Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah

Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah
chap 15


__ADS_3

Bab 15


"Tiara! Pulang, Tiara!" gumam Dimas dengan mata terpejam.


Pria itu nampaknya tengah mengigau. Tak lama kemudian, Dimas pun membuka mata dan mendapati dirinya masih terlelap di ranjang.


Ternyata Dimas bermimpi. Saking rindunya pada sang istri, membuat pria itu memikirkan Tiara sampai ke alam mimpi.


Lima hari sudah Tiara meninggalkan rumah. Dimas masih rutin menghubungi Tiara dan mengirim banyak pesan untuk meminta wanita itu pulang, tapi hasilnya nihil. Tiara masih bersikeras tak mau pulang.


"Dimas, udah hampir siang! Kamu mau bangun jam berapa?" tegur Bu Ismiyati yang muncul di dalam kamar Dimas.


Wanita paruh baya itu masuk ke kamar Dimas dan melihat putranya yang masih duduk di ranjang. Wajah Dimas terlihat pucat. Keringat dingin juga mulai mengucur deras di dahinya.


"Iya, Bu. Dimas kesiangan," ucap Dimas dengan suara lemas.


Bu Ismi mengamati sang putra dengan seksama. "Kamu pucat banget," cetus Bu Ismiyati sembari memeriksa dahi Dimas.


Wanita itu agak terkejut saat ia merasakan suhu tinggi di tubuh Dimas. "Kamu demam, ya?" tanya Bu Ismiyati mulai cemas.


Dimas menggeleng pelan. "Dimas nggak kenapa-napa, Bu. Dimas mau siap-siap sekarang," ujar Dimas.


"Siap-siap ke mana?" tanya Bu Ismiyati lagi. "Kamu nggak boleh ke mana-mana! Istirahat aja di rumah. Nggak perlu pergi kerja."


"Dimas nggak apa-apa kok, Bu. Dimas baik-baik aja."


"Baik-baik aja apanya? Muka kamu pucet banget. Badan kamu jga panas," sahut Bu Ismiyati.


Puncak kerinduan Dimas membuat pria itu akhirnya jatuh sakit. Hal ini pun membuat Bu Ismiyati merasa iba pada putranya yang sakit saat ditinggal istri.


"Kamu istirahat aja dulu. Ibu ambilin teh hangat, ya?" tawar Bu Ismiyati.

__ADS_1


Karena tak ada Tiara di rumah, jadilah Bu Ismiyati yang harus mengurus putranya sendiri. "Minum dulu tehnya. Ibu ambilin obat panas. Kamu mau bubur juga nggak? Ibu bikinin, ya?"


Bu Ismiyati merawat putranya dengan telaten, meskipun dalam hati wanita itu agak kesal karena kepergian Tiara, tapi Bu Ismiyati tetap harus merawat putranya.


"Terima kasih ya, Bu!" ucap Dimas pada sang ibu yang sudah menjaganya dengan baik.


Bu Ismi duduk di samping Dimas sembari mengusap lembut punggung tangan putranya. "Buat apa terima kasih segala?" sahut Bu Ismiyati. "Untung aja ada Ibu di sini! Kalau kamu di rumah sendiri kaya gini gimana? Udah sakit, tapi di rumah sendirian."


Dimas hanya bisa tersenyum. Kalau Tiara ada di rumah, ia yakin istrinya juga tidak akan menelantarkan dirinya disaat sakit seperti ini.


"Istri kamu beneran kebangetan! Kamu nggak bisa apa nyuruh dia pulang cepat? Suami lagi sakit kaya gini tapi dia nggak pulang-pulang dan lebih mentingin kerjaan," gerutu Bu Ismiyati masih saja kesal tiap kali ia mengingat tentang Tiara.


Bu Ismiyati merasa miris dan kasihan pada putranya yang tidak mendapatkan perhatian istri ketika sakit. "Cepat kamu hubungi Tiara sekarang! Kamu suruh pulang aja!"


"Dimas nggak mau bikin Tiara cemas, Bu. Lagian Dimas kan cuma demam biasa aja. Dimas juga nggak sakit parah. Dimas nggak mau gangguin kerjaan Tiara," sahut Dimas.


