mobil temen gabisa di buka pintunya!"
"Mobil?"
"Iya Mang mobilnya gabisa dibuka!"
"Neng kan Mamang tukang tambal ban,"
"Iya aku tau, Mang ahli kendaraan kan?" Neneng memastikan dengan nada tak sabarnya.
"Mang tukang tambal Neng, bukan ahli kendaraan,"
"Tapi Mamang kan suka pegang kendaraan!"
"Iya tapi ban nya doang Neng, cailahh! Ini mobil, Neng, mobil!"
Rido yang berada di samping Neneng tak kuasa menahan tawa, mengapa Mbak-Mbak disampingnya ini kuno sekali?
"Mamang tutup dulu yah, ada yang bocor!"
"Apa yang bocor Mang?"
"Ban Neng, Mamang Ujang kan ahli ban, udah dulu!"
Tut. Sambungan telpon dimatikan.
Neneng kebingungan, ia rasa ia taakan kuat jika harus berlama-lama berdekatan dengan Rido seperti ini.
Ia terkesiap saat merasakan sebuah usapan kecil di kepala nya.
Ia mendongkak menatap pelaku usapan itu.
Pandangan mereka bertemu. Rido dan Neneng saling menatap.
"Jangan hawatir, coba buka lagi, saya udah bacain mantra." Rido mengusap-ngusap kepala Neneng menenangkan.
"Bisa pake Mantra Pak?"
Rido mengangguk, dan memberikan senyum tipisnya.
Cklek.
Terbuka.
Neneng tidak keluar melainkan menatap Rido kembali.
"Bisa Pa!" Neneng tersenyum. Lalu mengeluarkan diri dari mobilnya Rido.
__ADS_1
Neneng mengangkat lima tangannya untuk berdadah.
Namun mobil Rido sudah hilang dari pandangannya.
*Flasback Off*
Neneng tersenyum sendiri mengusap-usap kepalanya. "Kemarin Pa Rido ngusap-ngusap kepalaku, semoga aku ketularan pinter!"
"Ish!" Seketika ia menghentikan usapannya.
"Tapi jangan ketularan sombongnya deh!" Gumamnya lagi.
"Neng, antar ke meja dua!" Ibunya menyadarkan lamunan yang cukup panjangnya.
Neneng mengangguk dan mengambil bakso yang akan di antarkannya.
Ia menatap pembeli yang berada di meja dua itu.
Ia kembali mengudurkan dirinya kembali ke tempat ibunya.
"Bu ... ibu aja deh yang antar, Neneng yang lain nanti!" Neneng memberikan bakso dalam nampan itu.
"Kenapa," ibu nya bertanya.
Neneng yang di tanya malah cengir.
Ibunya menoleh siapa yang berada di meja dua itu.
"Neng, jangan baper!"
***
"Selamat pagi anak-anak ... hari ini kita adakan kuis yah! Yang bisa menjawab kuis, akan saya beri nilai tambahan!" Rido berdiri memberikan wawaran di kelas yang di ajarnya.
"Kalau yang tidak bisa menjawab bagaimana Pa?" Seorang mahasiswinya yang perempuan mengacungkan tangannya.
"Yang tidak bisa saya hukum!" Rido mengeluarkan suara tegasnya.
"Hah kok gitu si Pa!"
"Pa!"
***
"Ngebakso dulu enak kali yah?" Rido menanyai dirinya sendiri.
Ia melangkahkan kakinya menuju kantin.
Setelah lima menit menunggu Rido berbinar menatap siapa yang akan menyajikan pesanannya.
Namun sedetik kemudian ia menatap punggung Mbak Neneng itu.
"Mengapa ia tidak jadi mengantarkan baksonya," gumamnya dalam hati.
Ia mendengus kesal, lalu membuka ponselnya.
Terdapat satu pesan dari kekasihnya.
[Yang aku dapet libur satu minggu dari kampus, dan aku akan pulang besok.
Missyou.
Keysara]
Begitulah pesan yang di terima Rido. Itu artinya ia tidak akan bebas. Keysa si selegram itu pasti ingin selalu jalan-jalan.
Di sana pun Keysa selalu menyempatkan jalan-jalan hanya demi satu post di instagram.
"Pa ini baksonya," ia mengangkat wajahnya saat mendapati bukan Neneng yang mengantar baksonya.
Rido mendengus kesal, tak tau terimakasih, padahal kemarin ia sudah mengantarkan nya pulang.
