Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 4


__ADS_3



\_\_\_\_\_\_



Tok ... tok.



"Siapa?" teriak Rido dari dalam ruangan nya.



"Bakso!" seru orang yang berada di luarnya.



"Neneng," gumamnya pelan.



Ekhem. Ekhem, "Masuk!" Rido sedikit menaikan nada suaranya.



"Pak ini bakso nya," seorang wanita paruh baya menyimpan semangkuk bakso di meja kerjanya.



"Loh? I. Iya simpan Bu, nanti saya bayar sekalian antarkan mangkoknya," ucap Rido.



"Baik pak," wanita paruh baya itu mulai undur diri dari ruangan nya Rido. Meninggalkan Rido yang tampak dengan kekecewaannya.



"Ku kira Neneng!" umpatnya kesal.



\*\*\*


"Neng Pak Rido itu susah senyum yah?" tanya ibunya.



"Eeh Ibu salah! Pak Rido itu bukan susah senyum, tapi emang gabisa senyum," Neneng mengajak bercanda ibunya.



"Ish," Ibunya menepuk pelan bahu nya Neneng.



"Jangan gitu, nanti kita bisa terkena masalah di kampus Neng, ngeledek dosen," Ibu nya mengingatkan. Neneng menganggukan kepalanya, benar.



Ibunya benar, Neneng tak mau sumber penghasilan, dengan kapasitas kerja tidak berlebihan ini sampai rusak.



"Iya Bu," cicit Neneng pelan.



"Bu gorengan nya abis?" seorang mahasiswa datang menanyakan keberadaan si hangat nan glowing itu.



"Ah iya, Ibu belum menggoreng lagi, mau nunggu atau gimana?" tanya Ibu Neneng yang bernama Minah itu.



"Nunggu aja deh Bu,"



\*\*\*



"Kok tadi bukan Mbak yang nganter?" tanya Rido. Rido sedang mengantarkan mangkuk sisa makannya.



Ia juga berniat membayar baksonya tadi. Ia memberikan satu lembar uang limapuluh ribu.



"Nih kembaliannya," tanpa menjawab, Neneng memberikan uang kembaliannya.

__ADS_1



Ia berlalu kedepan untuk membereskan mangkuk\-mangkuk sisa.



Saat ini memang sudah waktunya masuk, namun dosen yang satu ini memang tak tau waktu.



"Ada yang nanya tuh jawab Mbak, judes amat! Baru pedagang gorengan juga, eh sekarang sudah naik level yah, jadi Mbak Neneng si tukang bakso!" Rido berucap dengan sedikit emosi. Pasalnya ia memang tidak biasa di abaikan oleh siapapun.



Neneng berkaca\-kaca, ia merasa ada satu kata Rido yang mengguncang hatinya. Mengingat keadaanya, oke ia sadar, bahwa ia memang tidak pantas di hargai.



"Kalau sudah tidak ada yang mau di beli, silahkan pergi dari sini," ucap Neneng dibuat selembut mungkin.



"Mbak Neneng, pembeli ad\-"



"pengganggu!"



\*\*\*


Rido POV



Terlahir dari keluarga berada, dan bertakdir menjadi orang yang di manja membuatku memiliki sifat tak ingin di bantah.



Pada awal pertemuan kita, mungkin kalian terkagum\-kagum padaku. Kagum sebagai dosen muda nan tampan.



Entah apa yang membuat para mahasiswa tergila gila padaku, padahal aku adalah dosen yang sedikit kejam.



15 menit sebelum pelajaran di mulai para mahasiswa sudah harus berada di ruangan, tugas selambat\-lambat nya di kumpulkan dua hari sebelum deadline, lalu untuk apakah deadline?




Namun ya itulah saya, jika kalian beranggapan bahwa saya yang terbaik kalian salah.



Saya memiliki kriteria wanita di atas standar, saya suka wanita sexy, nan glamour, itu pertanda bahwa ia merawat dirinya.



Itu sebelumnya, namun sekarang? Entah kenapa belakangan ini Neneng si Mbak\-mbak tukang gorengan lampu merah itu selalu ada di fikiranku.



Aku curiga ia memasukan bumbu\-bumbu cinta pada kuah baksonya itu, dan membuatku selalu memikirkannya.



Entah kenapa selera wanitaku menurun, namun kalian jangan hawatir, aku punya keysa, keysa adalah tunanganku.



Keysa memenuhi kriteria ku ia cantik, ia pandai merawat diri, namun menurutku ia tak pandai merebut hati.



Hatiku contohnya, sudah setaun bersama, namun aku tak kunjung cinta.



Jika bukan karena desakan orang tua, dan penampilan keysa mana mau aku di jodohkan.



\*\*\*



Ditengah penantianku melihat Mbak Neneng yang gemesin menurutku, aku kecewa.



Kecewa ternyata ibunya yang mengantarkan bakso nya, awas saja berani sekali ia padaku.

__ADS_1



Segera kulangkahkan kakiku menuju tempat berdagangnya, ku keluhkan semua kelakuannya, namun ia? Mengabaikanku.



Karena sudah tersulut emosi dengan nada yang 2 tingkat diatas normal, "ada yang nanya tuh jawab Mbak, judes amat! Baru pedagang gorengan juga, eh sekarang sudah naik level yah, jadi Mbak Neneng si tukang bakso!" aku berucap dengan sedikit emosi. Pasalnya aku memang tidak biasa di abaikan oleh siapapun.



Dia masih mengabaikanku pemirsa lihat! "Neneng pembeli ad\-"



"Pengganggu!" Teriaknya kencang. Lalu ia meninggalkanku sendiri.



Dasar Mbak\-Mbak menyebalkan. Rasakan, satu pelanggan setianya mungkin akan hilang.



\*\*\*



Pagi ini aku terburu\-buru, bagaimana bisa aku kesiangan?



Ah mengingat banyaknya tugas dari kampus membuatku gadang semalaman, dan berahir kesiangan.



Tanpa sarapan, segera ku memasuki mobil dan melajukannya kencang, aku tak mau di cap masih muda kok tak tau waktu.



Brukkk.



"Aw!" teriakku. Aku kepanasan.



Apa ini? Kulihat kuah bakso si Mbak\-Mbak itu tumpah pada jas hitamku.



"Mbak liat\-liat dong kalau jalan gimana sih lihat jas saya!" Ucapku kesal.



Kulihat jam tangan yang melingkar di tanganku, masih ada waktu 15 menit sebelum masuk.



"Maaf Pak!" ujar nya.



Enak saja, masih ada waktu 15 menit loh ini buat ngerjain dia, "saya gamau tau, kamu harus bertanggung jawab, ini jas saya mahal!" tekanku padanya. Matanya melotot, aku tau kelemahannya.



"Ta. Tapi Pak, saya tidak ada uang jika harus menggantinya, bagaimana jika saya cucikan?" tanyanya.



"Cucikan? Kamu yakin bisa, baju saya beda perawatan dengan baju kamu ini," ucapku memegang sedikit bajunya.



"Saya bisa, saya dirumah suka kuli mencuci, dan saya pernah mencuci jas Pak!" ucapannya membuatku terbelalak.



Kuli mencuci? Di usia muda nya, ia kuli mencuci, kenapa hidupnya lebih parah dari yang kubayangkan.



"Baik," ucapku. Kulepaskan jas ku, dan memberikannya.



"Tolong bersihkan, besok saya harus sudah melihatnya di ruangan saya," ucapku.



"Baik pak," setelah mengambil jas punyaku, dengan tergesa\-gesa ia berlari meninggalkanku.



"Kita akan sering bertemu,"

__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2