Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 24


__ADS_3

#Kesombongan_Sang_Dosen_Muda


#Mbak_Neneng


                     Bagian 37


                  Neneng POV


Aku berbinar melihat Ibu sudah sadarkan diri, Ibu telah berhasil melewati masa keritisnya, dan sekarang Ibu sedang di periksa oleh Dokter.


Aku ingat kemarin aku di beri nomor ponselnya Pa Handoko, ia berpesan jika Ibu sadar, aku harus menghubunginya.


Sedikit aneh memang, dia orang lain, mengapa harus ku beri tahu? Tapi ... meski begitu ialah malaikat bagiku, jika tak ada ia Ibu tak tau gimana.


Aku memutuskan untuk mengiriminya pesan singkat, aku tak terlalu pandai dalam berbicara karena em takut ga sopan.


Aku lansung menegakkan diriku saat melihat dokter keluar dari ruangan rawat Ibu.


"Bu Minah sudah bisa di jenguk silahkan!" Dokter itu tersenyum lalu berlalu.


Dengan semangat aku membuka pintu, kulihat Ibu tersenyum padaku.


"Ibu ...," teriakku. Aku tak tau seberapa bahagianya aku sekarang.


"Neng." Ibu mengusap tanganku yang menggenggam nya.


"Ahinya Ibu sadar, Bu Neng kangen ...," aku terus mencium pergelangan tangan Ibu yang di impus.


Sedikit sakit memang melihat Ibu terbaring lemah seperti ini, namun semoga saja tak lama setelah ini Ibu sehat kembali.


Ceklek.


Aku dan Ibu langsung mengalihkan pandangan kami menuju pintu.


Pa Handoko, ternyata ia benar-benar kesini. Pa Handoko membawa sebuah parsel buah yang disana terdapat apel merah. Emm aku jadi pengen.


Semoga Pa Handoko cepat pulang.


Eitss bukan aku mengusir yah, aku ingin minta apel nya nanti, kan kalau ia masih ada aku malu.


Aku beralih menatap Ibu kembali, dan kulihat sekarang Ibu terdiam.


"Bu ... kenalin ini orang yang telah menolong kita!" Aku sengaja berdiri, lalu membingbing Pa Handoko agar mendekat pada Ibu.


Ibu terdiam, ia malah membuang pandangannya. Aku tak mengerti sekarang, mengapa Ibu tidak berterimakasih.


"Bu ... Ibu gak ucapin terimakasih?"


Aku merasa tak enak dengan Pa Handoko sekarang, tatapanku beralih padanya.


Namun, aku terkejut.


Pa Handoko meneteskan air mata-nya. Dan tak lama kemudian kudengar Ibu juga terisak.


Ada apa ini?


***


Mereka terisak pelan cukup lama, aku tak tahan, ada apa ini sebenarnya.


"Bu ... Pa ... kenapa kalian menangis?"


"Neng," panggil mereka berdua secara kompak.


Ibu berusaha meraih tanganku yang lumayan jauh darinya. Aku yang mengerti langsung mendekati Ibu.


"Pa Handoko yang terhormat ... bisa kah anda meninggalkan kami!" Ibu menggenggam tanganku erat.


"Ibu ... Ibu apa-apaan!" Aku menatap Ibu tak paham.


"Ibu dia yang menolong Ibu," ucapku.


"Minah ...!" Pa Handoko berucap lirih.


Tunggu. Tunggu ... aku belum memperkenalkan Ibu loh sebelumnya, tapi mengapa Pa Handoko tau Ibu.


"Minah ... sekarang aku disini, maafkan aku ... bisa kamu perkenalkan siapa aku pada Neneng?" Pa Handoko mulai melangkah mendekati Ibu.


"Tidak perlu!" Aku memutuskan untuk menengahi.


Pa Handoko dan Ibu serentak menatapku.

__ADS_1


"Aku sudah kenal Bapak kok," jawabku tersenyum.


Ibu menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya, dan Pa Handoko menatapku berbinar.


Sungguh aku hanya lulusan SMA tidak mengerti arti tatapan-tatapan seperti itu.


"Serius Nak kamu mengenal-"


Sengaja ku potong ucapannya, "bapak, Pa Handoko kan? Bapak lupa kita kan sudah berkenalan?" Aku tersenyum meyakinkan Pa Handoko. Ia memang benar-benar aneh padahal kami belum lama berkenalan.


