Kesombongan Sang Dosen Muda

Kesombongan Sang Dosen Muda
bagian 25


__ADS_3

#Kesombongan_Sang_Dosen_Muda


#Mbak_Neneng


Bagian 38


Dari kejauhan Rido menatap seorang gadis yang ia tunggu. Rido melihat Neneng sedang melangkahkan kaki, persis menuju hadapannya.


Rido sedikit merapikan kerah kemeja nya, di susul dengan ia membenarkan posisi dasinya, tak lupa menyenggol jas mahal nya agar terlihat selalu rapi.


Rido berjalan dengan gaya cool nya, sengaja ia memasukan tangannya kedalam saku celananya lalu mulai berjalan perlahan.


Neneng mencoba tak peduli pada seseorang yang akan ia lewati, "bersikaplah sewajarnya!" Neneng berbicara pada dirinya sendiri.


Rido berniat memberikan senyuman terbaiknya saat Neneng tepat di hadapannya.


Namun.


Shit.


Neneng mengalihkan pandangannya kearah lain, berpura-pura tak melihat Rido.


Menyebalkan!


Rido berbalik menatap punggung wanita yang telah membuat dunianya seakan berhenti berputar.


Entah kenapa hari ini dimata Rido Neneng nampak anggun sekali dengan balutan dress berwarna mint.


Rido terpukau. "Apakah jadi pelayan bakso harus seanggun itu?"


***


Siapa sangka! Ternyata Neneng tidak menuju warung bakso nya, ia malah memasuki ruagan administrasi, lalu di susul dengan ia menyerahkan uang, dan kontrak sewa kios nya. Neneng berhenti berjualan hari ini.


Bukan tanpa alasan Neneng berhenti berjualan, Handoko, ayahnya melarangnya.


Handoko meminta Neneng untuk melanjutkan kuliahnya, tetapi masih Neneng fikirkan, mengingat ia sudah lama lulus, dan enggan belajar.


***


Setelah memberi tugas pada mahasiswa Rido melangkahkan kakinya menuju kantin.


Kalian sudah tau jawabannya Rido kemana, Rido berniat menegur Neneng.

__ADS_1


Rido akui Neneng anggun sekali hari ini, tetapi Neneng cuek, membuat Rido geram.


Sadar Rido!


***


"Mbak pesan baksonya satu mangkok! Gapake toge!" Rido meneriakkan pesanannya.


Ia sedikit menyeringai, apakah Neneng ini bodoh ... dengan ia mengabaikan Rido, Rido pasti mudah membalasnya.


Lima menit berlalu, Rido belum mendapat pesanannya. Rido kesal, apa-apaan ini, pelayannannya buruk sekali.


"Saya pesan bakso, belum di layani juga, apa-apaan ini!" Rido memutuskan untuk mendekati, daj berbicara langsung pada Neneng.


Neneng sedikit terlonjak, saat ini Neneng sedang memasukan barang-barang kedalam kardus, untuk di bawa pulang, karena ia pensiun berjualan hari ini.


"Bapak ga liat? Tidak ada bahan-bahan dagangan disini, saya tidak berjualan hari ini," ucap Neneng santai tanpa menatap Rido. Neneng terus membereskan barang-barangnya.


"Apa-apaan ini, apa kamu sudah tidak butuh uang?" Rido menatap heran Neneng. Ada sesuatu yang ganjil saat ini di benaknya.


Neneng berusaha sedikit memaksakan senyumnya. Neneng berbalik menatap Rido. "Pelanggan setiaku ... saya akan pindah lapak, jangan kangen bakso ku yah!" Neneng memanis-maniskan suaranya.


"Maksud kamu? Kamu gaakan berjulan disini lagi?" Rido memastikan kebenarannya.


Neneng hanya mengangguk, lalu Neneng kembali fokus pada pekerjaannya, yaitu membereskan dagangannya.


Dengan sedikit emosi Rido mencengkram pergelangan tangan Neneng.


Rido seperti tersulut amarah, Rido mendorong Neneng menuju dinding dan menciumnya.


"Lep--" Neneng tak mampu melanjutkan ucapannya. Bibirnya saat ini terbungkam.


Rido seakan tak peduli rontaan gadis di depannya, Rido terus menekan bahu Neneng agar semakin menempel pada dinding, dan Rido semakin memperdalam ciumannya.


Neneng tak kuasa melawan, pukulan tangannya seakan tak ada apa-apanya sekarang, Rido sangat kuat.


Sedetik kemudian Rido melepaskan bungkamannya, Rido mengusap sudut bibirnya kasar.


Rido termenung seperti baru tersadar dengan apa yang telah ia perbuat barusan.


Plak.


Neneng menatap marah pada Rido saat ini, "maksud anda apa seperti ini hah!" Neneng sudah habis kesabarannya.

__ADS_1


Neneng merasa di lecehkan sekarang, jujur saja, selama ia hidup baru kali ini ada orang yang berani menciumnya selain Ibunya.


Rido meninggalkan Neneng dengan kemarahannya. Rido langsung menuju ruangannya.


***


Sesampainya di ruangannya Rido mengacak rambutnya frustasi. "Apa yang telah ku lakukan!"


Rido sebenarnya hanya ingin bermain-main dengan Neneng, namun mengapa sekarang ia rasa ia terjatuh terlalu dalam.


Rido merasa seperti terjebak dengan permainannya sendiri.


***


Neneng menggosok bibirnya dengan kasar, setelah mendapatkan ciuman pertamanya Rido dengan mudahnya meninggalkannya, Rido tidak merasa bersalah ataupun minta maaf.


"Brengsek!" Neneng menendang sebuah tabung gas di depannya.


"Au!" Ia meringis kakinya sakit. "Siapa yang menaruh tabung gas ini disini," pekiknya dalam hati.


***


Neneng sedikit menyunggingkan senyumannya saat menatap Ayahnya menjemputnya.


Sebenarnya tadi Neneng menolak untuk dijemput, namun Ayahnya memaksa.


Neneng menyangka akan sulir Ayahnya yang menjemput, ternyata malah Ayahnya sendiri yang datang.


"Silahkan masuk tuan puteri!" Handoko tersenyum lebar, Handoko membukakan pintu untuk anaknya.


Neneng tak kuasa menahan senyum, Neneng hanya menurut. Neneng langsung memasuki mobil.


Dari kejauhan Rido menatap kecewa pada Neneng. Apakah karena ini Neneng berubah menjadi anggun dan memiliki uang?


Rido hanya terfokus pada Neneng. Rido tak melihat jelas siapa pria itu.


Rido bertanya-tanya, apakah ini yang membuat Neneng berubah! Neneng memang anggun, dan Neneng seperti banyak uang sekarang.


Namun Rido mengumpat dalam hati, ia kecewa. "Jadi ... Neneng simpanan pria hidung belang sekarang!"


Bersambung ...


Maaf readers aku telat up! Aku tadi abis uas online. Yang waktu itu uas tertulis, sekarang online, hehehe jadi curhat eeeh!

__ADS_1


Wilujeng wengi sadayana! 😍 vote sareng komennya.


__ADS_2