Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 2


__ADS_3

Gorengan 40 ribu bukan sedikit, Rido telah menghabiskan hampir 10 gorengan, "enak juga," ucapnya di sela-sela kunyahannya.


"Dek! Mau gorengan?" Rido memanggil seorang anak jalanan.


"Mau kak!"


"Abiskan yah! Bagi teman-temannya," ucap Rido. Rido mengelus rambut anak itu, dan ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya.


***


"Ibu ...!" Teriak Neneng dari luar.


"Kok udah pulang Neng?" Tanya ibunya keluar dari rumahnya, menyambut Neneng.


"Ada yang borong bu alhamdulilah,"


"Wah benarkah? Alhamdulilah Neng, sana istirahat, kamu cape kaan?"


***


Keesokan paginya ...


Neneng menatap bangunan megah di hadapan nya. Bagus, itulah menurutnya.


Neneng juga ingin kuliah seperti orang lain, namun, ah jangan berfikir seperti itu fikirnya, ia punya adik yang harus ia biayai.


"Gorengan Neng?" Ia mulai menawari mahasiswa yang berlalu lalang memasuki gerbang.


Neneng duduk di pinggiran gerbang kampus itu, dengan gorengan di samping nya.


"Gorengan Pa!"


Belum ada satupun yang membeli gorengan itu.


Rezeki itu tergantung usaha, orang memang banyak, namun usaha kurang, rezeki pun kurang.


Ah rasanya Neneng mulai lelah, apa ia pergi saja yah ke lampu merah lagi.


Di sela-sela lamunannya, Neneng terkaget oleh seorang satpam yang mendekatinya.


"Mbak gorengan nya 15000 yah," pintanya.


"Baik pak,"


"Mbak bisa menitipkan ke dalam kantin, daripada terdampar disini Mbak!" Satpam memberi solusi.


"Atau bisa juga ikut mangkal di kantin dalam kampus, dengar-dengar ada tempat kosong, sewa nya lumayan sih Mbak," ucap Satpam itu.


"Ah gitu ya pak? Saya boleh meminta nomor untuk menghubungi nya pak?"


"Mangga Mbak!"


Neneng melihat Mobil melewati gerbang. Dengan semangat ia menawari kembali dagangan nya.


"Gorengan Pak!"


"Mbak dagang disini? Ko ada dimana-mana sih," ucap Rido terheran-heran.


"Em iya Pak ini lagi coba aja siapa tau laris,"


"Oh ya lanjutkan, saya masuk dulu,"


"Cantik sih, tapi sayang tukang gorengan," ucap Rido dalam hati.

__ADS_1


***


Kurang lebih 3 jam Neneng berdagang, ahirnya ia menghabiskan gorengannya.


Mungkin, besok ia lebih baik berdagang disini lagi, karena ia tidak kecapean, juga dagangan laris.


Neneng segera membereskan dagangan nya dan segera berlalu pulang.


***


"Bu besok tambahin yah dagangannya!" Pinta Neneng semangat.


"Oh gitu Neng?"


"Iya bu aku seneng, mahasiswa nya pada baik-baik kok,"


"Kasian Neng kamu, harusnya kamu juga kuliah Neng," gumam ibunya pelan, tak terdengar oleh Neneng.


Bagian 4 :


Setelah mendapat nomor telepon dari pak satpam kemarin, aku menghubungi pihak kantin kampus untuk ikut berjualan, rencananya aku akan menambah dagangan ku bukan cuma gorengan saja.


Pihak kampus menyetujui nya, dan bisa menyewakan satu kios lahan kami berjualan, ibu juga berencana akan berdagang bakso dan mie ayam di sini.


Hari ini kami sedang bersiap-siap untuk berdagang, dan berangkat ke kampus pagi-pagi sekali, sebelum mahasiswa datang.


"Neng ... itu mie nya kamu simpen disanan!" Ibu menunjuk sebuah wadah kosong.


"Bakso nya juga Neng, mulai masukin ke air panas Neng!"


"Oke bu," jawabku antusias. Ya aku sangat antusias saat ini.


Lupakan soal aku ingin berkuliah dulu, sing penting hidup ku ga kekurangan nantinya.


