
Rido Pov
Dring telpon ku berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Kulihat nama satpamku tertera di sana.
Dia memberitahukan bahwa Neneng sudah sampai disini. Aku tidak sabar untuk melihat ia bekerja.
Setelah ia masuk dan menemuiku ku persilahkan ia membereskan ruang tamu terlebih dahulu agar aku dapat mengawasinya.
Ia mengambil kemoceng yang sudah tersedia di meja, ia mendekati barang-barangku. Aku menatap kegiatannya dengan semangat.
Namun tak lama kemudian ia menaruh kemoceng nya, dan mengambil sapu, mengapa ia tidak lama membersihkan debu.
Kulihat sapu juga di taruh kembali, dan ia segera mengambil alat pel.
Ia mulai mengepel lantai nya, dan aku penasaran mengapa tadi ia tidak menggunakan kemoceng nya lama-lama, padahal aku ingin lihat dia bersin-bersin.
Kudekati barang-barangku dan segera mengeceknya, ternyata tidak ada debu sama sekali, wah ternyata pembantuku kurang profesional dalam melaksanakan tugasnya.
Kulihat Neneng hampir selesai mengepel, aku tak mau ia santai dulu, segera ku injak-injak lantainya sebelum ia sadar, lalu tak lama kemudian aku pergi ke loteng untuk melihat kegeraman nya.
Aku menatap puas saat Neneng mengangkat wajahnya melihat jejak kakiku barusan, aku tak sabar ingin mendengar gerutuannya.
Namun apa yang kulihat, ia malah mengepel lantainya lagi.
Oh rupanya Neneng pegawai yang baik yah!
Ku langkahkan kaki ku untuk mengecek dapur, kulihat disana cucian piring hanya sedikit, bagaimana bisa? Ah si Bibi, ia benar-benar kurang profesional.
Aku sedikit berlari ketaman belakang, untuk mencari botol bekas minumanku sehari-hari.
Itu dia, disana terdapat dua karung botol yang akan di jual oleh satpam.
Disana ada dua karung, wah Neneng pasti akan kenyang nih mencuci.
Namun, entah kenapa aku malah menjadi tak tega, apakah aku harus memberikannya sekarung saja untuk mencuci?
Kuputuskan untuk mengambil sekantong saja botol bekas untuk mencuci, dia wanita, jangan terlalu keras.
"Aden ... lagi ngapain, tukang rongsokannya belum ada kok Den," di tengah aktivitasku mengambil botol bekas ternyata kepergok pak satpam.
"Den ... kotor Den, jangan di pegang," pak satpam mendekatiku dan mengambil alih botolnya.
__ADS_1
"Saya mau botol bekas nya Pa!"
"Buat apa Den? Jangan ini bekas Den, bau!"
Bau? Seketika aku menatap tanganku, aku tak tau pasti jadwal tukang rongsokan kesini, namun yang kutau tidak setiap hari.
"Berapa kali dalam sebulan tukang rongsokan keliling?"
"2kali Den,"
"Itu artinya ...," aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.
"Dua minggu sekali Den, dan ini sampah dua minggu yang lalu,"
Jijik. Tanganku kotor, mengapa aku sebodoh tadi mengobrak ngabrik sampah 2 minggu yang lalu.
"Demi kamu Neng ini," desisku kesal dalam hati.
***
"Ini tolong cucikan juga!" Aku menyodorkan sekantung botol bekas yang bau itu.
"Tapi Pa ini bekas," ucapnya menawar. Enak saja! Saya sudah rela-rela mengobrak ngabrik sampah tadi, dan ia menawar?
Setelah memberikan botol bau itu, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepertinya aku harus mandi sehari semalam, dan meminta tukang kebun memetik bunga tujuh rupa, untuk mengembalikan ketampananku, dari botol bau tadi.
***
Kuputuskan untuk menunda mandi nya, dan hanya berganti baju saja, kemungkinan besar sebentar lagi Neneng akan pulang.
Benar saja, ia dengan wajah lesu nya, meminta izin pulang.
Entah kenapa melihat wajah nya kecapean membuatku tak tega, "Neng pulang naik apa," tanyaku.
Ia menggeleng, yaampun Mbak ini sudah besar, tapi kok seperti tak tau jalan.
Saat aku hendak memesankannya ojek online, "jangaaan!" Ia menahan tindakanku.
Dan kutanyakan alasan nya, ia mulai bercerita dengan polosnya.
__ADS_1
Yaampun Neneng, sebegitu kuno nya ia, apa ia tidak mempunyai aplikasi grab? Atau semacamnya.
Tak tega melihat ke kunoan nya, kuputuskan untuk mengantarnya pulang, dan ia terkejut.
So, siapa yang tidak terkejut, pulang diantarkan pangeran.
***
Keheningan menghiasi mobilku, Neneng diam memandang jendelanya.
"Neng ... alamat rumahnya dimana?"
"Di jalan Guna Bakti No 12," jawabnya tanpa menatapku.
Kuperkirakan, memang daerah sana lumayan jauh kesini, pantesan kemarin ia mengeluh jauh.
Tak lama kemudian, kudengar Neneng cekikikan sendiri.
"Hey!" Aku menepuk bahunya.
"Apa Pa?" Ia berbalik menatapku.
"Kamu kenapa cekikikan begitu saya takut," tegurku.
"Engga!" Kulihat ia mengembangkan senyumnya, dan kembali menatap jendela lagi.
"Neng!" Ku tepuk bahunya lagi.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu?"
"Engga saya bahagia aja naik mobil bagus, dan tadi saya liat temen saya Pa, makanya saya cekikan, ia menatap saya seperti ingin naik juga!" Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tidak menghadap jendela lagi.
Naik mobil begini saja ia bahagia? Padahal ini salah satu mobil yang jarang kupakai.
Karena mobil kesayanganku taakan diduduki oleh sembarang orang, Keysa pun tak pernah menduduki nya.
Ia berbeda dengan Keysa, Keysa sering menggerutu jika aku menjemput atau mengantarnya dengan mobil yang kurang bagus, sementara Neneng, ia sampai cekikikan begitu hanya kerena naik mobil ini.
Entah apa yang merasukimu Mbak Neneng!
Bersambung ...
__ADS_1
Vote dan komen yah agar saya makin semangat! Selamat sore 😍