Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 14


__ADS_3

Neneng Pov


"Habis dari mana Neng, ini sudah hampir magrib kamu baru pulang!" Di tengah pintu Ibu sudah standby bersidekap tangan di dada.


"Emm ... Bu, Neng di ajak ke pantai sama Pa Rido," jawabku pelan.


"Ibu mau bicara." Ibu mendahuluiku masuk ke dalam rumah.


***


Di dalam rumah rasanya seperti akan di gelar sidang di pengadilan, tegang.


Ibu sudah duduk menatap ku tajam, sementara aku hanya bisa menunduk.


Aku takut.


"Neng kenapa kamu pergi dengan Pa dosen itu?"


"Bu Aku di paksa, aku gatau-"


"Kamu kan bisa menolak," ucap Ibu membuatku diam.


"Neng jauhi dosen itu, Ibu mohon," ucap Ibu. Ibu menepuk bahuku. Kemudian ia pergi dari hadapanku.


Salahkah aku jika mengharap lebih. Jujur saja separuh hatiku sudah tersentuh olehnya.


***


Pagi ini rasanya malas sekali. Aku bangun menatap kaca jendela kamarku.


Menatap indahnya pagi hari membuatku sedikit tenang.


Aku bergegas untuk membersihkan diri, sebelum ke kamar mandi aku melihat Ibu sedang menyiapkan dagangan kami.


"Uhuk ... uhuk." Ibu seperti terbatuk-batuk.


Aku segera mendekatinya, ku raba keningnya.


"Bu kenapa panas! Ibu pusing?" Aku terus meletakkan telapak tanganku di kening Ibu.


"Bu kita periksa yah," ucapku hawatir.


"Engga usah Neng Ibu ga apa-apa." Ibu mengusap bahuku seperti menenangkanku.


"Bu Ibu jangan dagang hari Ini, Neneng aja yah Bu, Ibu istirahat!" aku mengecup tangan Ibu. Lalu aku segera bergegas keluar.


***


Aku termenung menunggu pelanggan hari ini, ini sedang jam masuk kuliah, mahasiswa tidak mengunjungi kantin.


Aku memikirkan Ibu. Apakah karena kemarin aku pergi dengan Pa Rido membuat Ibu sakit?


Dor.


"Eeh!" Aku terkejut mendapat tepukan di bahuku.


Pa Rido!


"Ngelamun aja nih!" Ia mulai mengambil posisi duduk di sampingku.


Entah kenapa beberapa waktu sekarang ia seperti mengakrabkan diri.


Ia tidak terlalu menunjukan sisi sombongnya. Membuatku takut.


Takut luluh.


"Neng ... gimana kemarin ke pantai seru kaan?"


Aku mengangguk malas menjawab, di fikiran ku aku masih memikirkan Ibu.


"Neng lemes banget! Semangat dong. Masa tukang bakso lemes, tukang bakso tuh harusnya seger kaya kuahnya," ucapnya.


Eeeh bawa-bawa bakso segala. Kebiasaan!


"Pergi sana Pa jangan ganggu!" Ku dorong bahu nya untuk menjauh.


"Padahal saya mau kasih sesuatu sama kamu!"


"Gausah Pa, makasih," ucapku tersenyum kecut.


"Neng kemarin kamu pulang dari pantai ga pakai daleman yah?" Mendengar ucapan nya aku melotot.


Apa? Kenapa ia tahu.

__ADS_1


Refleks tanganku menutup bagian-bagian sensitive ku.


"Bapak ngintip yah! Ga sopan banget!" Ku pukul-pukul badan nya.


"Pengen nya sih gitu. Tapi cuma liat pelindung nya aja!" Ia memberikan senyum. Senyum berbeda. Senyuman nakal gimana gituh.


"Maksud Bapak?" Demi tuhan saat ini pipiku sudah sangat panas sekali.


Aku tak tau apa warna pipiku sekarang. Karena aku tak bisa bernafas rasanya.


"Tuh!" Ia melemparkan sebuah paperbag Biru.


Ku buka paperbag itu. Kulihat isinya.


Malu!


Aku menggigit bibir bawahku, dan aku tak sanggup menegakkan pandanganku.


Tiba-tiba. Ia mengangkat daguku seketika.


Ia membalikan wajahku ke kiri ke kanan. Ia seperti menelisik sesuatu.


Ku tepis tangannya pelan. Mengapa hari ini ia sangat menyebalkan.


"Ga ucapin makasih?" Ia melipatkan tangannya di dada sambil mengulum senyum.


"Hah?" Aku menatapnya tak paham.


"Itu hartakarun mu sudah ku keringin, dan siap di gali!"


"Stop!" Aku jengah. Ia benar-benar membuatku sangat malu.


Ia hanya membalas dengan tawaannya. Lalu ia berlalu pergi dari hadapanku.


Sialan!


***


Penat sekali rasanya hari ini, pelanggan lumayan rame, dan aku hanya bekerja sendiri.


Ku lemaskan otot-otot pergelangan tanganku, cape.


