Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 22


__ADS_3

Rido belum bisa ihlas untuk melepas Neneng begitu saja. Belum satu bulan ia bersenang-senang dengan Neneng, masa iya sekarang ia harus melepasnya lagi, its not true!


Padahal yang not true itu kelakuannya yang minus.


Rido berbinar melihat kantin kampus sepi, itu artinya ... ia bisa meminta maaf pada Neneng.


Entah apa yang di fikirkan Rido sebenarnya, bagaimana jika Keysa mengetahui semua kelakuan minus nya ini.


"Neng ...," panggil Rido pelan. Tak bisa di pungkiri, dalam hatinya Rido memiliki sedikit rasa bersalah.


Neneng yang merasa terpanggil berbalik menatap siapa pelakunya.


Tidak ada detak jantung yang kurang beraturan lagi sekarang. Neneng kecewa.


Neneng memilih mengabaikan Rido, ia terus saja mengelap meja yang ada di warungnya.


Sesekali ia mengecek botol kecap atau saus, siapa tau habis.


Rido geram sekarang, Neneng mengabaikannya. Ingin rasanya Rido marah tapi ... ia tau ia salah.


"Neng ... yang kemarin itu-" ucapan Rido sengaja dipotong oleh Neneng.


"Tidak perlu di jelaskan Pa! Saya tau kok artinya happy birthday!" Neneng masih dengan sikap cuek nya.


"Happy birthday itu ulang taun kan? Saya tidak punya kado apa-apa, maaf." Neneng memutuskan untuk mengecek persediaan bahan yang lainnya, siapa tau ada toge yang sedikit lagi atau yang lainnya.


"Bukan itu Neng ... soal wanita kemarin ... itu ...!" Rido seperti ada sesuatu yang menghalanginya untuk jujur.


"Dia adikku," ucap Rido beralasan.


"Cukup Pa, jangan bicara lagi, saya tidak peduli, silahkan tinggalkan saya, dan apa ya intinya anggap saja kita tidak ada hubungan apa-apa."


***


Neneng membuka ruangan rawat Ibunya, disana ia mendapati Pa Handoko yang telah membantu nya.


Neneng sedikit ragu untuk melangkah, ia mengecek dompetnya terlebih dahulu. Lalu Ia mendapati dua lembar uang seratus ribuan.


"Bapak ... sudah lama?" Neneng sedikit memelankan suaranya.


"Ah ya Neng, mari duduk!" Handoko mengajak Neneng untuk mendudukan dirinya di sofa yang tersedia.


Neneng melihat lagi kebalik kantong yang disana terdapat dompetnya.


Dengan ragu, ia mengeluarkan uang dua ratus ribuan lalu memberikannya pada Handoko.


"Pa sebelum nya saya minta maaf, ini hasil jualan saya hari ini ... saya ... em baru bisa menyicil dulu segini," ucap Neneng pelan. Ia takut Handoko menuntut nya, orang kaya kan memang begitu.


Handoko tertawa pelan melihat tingkah laku anaknya ini, ia terlihat lugu sekali.


Meski begitu ia akui Minah telah mendidik anaknya dengan baik, sehingga Neneng menjadi pribadi yang baik.

__ADS_1


"Simpan untuk kamu saja! Saya ihlas membantu kalian ...," ucap Handoko menenangkan.


Neneng menatap tak paham Handoko. Bagaimana bisa ... biaya operasi tidak murah loh, dan Neneng tidak mempunyai BPJS.


"Tapi Pak ...," ucap Neneng ragu.


Handoko merasa sudah tak tahan untuk berbohong di hadapan anaknya ini. Namun Handoko tidak ingin Minah membencinya. Ia ingin menunggu minah sadar terlebih dahulu.


Handoko memberikan senyuman hangat nya. Di dalam lubuk hati nya ia sangat ingin memeluk anaknya.


"Terimakasih banyak Pa!" Neneng benar-benar terharu kali ini. Ia seperti di pertemukan dengan malaikat di dunia nyata.


"Sekarang kamu pulang dulu ganti baju dan istirahat, biar Bapak jaga disini," ucap Handoko menyuruh Neneng.


"Apa tidak apa-apa?"


"Ya. Percayakan sama saya!"


"Terimakasih Pa! Saya tidak akan lama!" Neneng berlalu dengan senyumannya.


