Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 16


__ADS_3

#Kesombongan_Sang_Dosen_Muda


#Mbak_Neneng


                      Bagian 27


Aku sadar kita berbeda, saat ini aku dilema. Aku menyayangi Ibuku dan aku juga menyukaimu.


___________ Neneng POV_______________


Sepagi ini aku sudah duduk siap di kios bakso. Demi Ibu. Aku ingin sekali melihat Ibu sembuh.


Aku akan berjuang ... apapun itu, demi mu Ibu.


Tap ... tap.


Aku menoleh mendengar suara derap langkah dari belakang ku.


Dia lagi?


Bisa tidak ia berhenti menampakan wajah menyebalkan, yang sialan nya lumayan tampan itu! Aku dilema.


Apakah aku terlalu percaya diri jika Pa Rido menyukaiku?


Katakan ya saja jangan berdusta, aku tahu!


Tapi kalian lihat kelakuan nya. Wanita mana yang tidak terbawa perasaan melihat sikap nya padaku.


Meski ku tau, ia selalu menyisipkan ocehan-ocehan merendahkan orang lainnya.


Melihatnya yang juga menatapku hendak ku alihkan tatapan ku.


Sayang!


Ia malah menarik tanganku untuk berdiri mengahadapnya.


Tuhan tolong! Buat dia sombong lagi.


Jantungku berdegup kencang saat Ia memperkikis jarak di antara kami.


Stooop! Apa-apaan ini.


Dia?


Memelukku.


***


Sekejap ku terdiam di dekapan hangat nya. Lalu kemudian ku sadar ini salah.


Segera ku dorong dada nya untuk melepaskan rengkuhannya.


Namun, ia semakin mengeratkan rengkuhannya.


Apakah ia sedang galau hari ini?


Entah berapa lama kami akan terdiam saling memeluk seperti ini.


***


Kenyamanan ku terganggu saat ia tiba-tiba melepaskan rengkuhannya.


Ia mengusap-ngusap kepalaku. Lalu ia mendudukanku di kursi yang tersedia.


"Neng?"


"Hm?"


"Maaf!"


Ia mengenggam erat tanganku. Lalu sedikit mengusap-ngusapnya.


"Neng ... kamu tersiksa dengan saya yang selalu mengganggumu yah?"


Aku mengangguk pelan.


"Kamu kenapa jujur sekali Neng."


"Hah!"


Aku menatapnya tak paham. Memangnya barusan aku ngapain.


"Bisa ulangi pertanyaan nya?"


"Neng ... kamu bebas."


"Apa? Maksudnya?"


Aku benar-benar tak paham kali ini.


"Bebas memilih hukuman yang akan kamu terima!"


Deg.

__ADS_1


Kemana Pa Rido yang lembut barusan.


"Neng kenapa kemarin hari minggu tidak datang. Juga tidak mengabari, enak banget yah jadi kamu!"


Ucapnya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Saya jadi berfikir, mungkin saya akan minta kamu mengganti jas saya dengan hal lain saja, agar kamu segera menggantinya."


Pa Rido nampak sedang memikirkan sesuatu.


"Pa ... kemarin Ibu saya sakit, tolong maklumin saya Pa," ucap ku memohon.


"Akan saya fikirkan."


***


                      Bagian 28


"Ah ahirnya beres juga." Neneng menghela nafas lega saat cucian di Rumah Rido telah selesai.


Ia sebenarnya tak paham, mengapa baju yang masih bersih seperti ini harus kembali di bersihkan.


Rido memang luar biasa!


Menyiksanya.


Ini pekerjaan terakhir Neneng, setelah mencuci piring, mengepel, juga mengsetrika.


Ia melihat dirinya sendiri, baju nya yang lumayan kebasahan karena saking semangatnya mencuci.


"Apa Pa Rido tidak memiliki mesin cuci? Padahal mobilnya banyak, kenapa tidak di jual saja satu untuk membeli mesin cuci," ucap nya memikirkan Rido.


Ini baru sekitar jam 10 siang, dan Neneng sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Ia berniat pamit pada Rido, untuk berjualan kembali, lumayan uangnya.


Namun, melewati dapur membuat ia lupa, bahwa ia masih memiliki satu tugas yaitu memasak.


"Hm semangat!" Ia mengepalkan tangannya menyemangati dirinya sendiri.


Membuka kulkas disana ia lihat, telur, kentang, ayam, sayuran-sayuran lengkap.


Aah mungkin Rido sengaja, ia sengaja sudah sangat mempersiapkan siksaan untuknya hari ini.


Padahal ini hari minggu, di lapang bola jika berdagang pasti ramai, dan akan banyak yang mau membeli makanan.


Namun Rido? Ahh sudahlah.


Ia menghidangkan makanan nya ke atas piring, lalu ia menata nya di meja.


Semoga Pa Rido suka.


***


Satu jam berlalu, namun Rido tak kunjung turun. Padahal Neneng sudah ingin segera izin pulang.


Tadi pagi pun ia tak mendapati Rido saat ia datang, ia hanya di beri arahan oleh pak satpam apa yang harus ia kerjakan.


Ia kembali menatap makanan yang ia masak.


Ia memasak perkedel kentang dengan telur, juga memasak ayam goreng sambal merah.