"Neng ...," ucap Ibu pelan. Aku menatap Ibu, Ibu kembali mengeluarkan air mata nya lagi.


"Ibu rasa ini sudah waktunya."


Waktu apa, aku semakin tak paham dengan keadaan ini sekarang.


"Handoko ... dia ..., Ayahmu!"


Deg.


Ayah?


Pa Handoko?


Sekarang tatapanku sedikit demi sedikit beralih menatap Pa Handoko. Dia ... Ayahku?


"Bu ... Ibu jangan bercanda!" Aku menuntut penjelasan kali ini.


Ibu menggeleng pelan, lalu tersenyum. Ibu meraih pergelangan tanganku, lalu menyatukan pergelangan kami bertiga.


Pada ahirnya aku dan Pa Handoko kami saling menatap. Inikah Ayahku yang selama ini ku rindukan?


"Mas ... maafkan aku, terimakasih telah menyelamatkan nyawaku, dan aku tak ingin kita selalu larut dalam pertengkaran. Ini Neneng ... anak yang sangat kamu rindukan."


Mendengar penjelasan Ibu aku masih dalam keterdiamanku. Aku tak tau sekarang aku harus tersenyum apa menangis?


Aku terkejut saat di tengah lamunanku Pa Handoko memelukku erat. Ia mengusap-ngusap punggungku.


Aku hanya diam mematung, aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Ku tatap Ibu, dan Ibu tersenyum.


Ya tuhan ... apakah ini awal dari keharmonisan keluarga ku?


Cukup lama kami berpelukkan, aku tak ingin berpanjang-panjang. Kulihat Ibu menerima Ayah kembali, mengapa aku tidak?


"Neng ... maafin Ibu ya Nak ... Ibu baru jujur sekarang ...," ucap Ibu pelan.


Aku menggeleng, lalu aku genggam tangan kedua orang tuaku dan menautkannya kembali.


"Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang benar, di masalalu semua takdir. Yang perlu kita syukuri adalah saat ini, kita mendapat kebahagiaan kembali!"


"Ayah ...," panggilku pelan. Aku tak kuasa menahan air mataku kembali.


Aku masih ingin memeluknya erat, kami terpisah cukup lama.


Kulihat Pa Handoko juga begitu ... ia kembali meregangkan tangannya, dan memelukku.


***


Setelah isak tangis haru bahagia, Pa Handoko izin pulang untuk berganti baju dulu. Boleh tidak yah sekarang aku panggil ia ayah? Apa tetap Bapak saja.


Melihat kepulangan Pa Handoko, aku segera mendekati Ibu kembali.


"Bu ... Neng mau apel!" Aku sangat malu. Tetapi sungguh aku sangat ingin apel itu warnanya merah.


Ibu tertawa pelan. "Ibu tau, tadi kamu sudah melirik-lirik terus Neng ... apel kan kesukaan kamu, tapi kamu jarang memakannya, karena tidak ada uang untuk membelinya, habiskan Neng!"


Aku terkikik, Ibu benar, aku memang suka apel yang warnanya merah.


***


Aku sepakat untuk bergantian menjaga Ibu dengan ... em Ayah. Aku senang sekali hari ini, semua terasa mimpi.


Aku masih menggigit apel yang tinggal setengahnya di tanganku, tak lama aku mendengar pintu dibuka. Apa Pa Handoko sudah kembali?


Aku sedikit berlari menuju kamar mandi, perutku rasa nya kurang enak, apa karena aku makan 3 buah apel dan semuanya hampir habis?


***


Cukup lama aku di kamar mandi, aku mendapati Ibu yang sedang mengobrol dengan Pa Handoko.


"Bu ... Pa, aku pamit pulang dulu yah? Mungpung masih siang," pintaku.

__ADS_1


Pa Handoko langsung berbalik, ia menegakkan dirinya.


"Jangan jualan lagi Nak!"


Aku menggeleng. Sebenarnya ini hari minggu aku akan memebereskan rumah Pa Rido, mengingat aku sudah memutuskan hubungan dengannya kemarin, jadi aku harus kembali menjadi pembantu di rumahnya.


"Mas ... boleh tidak ... sekali lagi kami meminta bantuanmu?" Ibu mengajak berbicapa Pa Handoko.


"Jangan bicara seperti itu Neneng anakku juga, aku taakan rela Neneng di perlakukan semena-mena."