"Mau sampai kapan istri kamu kaya gini terus? Buat ngurus kebutuhan sehari-hari kamu aja Tiara nggak bisa. pas lagi sakit kayak gini pun Tiara juga nggak bisa nemenin kamu. Kalau udah begini, apa gunanya kamu punya istri?"


"Jangan ngomong gitu, Bu! Kalau Tiara bisa milih, Dimas yakin Tiara pasti milih Dimas kok. Tiara juga sebenarnya perhatian kok, Bu. Mungkin cara perhatiannya aja yang beda dari Ibu," timpal Dimas.


"Udah, Bu. Dimas percaya sama Tiara. Bagi Dimas, Tiara udah cukup perhatian sebagai seorang istri," ujar Dimas menyudahi perdebatannya dengan sang ibu mengenai Tiara. "Dimas mau istirahat dulu!"


Dimas mengubah posisi tidurnya dan memejamkan mata sembari memunggungi sang ibu. Bu Ismiyati makin tidak tega melihat putranya yang terlihat merana. Disaat-saat seperti ini, pasti Dimas sangat merindukan kehadiran Tiara.


"Ya, udah, kamu istirahat aja. Nanti ibu bangunin pas waktunya makan siang."


****


"Kok demam kamu nggak turun juga? tanya Bu Ismiyati sembari memeriksa suhu tubuh sang putra. "Kita ke dokter aja, ya?"


"Nggak perlu, Bu. Dimas cuma masuk angin biasa," sahut Dimas.

__ADS_1


"Masuk angin biasa gimana? Badan kamu masih panas sejak pagi," cetus Bu Ismiyati makin dibuat khawatir dengan keadaan putra kesayangannya.


"Ibu kompres aja, ya?" tawar Bu Ismiyati bergegas mencari handuk dan air es.


Dimas mengangguk seraya melempar senyum tipis. "Terima kasih, Bu. Maaf ya Dimas ngrepotin," sahut Dimas.


"Ngrepotin apanya? Kalau nggak ada istri kaya gini, siapa lagi yang bisa urus kamu kalau bukan Ibu?"


Bu Ismiyati begitu telaten mengurus Dimas dan melakukan banyak hal demi membantu putranya menurunkan panas. Bu Ismiyati membelikan berbagai macam obat penurun panas dan mengompres Dimas berulang kali.


Tak hanya panas saja, Dimas juga mulai batuk dan mual. Wanita paruh baya itu makin dibuat takut dengan keadaan anaknya saat melihat Dimas muntah-muntah.


"Dimas, kita ke dokter aja, ya?" ajak Bu Ismiyati dengan manik mata berkaca-kaca.


"Suami lagi kaya gini, tapi Tiara malah ke mana, sih?" sungut Bu Ismiyati kesal dan marah pada Tiara yang tidak mengurus Dimas.


"Nggak perlu, Bu. Dimas baik-baik aja. Nanti juga demamnya turun," sahut Dimas menolak ajakan sang ibu yang berkali-kali menawarkan untuk memeriksakan diri ke dokter.


Bu Ismiyati mengusap sudut matanya yang sudah berair. Rasanya tak tega sekali melihat putranya yang terpuruk sendirian menahan rasa sakit seperti ini.


"Apa lagi yang kamu rasain? Perut kamu sakit? Kamu kedinginan? Hidung kamu mampet? Biar Ibu cariin obat flu," tukas Bu Ismiyati. "Kamu habis jajan sembarangan ya sampai muntah-muntah gini? Kamu makan apa aja kemarin? Kamu kurang tidur, ya?"


Bu Ismiyati menginterogasi sang anak dengan cerewetnya. Dimas tak memberikan banyak respon kecuali gelengan kepala.


"Udah, Bu. Dimas cuma butuh istirahat aja, kok. Ibu nggak perlu cemas," sahut Dimas.


Tak tahan melihat putranya menderita, Bu Ismiyati pun bergegas keluar dari kamar Dimas. Wanita paruh baya itu menangis melihat putranya yang menderita.


"Alamat tempat kerja Tiara ada di mana, sih?" gumam Bu Ismiyati kemudian.


Ibunda dari Dimas itu pun mulai sibuk mencari-cari hal yang berkaitan dengan tempat kerja Tiara. Nampaknya wanita paruh baya itu benar-benar berniat mendatangi Tiara ke tempat kerja demi putranya.

__ADS_1


"Aku harus bisa bawa Tiara pulang!"


****


__ADS_2