Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 17


__ADS_3

#Kesombongan_Sang_Dosen_Muda


#Mbak_Neneng


                      Bagian 29


                    Rido Pov


Ku dengar Keysa tidak akan bisa pulang dalam waktu dekat karena ia harus menjalani pelatihan di sana.


Ia menegaskan bahwa akan hampir 6 bulan ia disana, dan ia ingin setelah selesai pelatihannya, aku segera melamarnya.


Masih ku fikirkan.


6 bulan, aku rasa waktu yang cukup untuk aku memulai hal yang sedikit gila ini.


Ku kecup pelan kening nya, "Kamu berhasil ...!" Ku bisikkan kata-kata itu padanya.


Ya dia berhasil membuatku ingin memilikinya walau hanya sementara.


Ku lihat pipi nya semakin memerah, apa itu tanda bahwa ia ... menyukaiku?


Ah siapa sih yang tidak menyukaiku, bukan begitu?


Masih berada di posisi yang sama, aku dan Neneng saling berhadapan.


Ku himpit tubuhnya menuju dinding, dia hanya diam membisu menampakan pipi nya yang merah.


"Pa ...," ucapnya pelan.


"Menjauh ...," ucapnya lagi.


Ia mendorongku agar menjauh, namun aku tak bergeming sedikitpun.


"Neng ..., saya menyukaimu."


"Kamu mau jadi pacar saya?"


Hal konyol yang ku lakukan hari ini memang salah. Salaah besar.


Namun, biarlah ... biar ku rasakan kebahagiaan ini walau hanya sementara.


***


Di tengah perjalanan kami hanya di hiasi oleh keheningan.


Sekarang kami berada dalam mobil, aku akan mengantarnya pulang, woaah masa iya calon pacar pulang tidak di antarkan.


Ku lihat Neneng hanya memainkan jari-jari kuku nya yang lentik itu.


"Neng ... kok ngelamun?"


Ia mendongkak, menatapku lalu menunduk lagi.


"Neng ...," panggilku.


"Hm," jawabnya.


"Saya suka kamu," ucapku menuntut.


Ya aku menuntut jawaban nya sekarang, pasalnya tadi ia hanya diam membisu saja.


"Jawab Neng," pintaku pelan.


"Memangnya tidak ada lagi wanita Pak selain saya, saya hanya perempuan miskin Pak!"


"Saya tidak pandang itu Neng," jawabku.


"Maaf saya tidak bisa Pak!" Ia hendak membuka pintu mobiku. Namun segera ku putar bahu nya.


"Saya tidak biasa di tolak! Kamu tidak punya pilihan," ucapku tegas.


"Ya, atau ganti jas mahal saya!" Aku segera menancap kan gas mobil ku.


Neneng berani sekali menolakku, itu sangat merendahkanku.


***


Sesudah mengantarkan Neneng pulang, ku putuskan untuk pulang ke rumah Mamaku.


Rasanya hari ini aku ingin memakan masakan Mama, dan sudah lama juga aku tidak bertemu dengan nya.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah, aku tak menemukan Mama di rumah, ku cari di dapur ternyata Mama dan Papa sedang menyiapkan makanan.


"Ma," panggilku.


"Eh Rido, tumben pulang, ayo makan!" Mama melambaikan tangan padaku.


"Ini ada apa Ma?" Aku melihat-lihat banyak sekali makanan tertata di meja.


"Ini loh Do, papa mau mengajak rekan kerja Papa untuk makan malam, kamu ikut ya! Sekalian nanti Papa kenalkan! Dia pengusaha sukses lebih dari Papa!"


Aku mengangguk antusias. Aku cukup menyukai pembicaraan-pembicaraan tentang bisnis, meski aku tak berniat terjun di dunia itu, membuat pusing.


"Kamu siap-siap dulu Do! Ganti baju ya," perintah Mama padaku.


***


"Ini Rido?" Pa Handoko menatapku.


"Iya om ini saya," jawabku terkekeh.


"Sudah besar saja kamu Do!" Pa Handoko memelukku, ia menepuk-nepuk punggung ku pelan.


"Hehe iya om, mari makan!"


Ku tarik kursi untuk tempat duduk nya.


Kami pun mulai makan, dan bercanda tawa.


***


"Main ke rumah Om ya nanti kali-kali!" Pa handoko berucap padaku.


"Liat nanti ya Om," kekeh ku pelan.


"Coba jika anak Om ada, sudah Om pastikan ia akan Om jodohkan dengan mu Do, kamu tampan dan ramah," ucapan Om Handoko membuatku mengernyit.


"Memangnya anak Om kemana?"


