
Rido pov
"Em bakso nya enak juga," gumamku pelan.
Entah karena pedagang nya cantik atau memang bakso nya yang enak.
Mbak Neneng ini, memang cantik menurutku, ia memiliki tinggi yang cukup, dan badan yang ideal menurut versi kami para lelaki.
Selain dari kemandirian nya, ia juga sedikit mengagumkan, dengan sikap ramah nya dalam melayani pembeli cukup menarik perhatianku.
Salahkah aku jika tertarik dengan nya? Ah tidak-tidak, kami belum lama bertemu, aku perlu meyakinkan hatiku.
Yang jadi masalah terparah nya, dia hanya tukang gorengan yang sekarang menjelma jadi pelayan bakso kampus, mau gimana nanti ibuku menerima?
Aku belum terlalu tua untuk melajang, juga aku memang sudah memiliki calon, jadi mengapa harus memikirkan Mbak Neneng ini. Ah dasar!
-☆☆☆-
"Anak-anak tolong tugasnya kumpulkan ke ruangan bapak yah!" aku memberi pengumuman pada mahasiswaku.
"Baik Pak!" Mereka menjawab dengan serempak.
Ku bereskan barang-barangku, dan segera melangkahkan kaki keluar dari kelas.
Aku lapar. Apa aku jajan bakso saja yah? Lumayan liat Mbak Neneng.
Eh. Tuhkan dia lagi, terkadang hatiku memang mudah berubah-rubah.
Aku tak pernah mempunyai hubungan yang lama, selalu di landa bosan.
Meski saat ini aku mempunyai pasangan, yang ... eh tidak! belum saatnya ku beritahu pada kalian.
Aku memilih pergi keruanganku saja untuk mengistirahatkan otaku.
Tok ... tok.
Kudengar pintu ruanganku di ketuk, "masuk!" Perintahku.
Saat aku menengok siapa yang masuk ternyata Neneng!
"I. Ini pak ada yang memesankan ini untuk bapa, katanya antarkan saja keruangan," ucapnya memberitahuku.
"Siapa?"
"Mahasiswi Bapa, saya juga tak tau," jawabnya menggaruk kepala.
"Baik simpan disana!" Perintahku menunjuk meja kosong.
Ia melangkahkan kakinya mendekatiku dan menyimpan mangkok berisi baksonya disana.
"Pak ... maaf jika sudah makannya boleh bapak titip ke mahasiswa yah, atau antarkan ke kantin,"
"Kamu menyuruh saya? Tunggu disini sampai habis! Saya tidak punya banyak waktu untuk mengantar, atau menitipkan mangkok baksonya,"
"Ta-"
"Pembeli adalah raja Mbak Neneng," aku sengaja menambahkan senyum jail di ahir kata-kataku.
Kulihat perubahan di wajahnya, ah berhasil! Ia nampak kesal.
10 menit berlalu, dan baksonya masih belum habis dari mangkoknya.
Sengaja ku perlambat memakannya, aku senang menatap wajah kesalnya.
Ia masih memberengut kesal dengan wajah cantiknya, cantik? Ya cantik, tak dapat ku pungkiri ia memang cantik, kalau bukan tukang bakso! Eeeh.
Setelah ku habiskan semangkok bakso tadi, ia nampak cerah kembali.
__ADS_1
"Sudah Pak?"
"Ya," jawabku mengelap sudut bibirku, "berapa?" Tanyaku.
"15 ribu saja pak!" serunya.
"Uang tunggu nya berapa?" Tanyaku lagi.
"Ah tidak usah tidak papa!"
Aku menyodorkan uang 50 ribu kepadanya. Namun tak kunjung ia ambil.
"Pa maaf, ada uang pas? Saya tidak bawa kembalian," keluhnya.
"Ya kamu ambil dulu lah, nanti antarkan kembali ke ruangan saya,"
"Pak ...,"
"Pembeli adalah raja Mbak Neneng!"
***
Tok ... tok.
Suara ketukan pintu terdengar oleh Rido.
"Masuk!"
"Ini Pak ada titipan uang dari Mbak Mbak tukang bakso,"
"Bilang sama Mbak-mbak nya, saya mau kembalian nya di belikan bakso lagi saja, lalu bakso nya tolong antarkan ke pak satpam, sama tukang kebun!" pinta Rido.
"Baik Pak, permisi,"
***
"Apa?"
"Makasih yah," ucap Neneng. Ia memasukan uang kembaliannya kedalam saku. Lalu ia mulai membuat baksonya kembali.
"Mentang-mentang kaya, seenaknya nyuruh," desis Neneng.
