
Akhirnya Gitta keluar dari mobil Hendra, dan juga disusul oleh Hendra. Para awak media sudah mengambil gambar Gitta dan Hendra.
"Banyak pertanyaan yang diajukan para wartawan kepada Gitta dan Hendra."
"nona Gitta? apa benar anda adalah putri dari tuan Hendra? banyak humor mengatakan kalau dulunya Ibu anda mememiliki cinta yang terlarang dan menikah dengan laki - laki lain, apa itu benar?."
"Baiklah saya akan menjawabnya disini saja dan kebetulan juga ada Papa Hendra disini, jadi anggap saja ini adalah konfrensi pers dadakan."
"Mana mungkin sekalas Papa Hendra memiliki sifat buruk seprti yang diisukan diluar sana, Papa Hendra adalah suami dari Ibu saya, jadi berarti saya juga anaknya bukan?. ucap Gitta dengan senyum."
"Jadi anda adalah anak tiri dari tuan Hendra?" ucap salah satu wartawan."
"Iya, tepatnya begitu, dan saya rasa ini sudah cukup untuk menjawab rumor murahan yang beredar diluar sana. ucap Gitta sambil berlalu pergi."
"Hendra hanya diam seribu bahasa, dan sudah tidak bisa lagi berkata apa - apa, karna semuanya sudah dijawab oleh Gitta, karna Hendra tidak mau menyakiti hati Gitta meski kata - kata Gitta bertolak belakang dengan hatinya."
"Hendra hanya menatap kepergian Gitta yang meninggalkannya dan para awak media."
"Tuan Hendra, bagaimana pendapat anda tentang ini semua? tanya salah satu wartawan."
"Saya rasa semua pertanyaan kalian sudah dijawab oleh Gitta, dan jangan membuat berita yang tidak tidak lagi setelah ini". Hendra memasuki mobilnya dan pergi
__ADS_1
"Gitta duduk ditaman kampus, dadanya begitu sesak, tanpa disadari air matanya sudah jatuh membasahi pipi mulusnya."
"Ayu dan Gina menghampiri Gitta dan memeluk Gitta dari belakang."
"Loe jangan nangis....ucap ayu dengan mata yang sudah berkaca - kaca."
"Iya git, loe nga selemah ini!!! tambah Gina."
"Kalian pasti tau apa yang gue rasain!! dengan tangis yang sudah pecah."
"Kita ngerti Git.. Imbuh Gina."
"Bawa gue pergi dari sini!! hik hik hik."
"Ketempat Ayah.....hik hik."
Para Primadona kampus itu pergi meninggalkan kampus menuju pemakaman Budi Hartono.
Setelah sampai dipemakaman Budi Hartono, Gitta berjalan menuju makam Ayahnya, dan berlutut dimakam Ayahnya sambil menangis."
"Ayah....apa yang Gitta lakukan saat ini Sudah benar? apa Gitta salah? sambil tersedu - sedu."
__ADS_1
"Kalaupun Ayah marah kepada Gitta, Gitta terima yah, tapi Gitta melakukan ini karna ada beberapa alasanya."
"Gitta hanya ingin menyelamatkan nama Ayah dan nama baik Papa Hendra."
"Gitta tidak mau merusak nama baik Papa Hendra, hanya karna masa lalunya dengan Ibu."
"Dan Gitta juga tidak ingin orang lain beranggapan buruk kepada Ayah. ucap gitta dengan tangis yang menjadi - jadi."
"Melihat Gitta dengan keadaan yang Ayu dan Gina lihat mereka tidak bisa menyembunyikan air matanya, merek menangis dan kembali memeluk Gita."
"Git, loe janga sedih begini dong ! melihat loe nangis kayak gini Ayah loe pasti juga sedih ngeliat loe git...Ayu mencoba menenangkan gitta."
"Iya Git.... Loe masih punya kita, kita akan selalu ada kok buat loe." tambah Gina
"Makasih...kalian selalu ada buat gue, baik susah maupun senang, kalian orang yang selalu ngerti gue."
"Itu lah guna sahabat Git ! Jawab Ayu sambil menghapus air mata Gitta."
"Sekarang kita keapartemen loe aja ya? ajak Gina."
"Gitta hanya menganggukinya."
__ADS_1
"Ayah...Gitta pulan dulu, nanti Gitta akan kesini lagi jengukin Ayah. Sambil mengelus batu nisan Budi Hartono
Ketiga sahabat itu pergi meninggalkan makam Budi, dan melajukan mobil kearah apartemen Gitta.