Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 5


__ADS_3

Kesalahan terbesarku hari ini adalah menyia-nyiakan uang, untuk mu yang memiliki banyak uang.


__________


Bagaimana bisa aku seceroboh ini?


Saat aku sedang mengantarkan semangkok bakso kepada pelanggan setiaku, duo satpam di gerbang.


Tiba-tiba ...


Brukkk.


Ku tatap jas hitam berkilau nya, Astaga!


Ku alihkan pandanganku menatap siapa orang yang telah ku tabrak.


Dia ... Pa dosen sombong yang pandai sekali merendahkan orang lain.


"Mbak liat-liat dong kalau jalan gimana sih lihat jas saya!" Ucapnya kesal.


"Maaf!" ku tundukan kepalaku. Benar-benar salah. Aku memang salah disini.


"Maaf," sesalku.


"saya gamau tau, kamu harus bertanggung jawab, ini jas saya mahal!" Ia memberikan telunjuk besar nya padaku.


Sumpah demi apapun, masalah uang aku lemah! Keuntungan bakso dan gorengan pun taakan sebanding.


"Ta. Tapi Pak, saya tidak ada uang jika harus menggantinya, bagaimana jika saya cucikan," tawarku mencoba membujuknya.


"Cucikan? Kamu yakin bisa, baju saya beda perawatan dengan baju kamu ini," ucapnya memegang sedikit bajunya. Sial dia merendahkanku!


"Saya bisa, saya dirumah suka kuli mencuci, dan saya pernah mencuci jas Pak!" Aku mencoba menawar lagi.


"Baik!" Ahirnya ia menyetujui.


"Tolong bersihkan, besok saya harus sudah melihatnya di ruangan saya," ucapnya.


Aku mengangguk, "baik pak," setelah memberikan jas miliknya, aku tergesa-gesa berlari meninggalkannya, aku harus mengganti bakso yang tumpah barusan.


Sudah jatuh tertimpan tangga, pulang niatnya istirahat, malah harus mencuci.


***


Sepulangnya dari berjualan, segera ku oprasikan Jas yang terkena tumpahan bakso tadi.


Di cuci sendiri juga bakal bisa deh kayanya.


Ku celupkan jas nya kedalam baskom berisi detergen.


Ah bisa! Jas nya bersih.


Kenapa ia lebay sekali, harus berkata beda perawatan, sama saja menurutku.


Aku menjemurnya di tempat jemuran, dan menunggunya di kursi.


Apakah bakal kering besok?


***

__ADS_1


Pagi pagi sekali ku ambil jas di tempat jemuran kemarin, besem.


Ah ternyata belum kering, aku harus berangkat 20 menit lagi.


Aku segera berlari menuju tempat laundry, untungnya tempat nya lumayan dekat dari sini.


"Mbak, saya mau mengeringkan ini bisa?" Aku menunjukan jas di tanganku.


"Mengeringkan jas saja?"


Aku mengangguk, "jika bisa saya minta diawalkan yah! Soalnya saya buru-buru," pintaku.


"Tenang Mbak, di tunggu sebentar yah!"


Setelah hampir 10 menit aku menunggu, ahirnya Jas nya beres, nampak rapi dan emm harum.


"Terimakasih Mbak," ucapku. Ku berikan uang sesuai tarif dan segera berlalu pergi.


***


Tok ... tok.


"Masuk!"


"Pa ini ..., sekali lagi maaf yah Pa," pintaku.


Setelah meminta maaf, aku segera berniat keluar untuk kembali ke tempat dagangan ku.


"Tunggu," cegahnya. Ia membuka jas nya dari plastik. Ia membuka, dan menelisik jas nya.


"Ada apa pak?" Aku memberinya tatapan hawatir. Aku benar-benar takut sesuatu terjadi.


"Em itu. Itu tadi saya kan kemarin menjemur nya tidak kering karena saya pulang sore,"


"Dan pas pagi-pagi saya liat belum kering. Jadi saya datang ke laundry," jawabku sejujur-jujurnya.


"Pengering?"