***


Neneng menunggu angkot yang lewat untuk di tumpanginya menuju rumah, namun ... nampaknya tidak ada angkot.


Mengingat hari sudah sore, mungkin tukang angkot juga sedang beristirahat.


"Huh!" Neneng mendengus. Ia tidak ingin lama-lama meninggalkan ibunya di jaga orang lain tapi ...


Kig ... kig.


Disini Neneng benar-benar heran dengan Rido, apa tunangan nya tidak memarahinya, atau jangan bilang ia bermain api di belakang tunangannya.


Ish! Itu sangat menyakitkan.


Neneng membuang pandangan nya ke sembarang arah, melihat-lihat angkot yang lewat, namun *** ada satupun.


"Turunkan egoismu Neng! Ayo saya antar pulang," ajak Rido.


Apa katanya egois, sekarang siapa yang lebih egois, dua perempuan di mainkannya.


"Maaf saya tidak kenal anda!" Neneng terus membuang pandangan nya kesembarang arah.


Rido menahan tawa nya, serius Neneng bisa lupa ingatan seperti itu.


"Hai cantik namaku Rido!" Rido mengajak Neneng bersalaman, dengan wajah ceria nya.


Neneng memutar bola mata nya malas, mengapa Rido di matanya terlihat bodoh sekali saat ini.


"Pa tolong ... tinggalin saya, saya gamau di anggap merusak hubungan orang lain!" Neneng sudah merasa sangat jengah.


"Wah ... hebat ... baru kenal sudah minta tolong hm?" Rido memainkan dagu nya dengan ekspresi berfikir.

__ADS_1


"Jangan bercanda lagi Pa! Tolong ... kita putus!" Neneng memutuskan mengahirinya pertama. Padahal jauh di lubuk hatinya ia merasa sakit. Karena ya ... ia sudah jatuh hati pada Rido.


"Putus? Jangan bercanda Mbak! Kita belum kenal kan, masa langsung putus? Pdkt nya belum loh!" Rido terus berusaha mencairkan suasana agar Neneng memaafkannya.


"Rido ...," panggil Neneng serius.


Rido takut kali ini, pasalnya Neneng tak pernah menyebut nama nya tanpa embel-embel seperi ini.


"Neng ... maaf!" Rido langsung menggenggam erat tangan Neneng.


Neneng dengan perlahan melepaskan genggaman Rido.


"Rido ... tolong ... tinggalkan saya, dan jangan temui saya lagi!"


Tak menunggu jawaban Rido Neneng segera berlari menjauji Rido.


Melihat ada taxi yang mendekat, dengan sigap Neneng masuk kedalam taxi itu.


"Pa jalan cepat!"


Rido frustasi. Sekarang ia berlari menuju mobilnya, namun terlambat.


Neneng sudah hilang dari pandangannya.


***


Neneng menghela napas lega tidak mendapati Rido mengejarnya.


Namun sedetik kemudian Neneng sadar, bahwa yang di naiki nya ini taxi, bukan angkot.


Neneng tersenyum malu, ia belum pernah menaiki taxi sebelumnya, kira-kira berapa yang harus di bayarnya, mengingat sekarang perjalanan nya sudah lumayan jauh.


"Pa stop di depan!" Neneng meminta berhenti saat sudah di rasa ini adalah kawasan menuju rumahnya.


"Berapa?"


"Sembilan puluh sembilan ribu," jawab sopir taxi itu.


Neneng memberikan selembar uang seratus ribu pada sopirnya.


"Mbak kembaliannya," ucap sopir itu menyodorkan uang seribu logam.


Neneng malu saat ini, melihat uang itu hanya seribu. "Kalau seribu sampai mana pak?" Neneng bertanya penasaran, pasalnya kalau naik angkot seribu itu jauh.


Sopir tersebut menunjuk jalan tiang di depan kami yang kira-kira jaraknya lima puluh meter lagi.


Neneng tersenyum pelan lalu, "di pas sin aja Pak, seratus ribu!"


Sopir tersebut tertawa lalu mulai menjalankan mobilnya lagi hingga argonya berubah menjadi seratus ribu.


Neneng langsung keluar dari taxi tanpa permisi. Mengingat kelakuan konyolnya Neneng tertawa pelan.

__ADS_1


"Lumayan jalan-jalan!"


Bersambung ...


__ADS_2