
Bab 10
Bu Ismiyati terus melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi menantu perempuannya tak kunjung pulang.
"Dimas, istri kamu pergi ke mana aja, sih? Jam segini kok belum pulang?" tanya Bu Ismiyati pada Dimas yang sudah berada di rumah sejak sore tadi.
"Tiara ada banyak kerjaan di kantor, Bu. Kalau udah selesai juga nanti pulang," sahut Dimas.
"Nanti kapan? Nanti nunggu sampai pagi? Tiara itu perempuan, Dimas. Ditambah lagi Tiara itu perempuan yang sudah bersuami. Apa pantas wanita yang sudah bersuami pulang malam seperti ini?" omel Bu Ismiyati. "Biasanya Tiara nggak pulang selarut ini, kan?"
"Tiara juga nggak punya pilihan lain, Bu. Mungkin aja memang pekerjaannya belum selesai. Kalau kerjaan Tiara udah selesai juga pasti Tiara pulang," timpal Dimas mencoba meminta sang ibu untuk meminta pengertian pada istrinya.
"Udah dari kemarin Tiara nggak mau bersih-bersih. Nggak mau cuci baju. Nggak mau masak. Sekarang dia mau pulang malam juga? Dia itu pernah mikirin kamu sebagai suaminya nggak, sih?"
Begitu Bu Ismiyati menyelesaikan kalimatnya, pintu rumah Dimas pun akhirnya terbuka. Menantu yang sudah ditunggu-tunggu oleh ibunda dari Dimas itu pun akhirnya pulang.
"Tiara udah pulang, Bu! Ibu istirahat aja sekarang," sahut Dimas pada Bu Ismiyati.
Melihat kepulangan Tiara, bukannya merasa lega, tapi Bu Ismiyati justru memancing keributan dan masih memiliki tenaga untuk mengomeli menantunya itu.
"Tiara! Kamu tahu nggak ini udah jam berapa? Kenapa kamu pulang malam banget?" omel Bu Ismiyati pada Tiara yang baru saja pulang dari tempat kerja.
Tubuhnya sudah lelah. Tapi sesampainya di rumah, Tiara masih harus menerima omelan dari ibu mertuanya.
"Udah, Bu! Ini udah malam! Kita istirahat aja, ya?" bujuk Dimas pada sang ibu.
"Ibu lagi ngomong sama Tiara! Kamu diam aja!" sentak Bu Ismiyati.
Pandangan mata wanita paruh baya itu mulai mengarah pada Tiara. Tiara hanya bisa menundukkan kepala saat ibu mertuanya meneriaki dirinya.
__ADS_1
Setelah diatur dan diomeli selama berhari-hari, kini di puncak rasa lelahnya, Tiara masih harus menahan ucapan menyakitkan dari sang ibu mertua.
"Tiara, kamu udah lupa ya sama tugas kamu? Sebagai seorang wanita yang udah menikah, apa pantas kamu masih berkeliaran di luar sana tengah malam begini?" sungut Bu Ismiyati.
"Kamu itu perempuan! Apa pantas kamu masih berkeliaran di luar tanpa suami kamu? Ini udah malam! Emangnya pekerjaan kamu nggak bisa ditunda sampai besok?" sambung wanita paruh baya itu.
Tiara makin dibuat pusing. Rasanya kepalanya ingin pecah. Wanita itu pun lebih memilih untuk diam daripada terlibat adu mulut dengan sang ibu mertua.
"Kamu nggak kasihan apa sama suami kamu? Dari bangun tidur sampai tidur lagi, kamu nggak pernah mikirin suami kamu, kan?" omel Bu Ismiyati tanpa ampun.
"Dari bangun tidur, Dimas cuma kamu siapin makanan yang kamu beli dari warung! Sampai tidur lagi, suami kamu yang harus cari makan malam sendiri tanpa dilayanin sama kamu! Kamu itu sebenarnya niat jadi istri nggak, sih? Kamu itu niat melayani suami kamu nggak, sih? Kalau kamu nggak siap dan nggak sanggup menjalankan tugas sebagai istri, buat apa kamu nikah dan jadi seorang istri?"
Tiara mengepalkan tangan kuat-kuat. Wanita itu terus saja diomeli oleh sang ibu mertua yang terlalu memaksakan diri pada Tiara untuk menuruti prinsip-prinsip yang ia jalankan.
Bu Ismiyati terus membahas mengenai istri harus begini, istri harus begitu, dan sibuk menyalahkan segala cara yang digunakan oleh Tiara untuk mengurus suaminya. Bu Ismiyati menganggap budaya yang ia lestarikan selama ini adalah budaya terbaik yang juga harus diteladani oleh Tiara.
"Kenapa kamu diam aja? Kamu udah sadar apa kesalahan kamu? Kamu udah sadar kenapa Ibu marah sama kamu?" tanya Bu Ismiyati. "Biarpun kamu wanita pekerja, tapi kamu masih seorang istri. Tolong kamu jalani peran kamu dengan baik dan urus tugas-tugas kamu dengan benar!"
