Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah

Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah
chap 18


__ADS_3

Bu Ismiyati kembali ke kamar dengan tubuh lemas. Wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum. Rasa hausnya sudah menghilang. Berganti dengan perasaan tak karuan memikirkan nasib putranya.


"Kenapa semuanya jadi begini? Apa salahku sama Tiara?" gumam Bu Ismiyati tak habis pikir dengan kelakuan menantunya yang meninggalkan rumah. "Memangnya salah kalau aku minta Tiara lebih rajin? Aku cuma pengen Tiara bisa merawat suaminya dengan baik."


"Tiara benar-benar egois. Bisa-bisanya dia melukai harga diri Dimas dan mementingkan egonya sendiri," gerutu Bu Ismiyati menyalahkan sikap Tiara.


Bu Ismiyati sangat kecewa pada Tiara. Wanita paruh baya itu benar-benar tidak menyadari kalau sikapnya selama ini telah menyiksa Tiara dan membuat menantunya itu menderita. Bagi Bu Ismiyati, hal yang terjadi saat ini adalah mutlak kesalahan Tiara.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa mendapatkan menantu seperti Tiara? Padahal aku hanya ingin mengajarinya berbakti pada suami. Aku mengajarkan hal yang benar, kan? Kenapa justru hal ini membuat Tiara berpisah dengan Dimas?"


Bu Ismiyati terus mengoceh sendiri dan merenungkan nasib putranya yang tidak mujur. Tentunya Bu Ismiyati tidak ingin rumah tangga anak kesayangannya hancur berantakan. Tapi tak dapat dipungkiri jika wanita paruh baya itu menyesal mempunyai menantu seperti Tiara.


"Dimas, kasihan sekali kamu, Nak," gumam Bu Ismiyati. "Padahal kamu sangat berbakti pada Ibu. Tapi kenapa kamu tidak bisa mendapatkan istri berbakti? Pada Ibu adalah istri berbakti yang menjadikan suaminya sebagai raja. Tapi kenapa kamu tidak bisa mendapatkan istri seperti Ibu?"


"Memangnya aku membuat Tiara tertekan? Memangnya aku membuat Tiara tersiksa? Seharusnya Dimas yang marah dan mengomeli Tiara. Tapi kenapa justru Tiara yang pergi dan memaksa Dimas untuk mengusirku? Apa sebenarnya yang ada di pikiran Tiara saat ini? Kenapa Tiara bisa tega sekali melakukan hal itu pada Dimas?"

__ADS_1


Bu Ismiyati mengingat kembali hari-harinya bersama dengan Tiara selama ia tinggal di Tangerang. Bu Ismiyati juga sudah cukup bersabar hingga ia mendiamkan Tiara dan membiarkan wanita itu bertingkah semaunya, dengan harapan Tiara bisa sadar dengan sendirinya tanpa harus dipaksa-paksa oleh Bu Ismiyati. Tapi nyatanya cara Bu Ismiyati tidak membuahkan hasil.


"Sampai suamiku meninggal, aku tetap berbakti pada suamiku. Sejak awal menikah, aku selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk suamiku. Kenapa istri-istri jaman sekarang tidak bisa menghargai suami dan berusaha lebih keras menjalankan peran dengan baik?" cetus Bu Ismiyati.


"Kalau begini jadinya, lebih baik Dimas nggak perlu punya istri sekalian. Apa gunanya punya istri yang nggak mau diatur dan nggak mau berbenah diri seperti itu? Kalau ujungnya aku sendiri yang harus merawat putraku, lebih baik Dimas nggak menikah sejak dulu!" geram Bu Ismiyati.


Sementara Bu Ismiyati tengah sibuk menggerutu tentang sikap menantunya, di tempat lain kini Tiara juga tengah sibuk meratapi nasibnya sendiri. Tidak hanya Bu Ismiyati saja yang terluka. Tiara juga dibuat kecewa dan tersiksa selama tinggal bersama dengan Bu Ismiyati. Tapi sampai Tiara pergi, Bu Ismiyati tidak juga sadar akan sikapnya yang terlalu menekan Tiara.

__ADS_1


__ADS_2