***


"Bu baru yah jualan disini?" Tanya salah seorang mahasiswa yang mampir ke tempat kami berjualan.


"Iya Neng," ibu menjawab tak kalah antusias dariku.


"Mbak, saya gapake mie putih ya!" Pintanya padaku. Saat ini aku sedang membuatkan pesanan baksonya.


"Siap Mbak!"


"Wah wah wah, ada menu baru nih kayanya, semoga baksonya enak!" Seorang mahasiswa laki-laki mendudukan diri di tempat yang tersedia.


"Mau pesen apa Mas?" Aku menghampirinya untuk membuatkan pesanan nya.


Ia menatapku dari atas sampai bawah melihat-lihat penampilanku.


"Mbak pelayan?" Tanyanya.


"Iya, mau pesan apa?" tanyaku balik.


"Serius! Wah cantik banget sih Mbak! Kenapa mau jadi pelayan bakso,"


Deg.


Ucapan yang cukup menyayat hati bukan? Siapa yang tidak mau? Namun aku bukanlah orang mampu.


"Jadi Mas nya mau pesen apa?" Tanyaku lagi.


"Uh santai Mbak, pembeli adalah raja bukan?" Ucap ia dengan santainya.

__ADS_1


Ingin rasanya ku ketok kepalanya, jika kulihat-lihat umurnya memang seusiaku.


"Yaudah Bakso aja campur!" Ahirnya ia memberitahu pesanannya juga.


***


Hari ini hari yang sibuk, sekaligus menyenangkan! Karena bakso dagangan ibu dan aku laris.


Terimakasih ya allah. Rezeki memang sudah ada yang ngatur, aku bersyukur, tak perlu panas-panasan lagi, namun rezeki tetap ada. Ah aku bahagia.


Kulihat seorang pria sedikit dewasa mulai mampir kesini.


"Bakso Pak? Gorengan?" Tanyaku.


"Gorengan ... Eh. Mbak Neneng kan? Penjual gorengan lampu merah?"


"Ah iya," saat kuperjelas wajahnya, ah iya ini bapak kembalian.


"Di tunggu ya pak!"


Selang beberapa menit kemudian, aku membawa gorengan pesanannya. Meletakan di meja hadapan nya. Lalu aku berlalu pamit kembali.


"Mbak usia berapa sih, kok kayanya masih muda?"


"20 pak," ucapku cuek dan melenggang pergi.


"Nama saya Rido dosen disini," teriak pria itu dari belakang.


Ya terus kalau dosen memang kenapa? Toh aku bukan mahasiswa kok.


"Ah permisi pak, ada pembeli," aku pamit undur diri.


Kulihat dari kejauhan Rido namanya, sebagai wanita normal memang dia tampan. Aku normal, dan dia lumayan tampan, itu maksudku.


Tiba-tiba tatapan mata kami bertemu, Aku jadi menggeleng-gelengkan kepala sendiri, kenapa harus ku tatap terus wajahnya, jadi ketahuan kan.


"Neng?"


"Iya Bu?"


"Kenapa? Kok ngelamun?"


"Ah engga," elakku. Aku tak mau jika ibu tau aku sedang memperhatika dosen muda itu.


"Neng ... jangan menaruh harapan lain disini, kita hanya bekerja, tak lebih, jangan sampai kamu tersakiti ya,"


"Maksud ibu?" Aku tak paham kali ini.


"Dosen itu tampan, tapi tidak pantas buat kita," ibu menasihatiku.


"Apaan sih Bu, engga," aku membantah tebakan ibu yang memang benar. Apakah semua ibu itu peka terhadap anaknya? Bagaimana bisa ia mengetahui isi hatiku.


***


Aku mengelap meja bekas pengunjung tadi, kulihat para mahasiswa mulai keluar dari kelas menuju gerbang, ini memang sudah waktunya pulang.


Aku dan ibu juga sudah bersiap-siap akan pulang, setelah mahasiswa meninggalkan kampus.


"Bu ini udah, pulang sekarang?"


"Bentar Neng nunggu mahasiswa semua bubar dulu, itu peraturannya disini, jangan bentrok katanya,"


Neneng mengangguk, dan memilih mendudukan dirinya di kursi tempat pembeli.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2