Tiara sudah tidak tahan lagi. Tapi wanita itu juga tidak sanggup berteriak di depan Bu Ismiyati. Tiara masih menghargai dan menghormati Bu Ismiyati sebagai ibu kandung yang sudah melahirkan dan merawat suaminya selama ini.
"Ibu harap kamu bisa cepat sadar! Ibu harap kamu mau menerima nasihat dari Ibu!" pungkas Bu Ismiyati mengakhiri omelannya pada Tiara.
Wanita paruh baya itu pun bergegas masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Tiara yang masih berdiri di depan pintu. Usai mendapatkan omelan yang cukup menyakitkan dari Bu Ismiyati, Tiara pun tidak tinggal diam. Wanita yang sudah kehabisan kesabaran itu bergegas menjumpai suaminya. Meskipun Tiara tidak bersuara sedikitpun di depan Bu Ismiyati, tapi bukan berarti wanita itu hanya akan diam saja melihat dirinya diinjak-injak dengan peraturan-peraturan dari Bu Ismiyati.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Dimas mencoba menghibur istrinya.
"Aku mau ngomong serius sama kamu!" sahut Tiara dengan ketus.
"Aku tahu kamu lagi marah sekarang. Aku tahu kamu lagi kesel sama Ibu. Tapi tolong jangan diambil hati, ya? Sifat Ibu memang seperti ini. Tolong kamu pahami!"
__ADS_1
"Kenapa harus aku terus yang ngalah? Kenapa harus aku terus yang memahami Ibu? Aku udah nggak mau ngalah lagi! Kesabaran aku udah habis! Tolong jangan paksa aku lagi buat menahan sesuatu yang gak bisa aku tahan!" sahut Tiara dengan tegas.
Disaat Tiara tengah berbicara dengan emosi meledak-ledak, Dimas berusaha bersikap selembut mungkin untuk meredam amarah Tiara. "Tolong kamu tenang dulu, ya? Tolong lebih bersabar menghadapi Ibu. Lagian maksud Ibu tuh baik ke kamu," ujar Dimas mencoba menenangkan sang istri dengan suara lembut.
"Maaf, Mas! Tolong bawa ibu kamu pulang ke Sukoharjo!" pinta Tiara dengan wajah memohon pada sang suami.
"Jangan begitu, Tiara! Ibu aku nggak punya siapa-siapa lagi di Sukoharjo. Ibu aku tinggal sendiri di sana. Mana mungkin aku tega ngusir ibu aku sendiri?" timpal Dimas mencoba meminta pengertian dari istrinya.
"Tolong kamu lebih bersabar sama Ibu, ya?" sambung pria itu.
"Mau sampai kapan, Mas? Mau sampai kapan harus aku yang bersabar? Aku cuma manusia biasa, Mas. Aku nggak bisa ngebahagiain sama orang. Dan aku juga nggak mau ngorbanin kebahagiaanku sendiri!"
Dimas benar-benar dibuat dilema. Pria itu tak sampai hati untuk memulangkan ibunya ke Sukoharjo, terlebih lagi membiarkan Bu Ismiyati hidup sendiri di desa kecil.
"Aku akan coba bujuk Ibu lagi supaya Ibu nggak bersikap keras sama kamu. Tolong jangan maksa aku untuk dorong ibu aku pulang!"
"Jadi kamu lebih suka melihat aku yang menderita?"
Dimas meraih tangan Tiara dan menggenggam erat jemari istrinya itu. Pria itu sampai berlutut demi memohon agar Tiara bisa lebih bersabar dan tidak meminta dirinya untuk mengusir Bu Ismiyati.
"Aku mohon sama kamu, tolong bantu aku merawat Ibu. Aku nggak bisa pulangin Ibu ke Sukoharjo!" ucap Dimas.
Tiara menepis tangan Dimas dan mendorong pria itu untuk menjauh. Kali ini Tiara benar-benar tidak ingin mengalah ataupun menyerah pada Bu Ismiyati.
"Aku udah mencapai batas, Mas. Sekarang giliran kamu yang harus berjuang demi aku! Aku udah bertahan demi kamu. Aku bertahan sama aturan-aturan ibu kamu. Aku bertahan dan mengalah tiap kali diomelin sama ibu kamu. Aku masih menghargai dan menghormati Ibu sampai saat ini juga karena aku ingat kalau dia masih ibu kamu! Sekarang giliran kamu yang harus menegaskan sikap!"
Dimas makin dibuat bimbang. Tak mungkin Dimas condong pada salah satu di antara mereka. Baik ibu maupun istrinya, semuanya sama-sama penting bagi Dimas.
"Tiara, tolong jangan begini!"
__ADS_1
"Sekarang Mas pilih salah satu! Mas pilih aku ... atau Ibu?"
****