
Karena tidak bisa tidur, Bu Ismiyati pun bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamar. Di malam yang sudah larut, wanita paruh baya itu pun berjalan-jalan berkeliling rumah sembari menunggu rasa kantuk menghampirinya.
Tanpa sengaja, Bu Ismiyati pun melihat bayangan putranya yang tengah berjalan menuju ke halaman luar. Melihat Dimas yang ternyata belum tidur, Bu Ismiyati pun mengikuti langkah putranya dan memandangi pria itu dari kejauhan.
"Dimas mau ke mana?" gumam Bu Ismiyati.
Dimas duduk di teras tanpa melakukan apa pun. Pria itu menatap ke arah pagar rumahnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang dilakukan pria itu di luar rumah saat tengah malam seperti ini. Dimas hanya berdiam diri di tempat duduknya dan melamun seorang diri di sana.
Pria itu terus menatap ke arah luar pagar. Tingkah Dimas seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
Bu Ismiyati masih terus memandangi Dimas tanpa berencana untuk mendekat apalagi menegur putranya itu. Sesekali Dimas mengacak rambutnya dengan frustasi dan mulai mengoceh seorang diri di teras rumahnya.
"Kapan kamu pulang, Tiara?" gumam Dimas dengan suara lirih.
__ADS_1
Bu Ismiyati membelalakkan mata. Tanpa ia sangka-sangka, ternyata putranya saat ini tengah melampiaskan rasa frustasi karena kerinduan pada sang istri.
"Tiara, kenapa kamu nggak mau pulang juga?" oceh Dimas lagi sembari menutup wajahnya. Mungkin sebenarnya pria itu sangat ingin berteriak untuk meluapkan kesedihan yang ia tahan di hatinya. Tapi sayangnya, Dimas tidak bisa melakukan hal itu, apalagi di depan Bu Ismiyati.
"Tolong pulang, Tiara. Aku kangen banget sama kamu," lirih Dimas dengan suara serak.
Melihat Dimas bertingkah seperti itu di malam hari, hati ibu mana yang tidak hancur? Bu Ismiyati ikut merasakan sakit hati saat ia melihat keadaan putranya yang semakin hari semakin terpuruk sejak kepergian Tiara.
Bu Ismiyati makin tidak sanggup melihat keadaan putranya yang seperti ini. Wanita paruh baya itu pun berhenti memantau Dimas dan lebih memilih kembali ke kamar.
Padahal di depan Bu Ismiyati, Dimas selalu berusaha kuat dan tegar. Dimas selalu menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. Tapi siapa sangka, ternyata Dimas hanya memendam kesedihannya. Dimas lebih memilih untuk menangis sendirian dan menanti kepulangan istrinya setiap malam, tanpa diketahui oleh Bu Ismiyati.
"Kenapa putraku jadi begini? Kenapa kehidupan putra kesayanganku jadi hancur begini?" gumam Bu Ismiyati dengan tangis sesenggukan.
__ADS_1
Bu Ismiyati menumpahkan seluruh air matanya di dalam kamar. Wanita itu tak kuat lagi melihat putranya yang hidup dalam kepedihan.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk putraku. Aku nggak mau semuanya jadi begini," ujar Bu Ismiyati.
"Apa sih istimewanya Tiara? Kenapa Dimas bisa sehancur ini cuma karena perempuan malas seperti Tiara yang gak bisa ngurus suami?" sambung Bu Ismiyati.
Melihat keadaan putranya hanya membuat hari-hari Bu Ismiyati tersiksa. Terlebih lagi, wanita paruh baya itu juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghibur putranya tercinta.
"Aku cuma pengen membantu Dimas mendidik Tiara, supaya Dimas bisa mendapatkan istri yang baik. Supaya Dimas bisa hidup bahagia bersama dengan istrinya. Aku nggak mau rumah tangga putraku jadi hancur lebur seperti ini."
Bu Ismiyati menangis hingga puas di dalam kamarnya, sementara Dimas menangis seorang diri di luar rumah. Suasana rumah yang tadinya hangat dan nyaman itu tiba-tiba berubah menjadi lautan air mata yang memilukan bagi para penghuninya.
****
__ADS_1