Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 15


__ADS_3

#Kesombongan_Sang_Dosen_Muda


#Mbak_Neneng


                    Bagian 26


Pagi hari Neneng mendapati rumah dalam keadaan sepi. Neneng mencari Ibunya dari mulai dapur, kamar mandi, lalu kamar, namun ia tak melihat sama sekali Ibunya.


Melihat laci sedikit terbuka, membuat ia penasaran. Sebetulnya sejak saat Ibu nya mengungkapkan fakta bahwa Ayahnya masih hidup, Neneng sangat penasaran.


Dalam hati ia ingin memeluk Ayahnya namun tidak mungkin. Paling tidak ia hanya berharap ingin melihat nya, melihat untuk pertama kali.


Neneng membuka laci yang berada di kamar Ibunya. Namun ia tak menemukan apapun.


Lalu.


Ia membukan satu persatu lemari tua tidak menemukan apapun juga.


Apakah Ibu sebenci itu sama Ayahku?


Sedetik kemudian Neneng mencari lagi ke bawah tumpukan baju. Ia mengingat pengalamannya jika menyimpan sesuatu agar tidak mudah ketemu, di bawah tumpukan baju.


Amplop?


Neneng menembukan sebuah amplop berwarna coklat, apa ini?


Dan Ia pun segera membukanya.


"Hah?" Neneng menutup mulutnya sendiri saat melihat apa isinya.


***


Rido duduk santai di ruang tamunya menatap jam di pergelangan tangannya.


'Lama sekali,'


Rido berdiri dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya menuju jendela. Nihil. Tak ada seorangpun yang datang.


Neneng ... Dimana dia?


Rido mendudukan lagi dirinya menatap lagi jam yang ada di tangannya sudah lebih satu jam dari yang seharusnya namun ia belum juga datang.


Mulai ngelawan dia? Di baikin malah ngelunjak.

__ADS_1


***


Neneng menatap nanar pada Ibunya yang baru saja pulang.


"Bu dari mana?" Neneng langsung membrondongi pertanyaan-pertanyaan pada Ibunya.


"Habis jualan aja Neng, lumayan."


"Bu ini apa?" Neneng menunjukan amplop coklat yang berada di tangannya.


Melihat itu Ibunya diam membisu seketika.


Neneng tak kuasa menahan air matanya saat ini. Di peluknya tubuh Ibunya.


Kenapa nasib nya begini sekali.


"Bu ... kenapa Ibu gacerita kalau Ibu harus di oprasi ...," ucap Neneng menyesali dirinya sendiri.


"Bu ... jadi kemarin Ibu pingsan karena Ibu punya penyakit jantung?"


"Bu maafin aku. Aku kira Ibu sehat," ucap Neneng menangis tersedu-sedu.


"Neng." Ibunya merengkuh Neneng. Di usapnya puncak kepala anak nya.


"Neng tau gak, kenapa Ibu sangat melarang kamu dekat dengan dosen itu?"


Neneng menggeleng pelan.


Ibunya tersenyum, "dulu waktu Ibu menikah sama ayahmu, Ibu sangat di rendahkan oleh keluarganya karena keluarganya kaya. Ya tak jauh dari dosen itu ... Kaya."


"Ibu di sebut si miskin penyakitan," ucap Ibunya mengelus-ngelus Neneng.


"Mertua Ibu dulu, sangat menolak keras Ayahmu menikah dengan Ibu, karena Ibu miskin,"


"Ibu ingat saat itu ... Ibu tengah mengandung mu, lalu tiba-tiba Ayahmu meminta izin menikah lagi, dengan alasan wanita yang akan di nikahi nya sudah mengandung anaknya."


"Lalu?" Neneng mulai tertarik dengan cerita Ibunya. Ia melepaskan pelukan hangat Ibunya. Lalu ia beralih menatap Ibunya yang bercerita.


"Ibu mengalah, Ibu tau untuk di madu Ibu tak sesolehah itu. Ibu tidak bisa berbagi suami," jawab Ibunya.


"Kenapa Ibu nggak mohon sama Ayah? Ibu kan juga punya hak?"


"Buat apa Neng, Ayahmu telah menghianati kesucian cinta kami, Ibu tau Nenek mu akan lebih menyayangi anak itu di banding kamu. Dan nantinya kamu akan terancam, jadi lebih baik Ibu yang mengalah," jawab Ibunya mengusap sedikit air mata yang turun dari ujung matanya.

__ADS_1


"Lalu Erik? Anak siapa?" Neneng tak paham kali ini.


Pasalnya ia memiliki satu adik, sementara Ibunya menjanda.


"Erik itu anak adik Ibu," jawab Ibunya pelan.


"Cuma dari suami terdahulu, karena ia mau fokus dengan suami sekarang makanya ia memberikan Erik kepada Ibu. Kebetulan saat itu kamu selalu merengek meminta adik, dan Ibu bingung, kan Ibu janda!" Ibunya tertawa.


Namun Neneng paham. Di balik tawa itu tersirat luka yang sangat dalam.


"Bu mulai sekarang aku akan bekerja keras! Ibu harus sehat. Dan Ibu harus di oprasi," ucap Neneng semangat.


"Jangan di paksakan Neng gapapa. Lagian Ibu sudah tua, gapapa Ibu mati juga," ucap Ibunya santai. Lalu mendapat tatapan tajam dari anaknya.


"Ibu ...!"


***


Keysa menatap gusar jadwal kuliahnya,  ia menghela nafas nya berat mengingat semakin lama kuliahnya semakin padat.


Kapan ia akan pulang jika seperti ini?


Ia rindu, pada Rido.


Keysa menekan tombol panggil pada ponselnya. Namun ... hanya tersambung tidak ada yang menjawab.


Keysa galau, semakin kesini, Rido semakin cuek.


***


Rido berbinar mendengar dering telpon nya berbunyi. Ah ini pasti Neneng nih mau kasih alesan.


Keysa!


Mengecewakan, ia kira Mbak Neneng nya itu yang menghubungi.


Ponselnya terus saja berbunyi, namun hanya ia abaikan.


Ia terfokus dengan orang yang membuatnya kesal seharian ini.


"Lihat saja besok Neng!"


Bersambung ...

__ADS_1


Hai readersku semua ... kaya nya besok dan hari sabtu saya gabisa up deh. Soalnya saya akan melaksanakan UAS doain yaaa heheheh 😍


__ADS_2