
#kesombongan_Sang_Dosen_muda
#Mbak_Neneng
Bagian 34
Handoko mengamati gerak-gerik seorang gadis yang ia yakini itu anaknya.
Neneng dengan wajah sedikit di tekuk nya berdiri di pinggir jalan menunggu angkot.
Dalam hati, sebenarnya Handoko sangat ingin menemui anak nya, namun ... itu hanya akan membuat anaknya terkejut.
Biar sekarang ia melihat dari kejauhan saja bagaimana kehidupan anak nya.
Handoko mulai menjalankan mobilnya melihat Neneng sudah memasuki angkot, Handoko tak punya acara hari ini, ia hanya ingin mengamati kegiatan anaknya hari ini.
***
"Ibu ...," teriak Neneng memanggil-manggil Ibunya.
Kemana Ibu? Mengapa ia tidak langsung keluar, biasanya jika Neneng pulang, Ibunya akan langsung menyambutnya.
Neneng memasuki rumah nya perlahan.
Lalu ia di kejutkan oleh keadaan Ibunya nampak tak sadarkan diri.
"Ibu!" Neneng panik sekarang.
Neneng menyesal tadi siang membiarkan Ibunya pulang duluan, dan ia tidak mengantarnya. Sudah tau Ibunya kurang sehat.
Dengan tergesa-gesa Neneng berlari keluar rumah meminta pertolongan.
"Tolong!"
"Tolong!"
Nampaknya sore ini lingkungan rumah nya sepi. Tak nampak seorang pun yang ia temui.
Neneng berlari ke arah warung, ahirnya ... ia menemukan orang disana.
"Pa tolong ... Bu, Ibu saya tidak sadarkan diri."
Mendengar ucapan Neneng dengan sigap mereka berlari menuju rumah Neneng, untuk membantu Neneng dan Ibunya.
__ADS_1
Dari kejauhan Handoko menatap heran keadaan di depannya. Ada apa ini?
Handoko membelalakan mata nya, saat Minah di angkut oleh seseorang dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.
"Minah!"
Handoko keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Handoko menghampiri sekumpulan warga yang sedang kebingungan mencari mobil.
"Mari naik mobil saya saja!"
Semua orang disana memandang Handoko termasuk Neneng, siapa dia?
"Maaf pak, tapi kami tidak mengenali Bapa, apa tidak apa-apa?" Neneng sedikit ragu untuk menerima bantuannya.
Yaampun Neng, ini ayaah!
"Jangan fikirkan itu ... ayo segera masukan ke mobil saya!" Handoko menunjuk mobilnya yang sudah siap di gunakan.
***
"Do ada apa ... kenapa kamu kaya gak senang gituh aku pulang?" Keysa menangkap raut wajah tak bahagia pada Rido akibat ke pulangannya.
"Maaf Key, engga ... aku hanya gak percaya saja kamu pulang cepat," ucap Rido tersenyum kecil.
"Maaf hey ... jangan marah dong! Cantik nya ilang," ucap Rido pelan.
"Do ... jadi kapan ... kamu mau melamarku?" Keysa kembali memulai percakapannya.
"Melamar?" Rido sedikit terkejut. Kenapa ia lupa, bahwa sepulang Keysa kemarin Rido akan segera melamarnya.
"Nanti kita bicarakan lagi ya Key!"
Untuk berpacaran dan bertunangan mungkin oke-oke saja, tapi untuk menikah Rido rasa ... Keysa? Rido sedikit ragu dengan Keysa.
Apa karena hatinya sudah terbagi, dan Neneng ...?
Astaga ... Rido melupakan Neneng, apa Neneng tau kejadian kemarin. Apa Neneng akan percaya kalau Rido bilang Keysa itu adalah adiknya? Ah mungkin ini ide yang bagus.
***
"Jadi Ibu saya harus segera di oprasi Dok?"
Neneng kebingungan sekarang, oprasi itu tidak murah, dan sekarang ia harus bahagaimana.
__ADS_1
Satu persatu tetangga nya mulai pamit undur diri, menyisakan Neneng dan Handoko.
Neneng keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang murung.
Neneng menatap heran melihat orang yang mengantarnya masih disini.
"Bagaimana ...?"
Handoko mendekati Neneng perlahan, dan menggenggam tangannya.
Neneng terkejut! Bagaimana bisa, orang yang baru saja di temuinya langsung dengan semena-mena menggenggam tangannya.
"Pa maaf!" Neneng melepaskan genggaman tangan Handoko.
"Ah iya maaf," ucap Handoko. Neneng nampak tak mengenalinya sama sekali, apa Neneng tak mengingatnya, padahal sewaktu membeli gorengan waktu itu, Neneng menatapnya.
Neneng terus memikirkan bagaimana solusi yang tepat untuk membantu ibunya.
Neneng menatap Jas yang di kenakan orang di depannya ini bagus! Mewah.
"Pa ... apakah bapa orang kaya?" Neneng ragu sebenarnya berkata seperti ini, namun ... ya sudahlah ia terpaksa.
Handoko tersenyum simpul, ahirnya Neneng bisa juga memulai interaksi dengannya.
"Ada apa?"
"Nama saya Neneng Pa! Jika bapa berkenan bisakah Bapa membantu biaya oprasi Ibu saya, keputusan nya harus hari ini juga, karena Ibu saya sudah benar-benar parah kondisinya," ucap Neneng terisak.
"Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi!" Handoko kesal. Apa yang sebenarnya ada di fikiran anaknya ini.
Handoko dengan sigap berlari menuju ruang administrasi untuk melunasi biaya pengobatan Minah.
Neneng yang tak tahu hanya menatap kecewa, ternyata semua orang kaya sama. Tidak ada yang berniat membantunya.
Namun sedetik kemudian senyum Neneng terbit mendengar ucapan dokter.
"Mbak tunggu disini, oprasinya akan kami mulai," ucap Dokter itu tersenyum.
"Ternyata orang tadi berbeda," ucap Neneng tersenyum simpul.
Sekarang Neneng harus lebih semangat lagi untuk berjualan, dan melunasi hutangnya.
Bersambung ...
__ADS_1
Ini udah kilaat banget gaes! Komen nya harus panjang pokoknya 😍