
Bab 8
"Mbak Tiara, laporannya minta dibenerin sama Pak Adam!" ujar seorang gadis bernama Lesti pada Tiara.
Saat ini Tiara tengah sibuk mengerjakan banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor. Wanita itu terlihat lelah dan tidak fokus. Tapi setidaknya di kantor, Tiara dapat bertingkah bebas tanpa terintimidasi dengan omongan mertua.
Meskipun pekerjaannya melelahkan, tapi Tiara lebih senang berada di kantor daripada beristirahat di rumah. Pulang ke rumah hanya membuat perasaan Tiara makin tidak tenang semenjak adanya Bu Ismiyati.
"Laporannya kenapa emang?" tanya Tiara pada Lesti.
"Katanya ada beberapa data yang beda sama aktual di lapangan. Diminta buat cek ulang. Pak Adam minta laporannya beres sebelum pulang," ungkap Lesti.
"Mbak Tiara kenapa sih beberapa hari ini? Dari kemarin diminta benerin laporan terus? Lagi nggak fokus, ya?" tanya Lesti.
Tiara hanya menggeleng pelan. Memang benar pikiran wanita itu saat ini sedang kacau dan membuatnya kehilangan fokus kerja. Tapi Tiara sudah berusaha sekeras mungkin untuk tidak mengacaukan pekerjaannya di kantor dan mencampur adukannya dengan masalah pribadinya di rumah.
"Kamu nggak usah sok tahu!" omel Tiara. "Daripada kamu kepoin aku, mendingan kamu kepoin aja itu staf-staf yang masih lajang!" ledek Tiara pada teman kerjanya yang masih single itu.
"Ih Mbak apaan, sih? Emangnya kenapa kalau aku masih jomblo?" sahut Lesti.
"Temen-temen kamu udah pada sebar undangan, tuh! Kamu kapan?" ejek Tiara lagi.
Wanita itu memang senang sekali mengganggu rekan kerjanya yang bernama Lesti. Ditambah lagi karena temannya itu masih gadis dan belum pernah menikah, Tiara pun sering menggunakan status jomblo temannya itu sebagai bahan untuk meledeknya.
"Nggak segampang itu sebar undangan, Mbak! Daripada nyebar undangan, aku lebih senang menyebar angpao ke keponakan, kok!" celetuk Lesti.
"Kamu masih betah banget sih menjomblo! Memangnya orang tua kamu nggak pernah nanya-nanya soal calon?" tanya Tiara.
"Kalau nanya sih udah sering, Mbak. Malah udah sering di pojok-pojokin juga, disuruh nikah cepet. Tapi mau nikah sama siapa, Mbak? Calonnya aja belum ada," sahut Lesti dengan gelak tawa.
__ADS_1
"Ya kamu buruan cari, dong! Nih cowok di kantor kan banyak. Kamu tinggal pilih yang lajang," timpal Tiara sembari tertawa kecil.
Keduanya nampak sibuk bercanda ria membahas status jomblo Lesti. "Cariin kenalan dong, Mbak! Kriteria aku nggak susah kok," ujar Lesti.
"Emangnya kamu pengen cari suami yang kaya gimana?"
"Aku nggak muluk-muluk kok Mbak mintanya. Yang penting tampan dan mapan," ungkap Lesti. "Tapi nanti dulu aja deh, Mbak! Sekarang juga aku udah seneng, kok! Bisa bebas main ke mana-mana. Bisa bebas deket sama siapa aja. "
"Masa sih kamu nggak iri orang-orang pada punya gandengan? Truk aja banyak yang gandengan kok, masa' kamu mau kalah sama truk?" gurau Tiara.
"Aku pengen jadi truk kecil aja, Mbak. Nggak apa-apa nggak punya gandengan, yang penting bisa bebas ke mana-mana. Nggak perlu cari jalan lebar. Masuk jalan sempit bisa. Nggak ribet kalau mau belok. Bebannya juga nggak berat," sahut Lesti.
Melihat Lesti yang nampak santai meskipun belum menikah, membuat Tiara cukup iri. Jujur saja, wanita itu benar-benar merindukan masa gadisnya. Tiara rindu masa-masa di saat dirinya bebas melakukan apa pun yang ia mau tanpa harus mempedulikan perkataan mertua.