Hatinya bergejolak panas, bagaikan kuah bakso. Tanpa sadar bukannya menuangkan air ke mangkok malah tangannya yang terkena.
"Ahhhhh panas panas panas," ucap nya terkejut. Ia mengkibas kibas kan tangannya kepanasan.
"Neng kenapa?" tanya ibunya.
"Bu tangan aku, panas,"
"Sana ke toilet, basuh sama air dingin,"
"Iya bu," Neneng segera berlari menuju toilet.
"Neneng ... ceroboh banget sih," gumam Ibunya pelan melihat kelakuan anaknya.
***
"Jadi kapan kamu pulang Key?" tanya Rido kepada seseorang di seberang sana.
" ...,"
"Ah ... tidak apa jika begitu,"
"...,"
"Ya semoga harimu menyenangkan,"
__ADS_1
'Kenapa hatiku malah bahagia, mendengar ia akan pulang lebih lama lagi?' Gumam Rido dalam hatinya.
Saat sibuk berumam sendiri, tiba-tiba Rido mendengar ketukan di pintunya.
"Masuk!"
"Pa ... sekarang ada mata kuliah di kelas kami," salah seorang siswa memberi tahu Rido.
"Ah mohon maaf saya lupa, baik lima menit lagi saya ke kelas," jawab Rido.
Rido mulai menyusun barang-barang bawaan nya, dan segera menuju kelas yang akan di ajarinya.
***
"Dari siapa ini Mbak Neng?" Tanya pak satpam. Pa satpam memang sudah cukup mengenal Neneng. Tak jarang juga pak satpam di kampus ini membeli gorengan di sela-sela pekerjaannya.
"Dari pak Rido pak," jawab Neneng.
"Owalah ... Pak Rido, yang dosen muda itu ya?" tanya pak satpam.
"Gatau pak, kalau menurut saya sih ga muda-muda banget, emang anak berapa sih pak dosen itu?" Tanya Neneng penasaran.
"Anak? Ish ... jaga Mbak bicaranya," ucap pak satpam itu memukul pelan bahu Neneng.
"Memangnya kenapa?" Neneng meringis mendapati pukulan di bahunya.
"Denger-denger Pak Rido itu lajang Mbak, belum menikah," ucap Pak satpam itu.
Entah kenapa Neneng merasa lega di hatinya, ia hanya mengada-ngada sebenarnya bertanya jika Rido sudah memiliki anak atau tidak.
"Lampu hijau Mbak ... udah punya pacar belom?" tanya pak satpam.
Neneng menggeleng, memang kenyataannya seperti itu, Neneng belum memiliki kekasih.
"Kalau bapak jomblo sih bapak mau sama Mbak Neneng, sayangnya bapa sudah punya istri," ucap Pak satpam itu di sertai gelak tawa.
"Hahaha apaan sih bapa ini, ngaco! Yaudah saya pamit dulu pak, mangkoknya titipkan saja ya!"
Setelah mengantarkan semangkok bakso ke pak satpam, Neneng segera mengambil mangkok berikutnya untuk tukang kebun.
"Mbak tukang bakso mari-mari sini aku mau beli,"
"Mbak tukang bakso cepetan kemari sudah tak tahan lagi,"
Terdengar candaan mahasiswa terlebihnya pria yang cukup tertarik dengan Neneng.
Neneng hanya memberikan seulas senyumnya, lalu mulai mengambil semangkok baksonya untuk diantarkan ke tukang kebun.
"Yah Mbak mau kemana? Abang mau kuah spesial dari Mbak Neneng Mbak!" Teriak salah satu pembeli yang sangat suka bercanda dengan Neneng.
Di sisi lain Rido di bangku belakang hanya menatap tajam mahasiswanya itu.
"Apa katanya kuah spesial Mbak Neneng?" Gumam nya sinis.
"Jadi mau coba," lanjutnya mengembangkan senyumnya.
Dilihat nya Neneng yang sudah kembali membawa nampan hijau di tangannya.
Rido segera melangkahkan kakinya mendekati Neneng.
Neneng menghentikan langkahnya dirasa ia akan bertubrukan dengan Rido. Lalu ia mendengar sebuah suara pelan di telinganya.
"Mbak Neneng bakso kuah spesialnya satu, antarkan keruangan saya!" Ucap Rido setengah berbisik di telinganya.
Lalu dengan tanpa beban ia melanjutkan langkahnya kembali menuju ruangannya.
Bersambung ...
__ADS_1
Waaaaah maaf banget readers aku up nya lama. Kemarin aku sibuk banget di kampus.
Jangan lupa like & komen yang panjang yah! Salam hangat dari author.