Ia bukan koki, ia rasa ini cukup, karena Neneng memang tak mengetahui bagaimana cara memasak yang enak.


Jika masakan nya enak sudah di pastikan ia berniat membuka warteg yang akan lebih menguntungkan.


***


"Pa? Pa Rido kemana yah? Saya mau izin pulang."


Neneng yang kesal karena Rido tak kunjung turun, sementara sekarang sudah jam 12, ia ingin pulang!


Pak satpam menepuk dahi nya pelan, "walah Bapak lupa Mbak! Pa Rido berpesan, jika makanan sudah siap, tolong panggil ia di ruang kerja, karena pekerjaan nya masih banyak!"


"Oh gituh Pa? Dimana ruangannya?"


"Di lantai dua, di paling ujung Mbak!"


***


Sesampainya di lantai dua Neneng sedikit menutup matanya melihat ke lantai satu.


"Kok kaki aku berasa di tusuk-tusuk geli," ucapnya senyum-senyum sendiri.


Ia sedikit membuka matanya, lalu menutup lagi, membuka lagi, dan menutup lagi.


Setelah puas menatap pemandangan di bawah, Neneng segera beranjak menuju ruangan kerja Pa Rido.


***


"Ini apa?" Rido membalik-balikan perkedel di tangannya.


"Perkedel," cicit Neneng pelan.

__ADS_1


Apakah Rido tidak mengetahui itu? Neneng menjadi sedikit malu ini bukan makanan mewah.


"Perkedel? Saya ga kenal namanya saya gamau," ucapnya menaruh kembali perkedelnya.


"Kalau sudah di pegang jangan di simpan lagi Pa kotor!" Neneng mengambil kembali perkedel di tangan Rido lalu menaruh nya di piring kosong.


"Kalau yang kotor simpan di tempat sampah Neng jangan di piring bersih," ucap Rido memberi tahu.


"Cepat ambil piring bersih, lalu buang perkedel barusan!"


Dengan sedikit kesal Neneng melangkah ke dapur untuk menuruti permintaan Rido.


Memangnya kenapa jika ia tak kenal? Apakah semua orang yang asing di hatinya akan di buang juga olehnya?


Eeeh. Kok hati, hati dia terserah dia laah! Sing penting beres pekerjaan lalu pulang, Ibu di rumah.


Di sisi lain ...


Rido menggigit sedikit makanan sajian Neneng barusan, perkedel katanya.


Ia mencoba-coba. "Hem tidak terlalu buruk juga!" Ia sedikit merasakan tekstur dari masakan itu.


Tunggu, tekstur?


Rido itu dosen apa Chef sih.


Neneng kembali dari dapur lalu melihat Rido mengambil kembali perkedel di piring.


"Pak!" Neneng segera menyanggah tangan Rido yang akan menyentuh makanan nya itu.


Rido sedikit malu, pasalnya ia masih mau.


"Memang nya tidak boleh? Ini kan bahan makanan punya saya, di masak di kompor saya Neng."


"Tapi kaan ... eeeh!" Neneng terkejut.


"Sudah jangan bawel, mari makan!" Rido menarik Neneng untuk terduduk di samping nya.


Ahirnya Neneng pasrah untuk duduk. Ia cukup tergugah karena ada goreng Ayam.


Ia suka makan Ayam, namun sedikit di tahan karena memang Ayam itu mahal.


***


Sesudah makan Rido kembali memasuki ruang kerjanya.


Karena sekarang sudah beres UAS, dan banyak tugas mahasiswa yang harus ia periksa.


Namun saat hendak pergi ia merasakan sentuhan lembut di tangannya.


"Pa saya boleh pulang?" Neneng belum melepaskan pegangan tangannya.


Neneng berharap ia segera di perbolehkan untuk pulang.


"Boleh, silahkan," ucap Rido.


Neneng bahagia, lalu ia tersadar dengan sebuah genggaman erat di tangannya.


Rido balik menggenggam nya, lalu memberikan senyuman terbaiknya.


Neneng mengguncang-guncang kan tangannya, ia berharap Rido melepaskan genggaman erat di tangannya.


"Pa ...," ucap Neneng menyadarkan.


"Pa."


Bukannya tersadar Rido malah mendekatinya.


"Stop Pa!"


Neneng merasakan hawa panas mulau menjalar di pipi nya.


Neneng gugup sekarang. Yang ia lakukan hanya balik menatap Rido.


Entah kenapa sangat sulit mengalihkan pandangan dari orang di hadapannya ini.


Sedetik kemudian Neneng merasakan sesuatu mengecup keningnya.


Neneng mendokak menatap pelakunya. Siapa lagi jika bukan Rido. Pa satpam di luar.


Lalu Neneng sedikit bergidig geli saat merasakan sesuatu bisikan hangat di telinga nya.


"Kamu berhasil ...," ucap Rido pelan.


Bersambung ...


Berhasil apa yah kira-kira gaes ...


Hai semuaaa wilujeng siang! Maaf hari kemarin ga up aku bulak-balik revisi makalah keteteran tugas ahir, eeeh malah curhat hahaha ...


Pokonya like & komen nya ya gaes! See you next part!


Ini udah panjang ... komennya panjang juga yaacc 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2