Segera ku tutup kios tempat berdagangku. Dan aku segera bersiap pulang.


Dari kejauhan nampaknya ada angkot, setelah menepi, segera ku naiki dan aku bergegas pulang.


***


"Ini ada apa?" Aku menatap panik. Di rumahku banyak sekali orang.


"Bang ... ini ada apa?" Aku benar-benar hawatir saat ini.


"Bang ada apa?" Kebetulan Bang Danu sedang ada disana segera ku tanyakan.


"Ibu Neng pingsan. Tadi ia tiba-tiba jatuh di warung."


"Hah Bang ... sekarang Ibu mana?" Aku menatap sekeliling.


"Sekarang gapapa ini lagi nunggu aja kami, sebelum Neng pulang," ucapnya menenagkanku.


"Makasih Bang," ucapku pamit. Lalu segera ku lihat bagaimana keadaan Ibu.


"Bu ... Ibu kenapa?"


Saat ini para warga sudah pulang. Aku sedang menyuapi Ibu makan.


Rupanya tadi Ibu lupa makan. Dan maag nya kambuh.


"Neng ... Ibu mau jujur!"


***


                    


"Neng ... orang kaya yang sombong itu akan menyakitimu. Mereka akan menggunakan segala kelebihan mereka untuk merendahkan orang-orang yang tak punya. Ibu gamau Neneng ngalamin nasib Ibu dulu."


Deg.


"Maksud Ibu?"


Neneng langsung menggenggam erat tangan ibunya. Apa yang sebenarnya tak ia ketahui, sebagai pelindung Ibunya satu-satunya.


"Maafkan Ibu. Sebenarnya Ayahmu masih hidup," ucap Ibunya terbata-bata.

__ADS_1


"Ibu rasa ini adalah saat yang tepat, sebelum semuanya terlambat, jauhi orang kaya, carilah orang yang sebanding dengan kita Neng."


Neneng merasakan genggaman Ibunya semakin menguat.


"Dimana Ayah?"


Neneng berbinar menatap Ibunya. Ia bahagia setidaknya ternyata ia masih mempunyai seorang Ayah.


"Jangan mencarinya. Cukup tau saja. Dia tidak menyayangimu!"


"Tap-"


"Jauhi dosen itu!"


***


Rido termenung di balkon kamarnya. Kebetulan hari ini ia tak memiliki jadwal untuk mengajar, jadi ia hanya menghabiskan waktunya di rumah pribadinya saja.


Rido sedikit menyunggingkan senyumnya menatap seseorang yang berada di dalam ponselnya.


Foto itu ia ambil saat kemarin di pantai tanpa sepengetahuannya.


"Kamu cantik Neng," gumam Rido menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rido menutup wajahnya malu saat membayang kan tubuh Neneng yang terekam jelas di ingatannya.


"Kamu ... juga Sexy Neng." Ia jadi seperti orang gila. Senyum senyum lebih tepatnya menyeringai.


Sedikit bermain-main dengan mu mungkin akan menyenangkan!


***


Neneng sangat bosan hari ini, Ibunya masih sakit. Dan ia harus berdagang sendiri.


Ia mengingat besok adalah hari minggu. Ia harus menjadi pembantunya Rido, malas.


Malas sekali rasanya. Malas bercampur malu.


Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa Neneng lupa akan barang nya sendiri.


"Bodoh!" Neneng menjitak kepalanya sendiri.


***


Ibu Neneng meneteskan air matanya. Ia menatap sebuah foto bayi yang di gendong oleh seorang pria.


"Mas ... aku tidak mau Neneng akan berakhir sepertiku." Ibunya menghapus kasar air matanya.


"Cukup ... cukup. Cukup keluargamu saja yang membuatku terluka Mas!"


***


Rido menggeliatkan badannya pelan. Ia terbangun mendengar suara dering telpon di ponsel nya.


NekNeng!


"Halo," ucap Rido memulai. Ia berusaha menutup perasaan bahagianya.


Bagaimana tidak bahagia? Neneng loh ini. Jarang-jarang ia menelpon.


"Pa? Saya boleh izin besok? Ibu saya sakit. Gaada yang jagain."


"Apa?" Rido terkejut.


Baru saja tadi ia sudah mengharapkan hari minggunya indah. Eeh.


"Gabisa!" Rido berucap dengan suara tegas.


"Saya bukan pedagang yang bisa di tawar. Pokonya besok jam 8 sudah di rumah saya!"


"Tapi Pa? Saya ...,"


"Saya gamau tau!" Rido mematikan sambungan telpon nya.


Apa-apaan ini, seenaknya saja dia! Memang dia siapa?


Neneng menatap gusar ponsel yang di matikan sepihak itu.


Ibu benar. Pa Rido itu memang sombong. Baru saja ia tergugah hatinya, melihat seperti ini, bukan tergugah, tapi ogah!


Bersambung ...

__ADS_1


Buat yang minta next kilaat. Mangga! 😍 di tunggu komen yang panjang nya!


__ADS_2