"Tunggu disini!" Pa Handoko menahanku pergi dan ia keluar.


***


Cukup lama aku menunggu, aku sudah sangat gelisah mengingat sekarang sudah hampir siang, sudah telat tiga jam.


Mana Pa Handoko ... Ibu melarangku pergi sebelum Pa Handoko kembali.


Aku menghela napas lega mendengar ganggang pintu mulai dibuka.


Kulihat pa Handoko membawa sebuah paperbag biru, dan tak lama ia memberikannya padaku.


"Ini apa Pak?" Aku menerima paperbag itu.


"Itu baju, sekarang Neng mandi, dan ganti dengan baju itu!" Pa Handoko mendorongku untuk memasuki toilet kembali. Dan dengan patuh aku langsung menuruti nya.


***


Aku menatap baju yang kukenakan sekarang, ya isi paperbag itu baju, baju dress yang bagus. Warnanya Biru, dan panjangnya selutut.


Aku keluar, mendapati Ibu yang berbinar bahagia menatapku. "Neng ... kamu cantik!" Ibu memujiku membuatku tersipu.


"Sekarang kamu sebutkan nominal jas nya Pa Dosen itu Neng!"


Aku terbelalak, apa maksudnya Ibu? Apakah Ibu akan meminta pada Pa Handoko?


"Bu!" Aku memberi kode agar Ibu jangan seperti itu.


Pa Handoko memberiku sebuah amplop coklat, "itu ada dua puluh juta, segera lunasi hutangmu Nak!"


"Tapi Pa ... itu terlalu banyak ...," cicitku pelan.


"Ya sudah sesuaikan saja, sisa nya buat uang jajan." Pa Handoko tetap kukuh memberiku amplop coklat itu.


Aku sedikit ragu, aku menatap Ibu meminta persetujuan, dan kulihat Ibu memberi senyuman.


"Ambil saja Neng, Ibu sudah sepakat dengan Ayahmu!"


***


Aku diantar oleh supir Pa Handoko, eeh Ayah. Pa Handoko tadi meminta agar aku memanggilnya ayah. Terasa aneh memang, tapi ternyata ia memang Ayahku.


Kalian tau tujuanku bukan? Kemana lagi kerumah pacar lah! Eeeh. Salah jangan berharap Neng dia sudah bertunangan.


Sesampainya disana, karena satpamnya sudah mengenaliku ia langsung mempersilahkanku masuk, meski ia sedikit menatap heran padaku.


Aku mengetuk pintu, cukup lama ... sampai akhirnya dia! Pa Rido membukakan pintu.


Tak ingin berbasa basi lagi langsung ku serahkan amplop itu. Tetapi ia malah menarikku untuk masuk ke rumahnya dan mendudukan diriku di sofanya.


Ia bertanya terus menerus apa isi dari amplop itu, padahal aku sudah menjawabnya itu uang. Tetapi ia malah menekankan bahwa ia tak butuh uangku.


Ya tuhan ... ini mau bayar hutang loh? Mengapa ribet sekali. Banyak orang di luar sana yang ingin hutangnya di bayar.


Dengan sedikit geram aku menekankan, bahwa aku sudah tidak ingun memiliki sangkutan apapun dengannya.


Namun, ia malah menuduh bahwa uang itu hasil curian! Apa? Aku engga gitu ya meski miskin aku memiliki iman, tidak mungkin aku sampai mencuri uang.


Lalu selanjutnya ... ia mengklaim bahwa uang itu hasil aku menjual harga diri.


Deg.


Ini sudah keterlaluan, aku tak kuasa lagi menahan nyeri di dadaku.


Plak! Aku menamparnya. Aku tau aku memang miskin, namun aku tak serendah itu, sakit rasanya sakit sekali di rendahkan seperti ini.


Aku langsung berlari meninggalkannya, terserah ... ia mau buang atau apakan uang itu, yang jelas urusanku sudah selesai.


Ibu benar ... aku akan menjauhi Rido mulai saat ini, karena selain sombong, ia memang  benar-benar pria yang menyakitkan!


Bersambung ...

__ADS_1


Woaaahh ini part panjang banget! Kebangetan kalau gak komen nih😂


Terjawab sudah rasa penasaran readers terzheyengg ku hihihi. Sonten yah! Like dan komen pokoknya!


__ADS_2