"Yaampun Neneng, Mbak Neneng si tukang kuli cuci bagaimana si! Katanya udah biasa, kok cuci jas sampai gini," ucapnya mengomentariku.


"Nih saya kasih tau, ngeringin jas gini tuh pake hadryer, bukan pake pengering!" Ia menunjuk-nunjuk jas nya.


"Buat pengetahuan Mbak Neneng nih biar jadi kuli cuci profesional," ucapnya santai.


Aku mengangguk, "maaf," pintaku lagi.


"Saya gamau tau, kamu harus ganti jas nya, seperti yang saya sama persis," tekannya padaku.


"Ta-"


"Atau kamu harus beres-beres di rumahku setiap minggu selama satu tahun," ucapnya memberi penawaran.


"Satu tahun terlalu lama," keluhku.


"Yasudah ganti, jas saya harganya 15 juta, saya kasih diskon kamu jadi 14,5 juta, gimana? Baikkan saya?" Ucapnya dengan tatapan menyebalkan.


"Penawaran yang lainnya deh," pintaku lagi.


"Jadi pacar saya!"

__ADS_1


***


Bagian 10


Aku melebarkan mataku masih terngiang ucapan nya barusan, "jadi pacarku!"


Bagaimana bisa? Pa Rido ...


"Hey! Mbak jangan ngelamun!" Ia menepuk bahuku.


"A. Ah iya," jawabku tergagap.


"Sudah menentukan pilihan?" Ia menatapku, mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badanku.


"Ah itu, aku ti. Tidak mau memilih nomor 3," cicitku pelan.


Seketika tawanya pecah, "serius kamu mikirin yang nomor tiga?" Iya mensejajarkan tingginya denganku lagi.


"Hah," aku menatap ia yang sedang tertawa terbahak-bahak. Sialan ia mengerjaiku.


"Mbak Neneng ini ternyata orang yang percaya diri yah!" Ia menunjuk-nunjuk dagunnya dengan ekspresi berfikir keras.


Dengan santai aku melenggang pergi meninggalkan nya.


"Hey kenapa ninggalin saya Mbak!" Ia mengejarku, lalu ia menarik tanganku.


"Warung gaada yang jagain," elakku. Demi apapun aku benar-benar malu.


"Jadinya pilih nomor berapa, nggak serius nomor tiga kan?" Ia memberi tatapan yang serius padaku.


"Geer banget Pa! Ya sudah saya pilih nomor satu, dan sekarang tinggalin saya!" Aku segera meninggalkan nya.


Benar-benar menyebalkan, memangnya siapa dia, ogah banget aku juga pilih nomor tiga.


Di sisi lain Rido menyeringai senang.


Ia mempunyai banyak waktu untuk bersama dengan Neneng setiap minggu, lumayan, cuci mata.


Tanpa sadar senyumnya mulai mengembang, tak dapat di pungkiri bahwa Mbak Neneng itu memang sedikit menarik, hanya sedikit yah, jangan salah paham.


***


Kulihat Ibu sedang mengelap meja-meja tempat pelanggan, kudekati Ibu, dan mengambil alih pekerjaannya.


"Bu biar aku aja!" Kuambil lap di tangannya, dan segera menggantikannya.


"Gimana Neng, jas nya udah di anterin?" Ibu menatapku menunggu jawabanku.


"Jas nya melar bu, gara-gara kemaren aku pake pengering, harusnya pake Hairdryer," keluhku.


"Neng ceroboh banget deh, kita mana punya uang buat ngegantiin nya Neng," ibu menasehatiku.


"Iya ibu, aku gantinya dengan beres-beres di rumahnya, selama setahun, tiap hari minggu,"


"Lama banget Neng, tapi gapapa, nanti ibu kali-kali akan gantiin kamu," ucap Ibu. Ia mengusap pundak ku menenangkan.


Ku anggukan kepalaku, tuhan, semoga aku kuat dengan kesombongannya.


Bersambung ...

__ADS_1


Part pendek yah ... tapi up nya kilat!


__ADS_2