
Bagian 39
Rido nampaknya belum habis kesabarannya untuk mencari tau tentang Neneng. Ia mendapati Neneng di jemput oleh sebuah mobil mewah, dan ia memutuskan untuk mengikutinya.
Rido bertanya-tanya, mengapa Ibunya Neneng nampak tidak suka dengannya, sedangkan dengan Pria tua itu Ibunya nampak suka hati, heran.
Rido sudah sangat diliputi rasa penasaran. "Aku ingin lihat apakah Pria tua itu mengalahkan ketampananku?"
Kring ... kring.
Rido mengalihkan pandangannya pada ponsel di saku celanya. Rido mendapati Keysa menghubunginya.
Rido tak tega dengan Keysa, Rido mengabaikan Keysa hampir seminggu ini, Rido memutuskan untuk mengangkat panggilannya.
"Ya Key?"
"...,"
"I. Iya aku sudah mendingan." Rido mengingat ia kemarin beralasan kurang sehat, agar Keysa tidak menganggunya.
"...,"
"Sekarang?" Rido sedikit ragu dengan permintaan Keysa. Rido mengalihkan pandangannya pada Neneng yang sudah tak nampak di pandangannya.
"...,"
"Oke Key, nanti aku jemput!" Rido memutuskan sambungan telponnya, dan pergi menuju rumah Keysa, karena Keysa minta di temani ke butik.
***
Neneng mencoba baju yang di belikan oleh ayahnya, Minah, Ibunya juga mencoba baju juga. Rencananya mereka akan membeli baju couple, untuk acara mereka nanti malem.
__ADS_1
Handoko membeli jas berwarna biru tua, Minah, Istrinya memilih baju syar'i berwarna senada, dan juga Neneng memilih baju dress yang berwarna sama juga.
***
Rido terfokus pada baju couple berwarna Biru, ia merabanya dan membayangkan ia memakai ini dengan ... Neneng.
"Do ... sini ... di sini lebih bagus!" Keysa menarik tangan Rido menuju baju lain.
Keysa menunjuk baju sepasang berwarna merah cerah. Ia nampak sangat tergugah dengan baju itu.
"Do gimana kalau yang ini," ucap Keysa.
"Apa tidak terlalu terang warnanya?" Rido sedikit ragu, pasalnya ia tidak terlalu suka dengan warna cerah.
Keysa menggeleng cepat. "Do ini tuh bagus mewah dan kesannya glamour, aku bangeet!" Keysa memeluk bajunya. Ia sudah cocok sekali dengan ini.
Inilah sifat Keysa yang Rido kurang sukai, tanpa memikirkannya ia memilih semaunya.
"Kamu mah gituh Do!"
Hah. Sudah Rido kalah jika sudah gini. "Oke-oke! Terserah!" Rido sudah tak ingin berdebat, karena ia taakan menang.
***
Wira, Ayah Rido berbinar mendapat rekan bisnisnya mendatangi rumahnya. Rekan bisnis yang satu ini sangat menguntungkan baginya.
"Masuk Han!" Dengan semangat ia mempersilahkan masuk Handoko yang berkunjung kerumahnya.
"Mah ... ambilkan minum ini ada Handoko!" Wira sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh istrinya.
"Wira ... saya tunggu malam ini," Handoko tersenyum memberikan sebuah undangan.
__ADS_1
"Apa ini Han?" Wira membulak balikan ondangan tersebut.
"Pesta ulang tahun anakku, juga syukuran kemenangan tenderku di Australia."
"Anakmu?" Wira nampak terkejut. "Kamu sudah menemukan istri dan anakmu Han," sambungnya masih penasaran.
"Iya Wir, saya tunggu malam ini, ajak Rido yah," ucap Handoko memaksa sambil tertawa.
Setelah memberikan undangan pada rekan-rekan bisnisnya Handoko memutuskan untuk pulang menyiapkan persiapan pestanya.
***
"Kamu harus datang malam ini sama aku!" Keysa menekankan Rido yang sering mengecewakannya. Rido jika diajak menghadiri acara sering tidak datang.
"Kemana?" Rido membelokan setirnya.
"Rekan papa aku mengundang pesta malam ini! Pestanya akan seru sekali!" Keysa kegirangan.
"Memangnya aku dan kamu di undang?" Rido menelisik. Bagaimana Keysa bisa ikut campur dengan orang tua.
"Iyadong! Kamu tau kan Om Handoko? Pemilik perusahaan properti itu? Pasti kenalannya banyak, dan ia mengundang sekeluarga kok, masa Om Wira ga di undang?" Keysa menuntut jawaban.
Rido mengedikkan bahu nya asal, ia tidak peduli mau Om Handoko atau siapapun. Ia ingin menyeludiki Neneng lagi.
"Pokonya kamu harus datang, kalau engga kita putus!" Keysa mengancam.
"Eeh jangan! Apaan sih putus-putus aja!" Rido geram. Ia tidak bisa jika harus putus dengan Keysa. Mamanya pasti akan mengomelinya seminggu 7 malam.
"Datang yah! Awas," ucap Keysa merengek. Taktiknya ini memang selalu handal.
Bersambung ...
__ADS_1