
"Ayo kita jemput Tiara sama-sama, Bu!" ajak Dimas pada Bu Ismiyati.
Dimas tetap tidak mengizinkan ibunya untuk pulang. Bagaimanapun caranya, ia akan tetap membawa Tiara pulang sekaligus mempertahankan ibunya.
Sayangnya Bu Ismiyati menolak gagasan Dimas. "Kamu nggak perlu lagi mikirin Ibu. Ibu nggak mau jadi penghalang lagi buat kebahagiaan kamu, Dimas."
"Ibu sama sekali nggak menjadi penghalang buat Dimas. Ayo kita jemput ya sama-sama, Bu!"
Bu Ismiyati menggelengkan kepala. "Tiara nggak akan mau pulang kalau Ibu masih ada di sini."
"Biarkan Ibu pulang, ya? Ibu akan menetap di kampung halaman. Ibu yang udah menjadi penyebab kekacauan ini. Biarkan ibu yang bertanggung jawab."
"Tapi Bu ...."
"Nggak ada tapi lagi! Ibu akan pulang hari ini juga. Kamu bisa jemput Tiara sekarang. Tiara pasti mau diajak pulang," sahut Bu Ismiyati.
Dimas masih berat untuk merelakan Bu Ismiyati pulang. Dimas benar-benar tidak berdaya sebagai anak dan suami.
"Ibu nggak akan tenang ngelihat kamu murung terus. Tolong janji sama Ibu ... kamu harus hidup bahagia. Ibu melakukan semua ini demi kebahagiaan kamu."
__ADS_1
Dimas bersimpuh di kaki ibunya. Pria itu hanya bisa menangis melihat ibunya yang harus berkorban demi dirinya.
"Ibu harus berangkat ke stasiun sekarang. Kamu cepetan jemput Tiara!"
Bu Ismiyati pun bersiap membawa barang-barangnya keluar dari rumah. Dengan mata sembab, wanita paruh baya itu pun berpamitan sebenarnya pada sang putra.
"Ibu pulang ya, Dimas? Kamu jaga kesehatan baik-baik di sini, ya?"
"Hati-hati di jalan, Bu! Kabari Dimas kalau sudah sampai, ya?"
Tanpa banyak kata lagi, wanita paruh baya itu pun bergegas meninggalkan rumah putranya. Dimas juga segera bersiap untuk menjemput istrinya di kosan Lesti.
"Pasti Ibu yang ngasih tahu tempat ini ke Mas, ya?" tanya Tiara tanpa banyak basa-basi begitu ia melihat suaminya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu harusnya juga tahu kan apa maksud kedatanganku ke sini. Tolong hari ini juga kamu pulang sama aku!" pinta Dimas.
Awalnya Tiara menolak. Wanita itu tidak akan termakan bujukan apa pun dari suaminya.
"Aku udah ngasih hal yang kamu mau!" seru Dimas.
__ADS_1
"Emangnya apa yang aku mau?"
"Kamu pengen ibu aku pergi dari rumah, kan? Kamu pengen ibu aku pulang kampung, kan? Sekarang Ibu udah pergi. Ibu udah ada di stasiun. Ibu beneran pulang ke Sukoharjo."
Tiara cukup terkejut mendengar penuturan Dimas. Ia benar-benar tidak menyangka ibu mertuanya itu akan mengalah dan memilih untuk meninggalkan rumah.
"Sekarang kamu udah nggak punya alasan lagi buat pergi dari rumah, kan? Sekarang rumah itu cuma ditinggalin sama kita. Cuma ada aku dan kamu."
Setelah pertengkaran panjang mereka, akhirnya Tiara pun memutuskan untuk pulang ke rumah sang suami. Setelah kabur dari rumah selama berhari-hari, kini Tiara mulai bersiap untuk kembali ke istananya bersama sang suami.
"Ibu beneran pulang kampung?"
Dimas mengangguk dengan manik mata berkaca-kaca. "Ibu udah ngalah demi kita. Tolong kamu pulang, ya?"
Tiara pun segera mengemasi barang-barangnya dari kosan Lesti dan berpamitan pada temannya. Pada detik itu juga, Tiara pun pergi meninggalkan kosan Lesti dan kembali pulang ke rumahnya yang nyaman.
Dimas dan Tiara cukup lega, akhirnya mereka bisa bersama kembali. Tiara pun menghabiskan waktu untuk berkeliling rumah demi mengobati rasa rindunya pada rumah yang sudah lama ia tinggalkan itu.
"Nggak ada yang berubah. Semuanya masih sama," gumam Tiara.
__ADS_1
Wanita itu pun menghabiskan waktu untuk memeriksa seluruh ruangan, hingga Tiara pun menemukan secarik kertas yang terselip di area dapur. Nampaknya itu adalah sebuah surat yang sengaja ditinggalkan oleh Tiara.