
Tiara sibuk melamun dan mengetikkan huruf secara asal di komputernya. Fokus wanita itu sudah terpecah belah. Tiara tidak bisa bekerja dengan maksimal selama di kantor sejak ia keluar dari rumah.
"Mbak, jangan melamun terus! Nanti kesambet!" tegur Lesti pada Tiara.
Lamunan Tiara buyar. Meskipun ia sudah berusaha mengurus pekerjaan dengan baik, tapi sayangnya ia tetap tidak bisa melaksanakan tugas dengan sempurna. Tara masih kelabakan menyelesaikan pekerjaannya hingga membuat Adam tidak puas.
"Siapa yang ngelamun? Aku nggak ngelamun, kok."
"Mbak dipanggil ke ruangan Pak Adam sekarang," ujar Lesti menyampaikan pesan dari atasannya.
Tiara menelan ludah kasar. Wanita itu sudah berusaha membereskan pekerjaan, tapi tetap saja ada celah yang tidak bisa ia tutupi.
"Kenapa aku dipanggil ke ruangan Pak Adam? Aku salah bikin laporan lagi, ya?" tanya Tiara cemas.
"Nggak tahu, Mbak. Disuruh ke ruangan Pak Adam nggak bawa apa-apa, kok. Mungkin mau dikasih bonus," celetuk Lesti.
"Bonus apanya? Dari kemarin aja kena tegur mulu karena laporan salah," sahut Tiara lemas.
__ADS_1
"Udah nggak perlu khawatir. Pak Adam nggak mungkin marah-marah," hibur Lesti.
Tiara pun segera bangkit dari kursinya dan bergegas menuju ke ruangan Adam. Dengan wajah takut-takut, wanita itu mengetuk pintu dan menjumpai Adam yang sudah menunggunya di dalam ruangan.
"Permisi, Pak! Bapak mencari saya?"
Adam segera mengalihkan pandangan ke arah Tiara. Pria itu pun melempar senyum tipis pada pegawai yang sudah dinantinya itu. "Masuk, Tiara!" sambut Adam dengan ramah.
Kegugupan Tiara pun perlahan mulai menghilang. Melihat wajah Adam yang terlihat begitu ramah, pikiran negatif Tiara pun mendadak hilang.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Tiara.
"Saya nggak sibuk, Pak. Beberapa laporan udah saya kerjakan dikit-dikit."
Adam melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Udah mau jam makan siang. Kamu mau nggak beli makan siang sama saya?" ajak Adam pada Tiara.
"Makan siang sama Bapak?" tanya Tiara dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Iya, Tiara. Temenin saya makan siang, ya? Sekalian saya mau ngomongin sesuatu sama kamu," sahut Adam.
Tidak ada alasan juga bagi Tiara untuk menolak. Lagipula Tiara juga sering menikmati makan siang dengan beberapa atasannya. Tidak ada salahnya juga ia pergi menikmati makan siang bersama dengan Adam.
"Boleh, Pak. Mau makan siang di mana? Mau saya carikan?"
"Boleh-boleh aja. Kamu bisa pilih tempatnya."
Begitu jam istirahat tiba, Adam dan Tiara pun bergegas pergi menuju ke tempat makan yang sudah dipilih oleh Tiara. Karena Adam ingin membahas mengenai hal yang cukup pribadi dengan Tiara, pria itu pun memilih untuk menikmati makan siang di luar perusahaan.
"Kamu mau pesan apa? Pesan aja. Saya yang traktir," tawar adam pada Tiara.
"Dalam rangka apa nih, Pak?"
"Bukan dalam rangka apa-apa. Cuma pengen traktir pegawai aja sekali-sekali," sahut Adam.
Tiara pun segera memesan makanan dan melahapnya bersama dengan Adam. Di sela-sela acara makan mereka, Adam pun mulai membuka perbincangan dengan membahas mengenai performa kerja Tiara yang belum kembali seperti semula.
__ADS_1
"Kamu lagi ada masalah, ya? Hasil kerjaan kamu masih belum maksimal," ujar Adam tiba-tiba.
Tiara pun meletakkan sendoknya. Iya sudah menduga kalau Adam akan membahas mengenai hal ini. "Maaf, Pak. Pekerjaan saya banyak yang salah, ya?"