Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 18


__ADS_3

#Kesombongan_Sang_Dosen_Muda


#Mbak_Neneng


                        Bagian 31


Minah, Ibunya Neneng sedikit mengerjap-ngerjap kan matanya.


Dia?


Dia?


Handoko?


Melihat kaca mobil nya di tutup, dengan segera Minah menarik tangan anak nya untuk menjauh.


"Bu ... kenapa?" Neneng tak paham mengapa ia langsung di tarik oleh ibunya.


"Lampu sebentar lagi hijau Neng, ayo ke pinggir!" Minah terus menarik tangan anaknya.


Mereka pun memilih mendudukan diri di sebuah bangku di pinggir jalan.


"Bu liat ... gorengan aku udah habis! Tadi ada yang borong," ucap Neneng bahagia.


"Rido?"


Neneng mengangguk.


"Ia pura-pura tak mengenalimu Neng?"


Minah hanya mencoba menebak. Namun siapa sangka, Rido memang begitu.


"Sudah Neng ... sekarang tanyakan saja berapa yang harus kamu ganti uang nya, kita cicil, jangan menyusahkan hidupmu Neng," ucap Ibunya.


Padahal, jauh di lubuk hatinya, Minah takut. Ia takut anaknya dekat dengan Rido, memungkinkan Neneng dekat dengan Handoko.


Minah tak ingin ambil pusing, tentang mengapa Rido dan Handoko saling mengenali.


Namun yang pasti Minah hanya ingin anak nya aman.


"Neng dengerin Ibu ...," ucap Minah.


"Iya Bu."


***


"Neng ... maaf," Rido mengenggam tangan Neneng.

__ADS_1


Saat ini mereka sedang ada di warung bakso nya Neneng, ini adalah jam mata kuliah, dan Rido memilih memberi tugas lalu ke sini.


Neneng tidak ingin menjawab apapun ocehannya Rido saat ini.  Cukup saja kemarin ia merasa 'sedikit' sakit.


"Lepas Pa, ini tempat umum," bisik Neneng mengingatkan.


Bukannya melepaskan genggaman nya Rido memilih menggenggam nya lebih erat.


"Saya tidak peduli," kekeh Rido.


Coba saja saat ini Neneng di temani Ibunya, namun ... Ibunya sedang sakit jadi ia hanya sendiri.


Terlihat mahasiswi mulai mengunjungi warung, Rido sedikit melepaskan genggamannya.


"Ekhem ... tunggu saya, nanti pulang bareng!" Rido melenggang pergi dari kantin, lalu menuju ruangannya.


***


"Berapa yang harus saya ganti Pa?" Neneng memulai percakapan mereka.


Saat ini mereka sedang berada dalam mobil, karena tadi Rido memaksa untuk mengantarnya pulang.


"Maksud kamu?"


Rido paham maksudnya, ia pintar.


Namun ia tak ingin hubungan ini di akhiri dulu, belum saatnya.


Neneng hanya melamun menatap jalanan yang di lalui nya.


Ia tidak bodoh, ia tahu Rido malu berpacaran dengan nya.


Lalu? Jika malu mengapa ia mau, itu tidak bisa di fikirkan dengan baik olehnya.


***


"Do ...!" Rido membalikan badannya mendapati seseorang memanggilnya dari belakang.


"Eh Ma? Disini? Sejaak kapaan?"


Rido mendudukan dirinya untuk menemani Ibunya.


"Tadi. Nih Mama sengaja masak spesial buat kamu!"


Rido sedikit memicingkan mata nya, tumben pasti ada maunya ini orang tua.


"Mama mau apa?" Rido yang sudah paham langsung menebak kemauan Ibunya.

__ADS_1


"Hehe kamu tahu aja Do." Ibunya menepuk bahu anakknya pelan, lalu menutup sedikit bibir nya.


"Pa Handoko suka sama kamu Do!"


"Astagfirullah Ma, Rido normal!"


"Gimana sih Rido, kamu ... maksudnya gini Om Handoko suka kamu sebagai partner kerja, katanya kamu enak di ajak ngobrol Do, dan ia berencana akan membuka cabang perusahaannya di sini, dan itu bisa di kelola oleh ayahmu, juga kamu, hebat kamu Do," ucap Mama nya kegirangan.


"Huft." Rido mengehela napas gusar.


Kenapa ia jadi terkait masalah bisnis seperti ini? Padahal ia tidak memiliki minat dalam perbisnisan.


"Jadi?" Rido langsung menanyakan intinya.


"Kamu kurangi jadwal kamu mengajar, dan kelola jalur bisnis juga Do," ucap Mama nya menyampaikan keinginannya.


Rido benar-benar tak habis fikir dengan Ibunya ini, menjadi Dosen adalah cita-cita nya namun Ibunya ya sudahlah ...


"Rido bisa nolak?"


"Kamu tau jawabannya Do," ucap Ibunya tertawa.


***


Minah, memutuskan untuk menggerakkan badan nya, ia rasa ia tak ingin lama-lama bermalas-malasan, kasihan Neneng.


Minah memutuskan untuk pergi berbelanja untuk kebutuhan besok, supaya Neneng tidak perlu berbelanja lagi.


Minah menunggu angkot yang akan di tumpangi nya, namun ia tak kunjung mendapati nya.


Kig ... kig.


Minah membalikan badannya mendapati klakson motor.


"Bu mau kemana?"


"Eh nak Danu, ini Ibu mau ke pasar," jawab Minah.


"Neneng kemana Bu?"


"Belum pulang, bener nih mau nganterin Nak?"


"Ayo Bu, berangkaat!" Danu bersemangat, langsung melajukan motornya.


Sebelum mendapatkan hati anaknya, ibunya dulu daah.


Bersambung ...

__ADS_1


Udah panjang dong ini heheh? Komennya juga panjang bisa? Heheh


Salam manis dari author alay heheheh 😅😅


__ADS_2