Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah

Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah
bab 21


__ADS_3

Adam mengulas senyum. Bukan maksud pria itu ingin mengomeli pegawainya. Justru Adam ingin memberikan dukungan untuk Tiara. "Lesti udah cerita semuanya ke saya. Kamu lagi ada masalah berat, ya? Pasti susah buat kamu fokus ngurus kerjaan sekarang. Saya cuma nggak pengen kamu terlalu memaksakan diri."


Tiara hanya bisa mengangguk. "Maaf sebelumnya, Pak. Saya udah berusaha keras buat bersikap profesional. Tapi ternyata pekerjaan saya masih tetap juga berantakan."


"Saya nggak menyalahkan kamu, Tiara. Saya bisa maklumin keadaan kamu sekarang. Saya juga nggak akan memaksa kamu."


Tiara menundukkan kepala. Rasanya malu dan sungkan sekali di hadapan atasannya. Padahal Tiara sendiri sudah berjanji untuk memaksimalkan kinerjanya. Tapi semakin hari, pekerjaannya justru semakin amburadul.


"Saya nggak bermaksud ikut campur urusan rumah tangga kamu. Saya juga nggak ingin ngatur-ngatur kamu. Bukan maksud saya mau kepo sama urusan pribadi, tapi kalau boleh ngasih saran, sebaiknya kamu jangan melarikan diri dari masalah," sahut Adam. "Dari cerita yang saya dengar, kamu sendiri masih bingung mencari solusi, ya? Kamu sendiri masih terus menghindari diskusi, ya?"


Tiara menghela napas sejenak. "Saya hanya sedang bingung, Pak. Saya nggak bisa berpikir jernih untuk sekarang."


"Kamu pasti sangat lelah, ya? Kamu sedang menghadapi masalah besar, tapi saya masih menekan kamu untuk bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik," ujar Adam. "Saya memang berharap kamu bisa bersikap profesional. Tapi saya sendiri juga cuma manusia biasa. Kalau saya jadi kamu dan saya menghadapi permasalahan besar di kehidupan pribadi saya, sudah pasti pekerjaan saya akan ikut terpengaruh. Di sini saya hanya mencoba untuk memahami kamu."

__ADS_1


"Terima kasih banyak atas perhatiannya, Pak."


"Tidak baik juga membiarkan masalah hingga berlarut-larut seperti ini. Kamu nggak bisa terus-terusan lari, Tiara. Masalah itu harus dihadapi."


"Baik, Pak. Saya juga tidak ingin pekerjaan saya ikut terpengaruh. Tapi jujur saja pikiran saya saat ini masih kacau," timpal Tiara.


"Karena sudah begini, gimana kalau kamu ambil cuti saja? Memaksakan diri untuk bekerja cuma bisa bikin kamu makin stress nantinya. Mendingan kamu ambil cuti aja dan istirahat sejenak. Kamu selesaikan masalah kamu dan kamu ngambil waktu untuk menenangkan diri sejenak," saran dari Adam.


"Untuk sekarang kamu bisa fokus dulu sama masalah pribadi kamu. Kamu nggak perlu ribet ngurus kerjaan," imbuh Adam lagi.


"Nggak apa-apa kalau saya cuti, Pak?"


"Nggak masalah, Tiara. Ambil waktu kamu buat istirahat. Saya harap, saat kamu kembali nanti, performa kerja kamu bisa kembali seperti semula."

__ADS_1


Tiara nampak termenung dan memikirkan saran dari Adam. Begitu jam pulang tiba, wanita itu tanpa sengaja melihat Dimas yang berdiri di pos security dan menanti dirinya keluar.


Wanita itu cukup terkejut saat melihat kehadiran Dimas. Tampang suaminya itu terlihat kusut dan pucat. Wajah murung Dimas juga terlihat sangat jelas. Nampak sekali kalau pria itu tengah menahan beban berat.


"Mas Dimas?" gumam Tiara sembari memandangi Dimas dari kejauhan.


Dimas terlihat putus asa. Hal itu pun semakin membuat Tiara merasa tak tega sangat melihat Dimas yang begitu dirindukannya.


"Aku kangen, Mas. Kapan kita bisa sama-sama lagi?"


Sepertinya Tiara tak mau tinggal satu atap bersama dengan ibu mertuanya. Sekeras apa pun Dimas membujuknya, Tiara hanya akan kembali jika Bu Ismiyati pergi dari rumah suaminya.


****

__ADS_1


__ADS_2