"Kamu benar juga, sih. Jomblo juga kadang nyenengin," ujar Tiara.
"Tapi aku tetap aja iri sama temen-temen yang udah punya pacar sama suami," sahut Lesti.
"Sebenarnya aku agak takut sih Mbak nikah sekarang. Banyak yang aku pertimbangin. Makanya aku lebih milih jomblo dulu," sahut Lesti. "Nikah juga nggak selamanya nyenengin, kan? Justru nikah lebih berat, kan?"
"Kamu bener, Lesti. Beban nikah memang lebih berat. Kamu nikmati dulu aja masa muda kamu! Kalau kamu udah nikah nanti, akan ada masanya di mana kamu akan rindu sama hari-hari kamu waktu masih gadis," tukas Tiara.
"Mbak Tiara sendiri gimana? Setelah dua tahun nikah, Mbak Tiara pernah kangen nggak sama masa-masa mbak waktu masih gadis?" tanya Lesti kemudian.
Tiara hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan dari Lesti. Wanita itu hanya mengiyakan dalam hati.
****
Tok, tok! Tiara saat ini sudah berdiri di depan pintu ruangan Adam dan bersiap untuk membawa berkas-berkas pekerjaan yang sudah selesai ia kerjakan.
__ADS_1
"Masuk!"
"Permisi, Pak! Laporannya sudah saya selesaikan!" ujar Tiara sembari menyodorkan tumpukan berkas pada Adam.
"Sudah kamu betulkan semuanya?" tanya Adam.
"Sudah, Pak!"
"Duduk aja dulu. Saya mau bicara sebentar sama kamu," ujar Adam kemudian.
Kini Tiara tengah duduk berhadapan dengan atasannya. Sebagai manajer yang membawahi Tiara, Adam cukup kecewa dengan performa kerja Tiara selama beberapa hari terakhir ini.
"Kamu lagi ada masalah, ya?" tanya Adam mulai membuka perbincangan.
Tiara mulai menyadari kalau memang kinerja wanita itu agak menurun, apalagi semenjak Bu ismiati tinggal di rumahnya. "Saya minta maaf, Pak. Saya memang kurang fokus beberapa hari ini. Saya akan bekerja lebih baik lagi."
"Banyak laporan yang kacau beberapa hari ini. Sebenarnya saya agak kecewa dengan kinerja kamu beberapa hari terakhir. Kamu nggak biasanya seperti ini. Kalau memang kamu sedang ada masalah pribadi, tolong segera selesaikan. Jangan sampai masalah pribadi kamu berpengaruh sama pekerjaan kamu di sini!" tukas Adam panjang lebar.
"Saya berharap banyak sama kamu, Tiara. Kalau kamu emang ada kesulitan di kantor, kamu bilang aja ke saya," sambung Adam.
"Nggak, Pak. Saya nggak ada kesulitan di sini. Memang kinerja saya menurun murni karena kesalahan saya sendiri yang kurang fokus," terang Tiara.
"Besok tolong revisi ulang semua laporan yang kamu buat!" pinta Adam.
"Baik, Pak! Saya akan lebih memperhatikan lagi pekerjaan saya. Saya tidak akan mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi saya," sahut Tiara.
Wanita itu memilih untuk tidak menceritakan permasalahan yang ia punya sekarang. Lagipula Tiara juga bukan tipe orang yang mengumbar aib keluarganya sendiri. Wanita itu akan segera memikirkan solusi untuk menyelesaikan masalahnya agar kinerjanya tidak terus-menerus menurun seperti ini.
"Tolong bantu saya ya, Tiara? Kalau kamu kacau, saya juga ikut kacau. Pekerjaan teman-teman yang lain juga akan ikut terpengaruh," ujar Adam.
__ADS_1
"Saya mengerti, Pak. Saya akan berusaha untuk bersikap profesional. Saya tidak akan mengecewakan Bapak lagi," tegas Tiara pada sang atasan.
Usai mendapatkan teguran dari atasan, Tiara pun bertekad untuk segera mencari solusi atas masalahnya. "Aku nggak boleh terus-terusan kaya gini. Bisa-bisa pekerjaanku hancur," gumam Tiara. "Aku harus segera cari cara ngilangin stress karena Ibu."