"Anak Om menghilang."


***


#Kesombongan_Sang_Dosen_Muda


#Mbak_Neneng


Neneng menghela nafas berat saat Rido barusan menelpon nya meminta jawaban.


Memang nya apa yang harus di jawab nya, ketika pilihannya hanya Ya, atau mengganti jass nya yang mahal itu.


"Ibu ... maaf," ucap Neneng pelan.


Setelah bercerita perkara ia dengan Rido Neneng hanya meminta maaf dan maaf, pasalnya ia telah mengecewakan Ibunya.


"Bu," panggil Neneng.


"Gapapa Neng, semoga saja Rido berbeda dengan Ayahmu," jawab Ibunya.


"Semoga Bu."


***


Dengan sedikit paksaan Rido hari ini mengunjungi kediaman nya Pa Handoko.


Jika bukan karena Ayah nya yang memaksa mungkin Rido tak mau. Ayahnya sengaja menyuruh Rido mengantar kan bingkisan oleh oleh dari sumatra minggu lalu.


Tok ... tok.


Rido mengetuk pintu rumah Pa Handoko pelan.


Lalu ia di sambut oleh pembantu yang ada di sana.


"Masuk Do!" Teriak Handoko dari dalam.


Rido melangkah kan kaki nya, ia melihat-lihat se isi rumah yang di kunjungi nya.


Mewah. Itulah fikiran nya.


"Ada apa Do, repot-repot kesini?"


"Ini Pa, ada sedikit oleh-oleh Ayah dari sumatra kemarin," jawab Rido.


"Wah terimakasih, tidak usah repot-repot," ucap Handoko.

__ADS_1


"Mau minum Apa Do?"


"Apa saja Om!"


Handoko melangkahkan kaki nya menuju dapur untuk menyuruh pembantu membuatkan minum.


Lalu ia berlalu ke kamar untuk berganti baju, karena ia merasa sangat gerah, baru pulang kerja.


Rido menegakkan dirinya, lalu ia melangkah-langkah melihat rumah ini.


Ia menatap pajangan-pajangan bunga, juga ada lukisan pemandangan disini.


Satu hal yang membuat ia ter fokus, foto seorang wanita cantik tengah tersenyum di dalam bingkai nya.


Rido menelisik wajah nya, siapa fikirnya, ia seperti tau namun ia lupa.


Rido mengabaikan nya, Rido memilih duduk kembali, sebelum Om Handoko datang kembali.


***


Neneng menyiapkan makanan untuk di jualnya, hari ini ia akan berjualan gorengan, karena belum terlalu sore.


Ia fikir berjualan di jalanan lagi, akan menambah penghasilan nya untuk mengumpulkan uang.


Neneng bersiap, akan pergi berdagang, namun dari kejauhan Ibunya memanggilnya.


"Neng!"


"Iya Bu?"


"Mau kemana?"


Neneng memutuskan untuk mendekati Ibunya dan berpamitan.


Namun Ibunya memberitahu jika ingin ikut Neneng berjualan agar Neneng cepat pulang.


"Ibu istirahat aja Bu," ucap Neneng.


"Engga Ibu ikut Neng!"


Dan ahirnya mereka berjualan bersama.


***


Lampu hijau berganti dengan si merah, Neneng bersorak ria, ia segera memutuskan ke jalanan untuk berjualan.


"Pa gorengan!" Neneng menunggu seseorang membuka kaca mobil nya siapa tau ia akan membeli gorengan.


Neneng sedikit membelalakan mata nya saat yang membuka kaca mobil itu ialah pacarnya.


Handoko menatap wajah penjual gorengan yang di depannya ini, wajah ini ...


"Do borong gorengan nya!"


"Om yakin?"


Handoko mengangguk, ia mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan.


"Mbak borong semua nya yah!"


Deg.


Bukankah katanya kami berpacaran, namun mengapa Rido pura-pura tak mengenali nya.


Neneng melupakan permasalahan pribadinya, ia memilih membungkus gorengan nya saja.


"Semuanya seratus ribu Pa!" Neneng sengaja tak menatap Rido.


Itu membuatnya sakit, seharusnya ia sadar, bahwa Rido hanya main-main dengan perasaan nya.


"Gausah di kembalikan!" Bisik Handoko pada Rido.


"Ini Mbak! Ambil saja kembaliannya," ucap Rido.


Lalu setelah mendapat gorengannya Rido menutup kembali kaca mobilnya.


"Jangan dulu di tutup!"


Handoko menepuk bahu Rido untuk meminta.


Namun saat kaca mobil di buka kembali Handoko sudah tak mendapati wajah itu lagi di sana.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2