
Rido POV
Melihat gelagat Neneng yang mengerjaiku, membuatku sedikit geram. Sudah berani rupanya kucing manis mengerjaiku.
Lihat saja hari minggu!
Aku langsung pulang menuju mobilku, dan segera melesat pulang ke rumah.
Melihat nomor barusan aku penasaran, dekati saja Nenek nya dulu, baru cucunya! Ah aku memang pintar!
Aku mencoba menelpon nya.
Tut ...
"Halo?" Suara seorang gadis dari seberang sana.
Lah kok suaranya ...
Seketika aku mengembangkan senyumku, ku balas kamu.
"Halo ... Nek? Ini dengan Nenek nya Mbak Neneng yah?"
Hening.
"Halo Nek?"
"Iya Nak," jawabnya.
Aku menahan tawa mendengar suara yang di buat buat menjadi suara lemah.
"Ah ternyata benar. Nek, saya kekasihnya Neneng mau minta izin culik Neneng besok boleh? Abisnya saya gemas dengan cucu Nenek, pengen berbuat sesuatu sama dia!"
Hening.
"Nek? Nenek masih hidup?"
"Hey dasar gila! Mau nyulik kok minta izin!" Ku dengar ia tidak lagi berpura-pura.
"Loh Nenek kok suaranya jadi beda yah?"
"Stop! Saya Neneng, jangan macem-macem sama saya Pa!"
Tut.
Panggilan terputus sepihak.
Neneng Neneng, aku lebih pintar yah? Jelas.
***
Jadwal mengajar hari ini lumayan sedikit padat, dari pagi sampai jam waktu pulang aku di sibuk kan untuk mengajar mata kuliah ku.
Niatnya hari ini aku ingin mengerjai Neneng, namun jadwalku tidak mendukung, ah semoga nanti ia pulang telat.
Kulihat jam di tanganku, tinggal sepuluh menit lagi, aku harus segera mengajar kembali.
Ku lewati kantin, tanpa melihat Neneng yang lumayan seger itu.
***
Mengajar tiga SKS membuat aku sedikit bosan di kelas.
Ku lihat mahasiswa ku masih segar-segar saja, mereka masih setia mengikuti kelas ku. Bagus! Pertahankan.
lima menit menuju habisnya jam mata kuliah, membuatku berbinar.
"Baik anak-anak cukup sekian hari ini, sampai ketemu di pertemuan berikutnya!" Aku melangkah meninggalkan ruangan kelas.
***
__ADS_1
"Hey lepasin!" Neneng memukul-mukul tanganku yang menggenggamnya.
"Ikut saya!" Aku terus menarik tangannya.
"Ga sopan Pa, lepasin!"
Aku menghentikan langkahku. "Apa nya yang ga sopan?"
"Gaada angin, gaada ujan, tanpa izin, tanpa persetujuan, main tarik-tarik saja tangan orang, ga sopan!" Neneng mendelikku tajam.
Oke ku turuti. Kulepaskan genggamanku dan menatapnya.
"Tapi saya sudah izin kok!"
"Saya izin kan sama Nenek kamu kemarin!"
"Yang benar saja Pa, masa minta izin buat nyulik sih?"
"Yang penting sudah minta izin kan?" Aku menaik turunkan alisku.
Ku tarik kembali tangannya, dan ia menahan cengkraman tanganku.
"Saya bisa jalan sendiri!" Ia berjalan mendahuluiku.
Kok bisa yah, ada orang yang mau di culik pasrah nya kaya Neneng?
Neneng-Neneng lets to play with me!
***
Orang berpendidikan bukan berarti tidak mungkin terbodohi, namun orang berpendidikan, akan sulit terbodohi.
_______ Neneng POV ______
Disinilah aku sekarang, di sebuah mobil yang kemarin mengikutiku, si hitam mengkilap.
Niatnya aku ingin menipu nya, eh malah aku yang tertipu.
Aku fikir aku sudah sudah berhasil menipunya, namun ia malah menipuku balik di panggilannya.
Dasar! Saus tar_tar.
Eh salah, mungkin ralat.
Dasar! Saus tomat.
Karena Pa Rido sekarang mulutnya sudah tidak terlalu pedas.
Ku lirik sedikit orang yang di sampingku ini, ia terlihat fokus menyetir.
Aku bosan, ini sudah hampir setengah jam kami berada dalam mobil seperti ini.
"Pa sebenarnya kita mau kemana ini," ucapku kesal.
"Memangnya ada yah? Penculik yang memberikan alamatnya pada yang di culik?" Ia menatapku remeh.
Ish!
"Ini penculilan spesial ya Pak?" Ah akan ku goda dia.
"Maksud kamu?"
"Iya penculikan orang spesial, makanya naik mobil, duduk santai, dan mata saya terbuka,"
"Ah ternyata bukan hanya bakso ku yang spesial, aku juga, terharu!"
Ku lihat yang di pinggir sudah nampak geram rupanya.
Ckiiiiit.
Mobil berhenti.
__ADS_1
"Pa kok berhenti?" Aku panik melihat ia mulai melonggarkan dasinya.
"Pa, Bapak mau apa! Jangan macam-macam!" Teriakku.
Ia membuka dasinya, dan membuka dua kancing teratas bajunya.
"Stop disana! Jangan mendekat," ucapku heboh.
Demi apapun, aku takut! Aku tak tau ini dimana.
Sial! Ku lihat ia semakin mendekatiku.
Aku semakin menyadarkan tubuhku pada sandaran mobil.
Ya tuhan, Neneng masih suci, ga rela walau pun dia Rido.
"Pa ... Pa!" Aku meronta kala ia mengikat tanganku dengan dasinya.
"Pa!" Ia seperti mencari sesuatu di penyimpanan mobilnya.
Ia mengambil dasi lagi? Berapa banyak ia mempunyai dasi, dasi yang ia pegang lucu.
Eeeh. Stop masalah dasi. Ia mendekatiku lagi.
"Pa!" Inginku mendorongnya jauh, namun tanganku sudah terikat.
Ia mulai menutup mataku dengan dasinya yang lucu barusan.
"Pa gelap!"
"Engga kok terang," ucapnya dengan nada tak bersalah sedikitpun.
"Pa kenapa bapa mengikat saya, dan menutup mata saya?" Aku histeris. Namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu gak spesial Neng, jangan Geer!" Dari nadanya. Ia mulai serius.
Yatuhan. Aku takut!
"Pa," ucapku masih meronta-ronta.
"Diam Neng, atau saya akan ngelakuin sesuatu," ancamnya membuatku semakin panik.
"Ga sopan! Dalam keadaan saya begini," ucapku kesal.
"Saya sudah minta izin dari Nenek mu Neng,"
"Remember?"
"Pa itu saya! Bukan Nenek saya, lepasin Pa!"
"Diam atau saya akan benar-benar melakukan sesuatu!" Ia membisikan kata-kata tepat di telingaku.
Aku mengalah. Aku diam, aku takut.
Hening.
"Pa sebenarnya saya mau di apain Pa?" Aku lemas bertanya padanya.
"Jual! Saya akan jual kamu!"
"APAAAAA!"
Bersambung ...
Wah Rido nyeremin yah!
Wilujeng enjing ...
Mana nih yang minta next kilaaaat ...
Ini udah sekilat salju! Eh selembut salju mah 😅😅😅
__ADS_1