***
Sudah sore, dan Rido belum pulang kerumahnya, di dalam hatinya terbesit rasa ingin menikmati sendiri sebelum Keysa besok pulang ke Indonesia.
Ia mengembangkan senyumnya saat mendapati Neneng yang belum pulang.
Namun ia mengernyit, mengapa padahal ini sudah sore, kenapa Neneng belum pulang.
Ia mendekati Neneng, "Kenapa belum pulang?"
"Ah belum ... belum aja," Neneng menjawab sedikit tergagap.
Demi apapun, Neneng nampaknya sudah mulai terpikat oleh Rido.
"Lagi nunggu jemputan, soalnya ini aga bawa banyak barang Pa!" Ia menunjuk sebuah wadah di pinggir nya.
"Saya antar yah!" Rido menarik pergelangan tangan Neneng.
Neneng mencoba melepaskan genggaman Rido lalu berbisik, "Pa ini kampus, nantiada yang liat," ucap Neneng mengingatkan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa jika ada yang melihat?" Rido menatap Neneng.
"Engga kenapa-napa sih,"
"Yasudah Ayo!" Rido berjalan mendahului Neneng.
***
"Makan dulu yuk, bisa temani saya?" Rido sedikit menolehkan pandangan nya pada wanita di sampingnya.
Neneng mengangguk dan sedikit menarik bibirnya tipis, "boleh,"
Rido ikut tersenyum dan memberhentikan mobilnya disalah satu lestoran jepang.
"Pernah makan ramen?" Rido mulai melepaskan sabuk pengaman nya.
Neneng menggeleng.
"Yasudah Ayo,"
***
Rido memesan dua Ramen, dan dua minuman.
Setelah menunggu cukup lama karena pengunjungnya lumayan ramai ahirnya pesanannya datang.
Neneng menatap ragu melihat sumpit, dan kemudian ia berbinar melihat sendok.
Tanpa ia ketahui sendok ramen itu sedikit berbeda, kalau di sunda lebih mirip sinduk.
"Makan!" Rido mulai mengaduk ramen nya.
Neneng melihat bagaimana cara Rido makan.
Ia mengambil sendok nya, dan mengaduknya. Ia mulai memakan nya. Namun ternyata susah, sendoknya sedikit dalam.
"Neng, pakai ini!" Rido menunjukkan sumpitnya.
Neneng mengangguk.
Ia mulai mencoba memakan pakai sumpit namun makanan nya susah ia tangkap.
Ia mencoba lagi, namun makanan nya jatuh.
Neneng menatap Rido, ternyata Rido sedang fokus makan, ia mengambil makanan yang terjatuh di meja.
Lalu ia membuangnya ke bawah kakinya.
Ia mencoba kembali namun tetap susah, pada ahirnya ia hanya mengucek ngucek makanan nya saja, dan menyeruput minumannya.
"Neng kok masih banyak?" Rido menatap mangkuk Neneng.
"Kenyang!" Neneng mencoba mencari alasan.
"Ah kenapa gabilang," ucap Rido bertanya.
Lalu ia berdiri dan membayar ramen nya, kekasir.
Selesai membayar ia mengisyaratkan Neneng untuk pulang.
"Hem gagal deh makan ramen, padahal pengen nyoba," gumam Neneng melihat mangkuknya masih penuh.
***
Keesokannya.
Hari ini Rido akan menjemput Keysa ke bandara, sesuai permintaanya Keysa sendiri.
Malas rasanya, ia memilih membungkus tubuhnya lagi menggunakan selimut, lalu memejamkan matanya.
Disisi lain ...
Keysa menggeret kopernya dan mencari-cari Rido.
Ia tak menemukan Rido dimanapun, lalu ia mencoba menghubunginya.
"Yang dimana?"
"Astagfirullah Key, udah nyampe Indonesia?" Rido gelalapan membuka matanya.
"Iya lah, kamu dimana? Jangan bilang kamu masih tidur!" Bentak Keysa.
Rido cengir, mengapa ia kebablasan, padahal tadi niatnya hanya tidur 10 menit lagi.
"Aku kesaana sekarang!"
"Gausah aku naik taksi aja, gamau aku di jemput sama cowo bau, belum mandi."
Tut. Sambungan di matikan sepihak oleh Keysa.
Rido tertawa melihat Keysa menutup telponnya, ia kembali menidurkan dirinya, dan membungkus badannya oleh selimut lagi.
__ADS_1
Bersambung ...