
Tok, tok! Suara ketukan pintu terdengar cukup nyaring ke telinga Dimas dan Tiara. Keduanya pun langsung bergegas melangkah menuju pintu untuk melihat tamu yang datang.
"Biar aku aja yang buka, Mas!" ujar Tiara pada Dimas.
"Siapa yang dateng pagi-pagi begini?"
Tiara cukup terkejut saat ia membuka pintu. Di hadapannya saat ini sudah berdiri keluarga Adam beserta seseorang yang sangat familiar.
"Selamat pagi, Tiara! Kita nggak mengganggu, kan?" sapa Adam pada Tiara.
Adam membawa serta istri dan anaknya untuk berkunjung. Dan pria itu membawa seseorang yang tidak lain ialah Bu Ismi.
"Ibu!" Tiara langsung mencium punggung tangan ibu mertuanya begitu ia melihat Bu Ismi. Selama berhari-hari wanita itu mencemaskan Bu Ismiyati yang tidak ada kabar. Tiba-tiba saja ibunda dari suaminya itu datang bersama dengan Pak Adam.
"Mas Dimas!" panggil Tiara pada suaminya dengan penuh semangat. Dimas ikut tercengang begitu ia melihat sosok ibunya yang datang bersama dengan Adam.
"Ibu! Ibu ke mana aja? Kenapa Ibu nggak ngasih kabar?" Dimas meraih tangan sang ibu dan mencium tangan wanita paruh baya itu bertubi-tubi.
Ibu dan anak itu saling melepas rindu dengan manik mata berkaca-kaca. Mereka pun melanjutkan obrolan di dalam rumah Dimas dan menceritakan bagaimana Bu Ismi bisa bersama dengan Adam.
"Gimana ceritanya Ibu bisa sama Pak Adam sekarang? Ibu nggak pulang kampung?" tanya Tiara pada Bu Ismiyati.
"Ibu harusnya udah balik ke kampung, kan? Ibu nggak jadi naik keretanya?" sahut Dimas juga meminta penjelasan.
"Jadi begini, saya tidak sengaja bertemu dengan Bu Ismi di stasiun," ungkap Adam.
"Pada hari itu, saya berniat menjemput asisten yang datang dari kampung," sambungnya.
__ADS_1
"Kapan, Bu? Apa Pak Adam ketemu sama Ibu pas Ibu ke stasiun mau pulang waktu itu?" tanya Tiara.
"Jadi selama ini Ibu nggak pernah pulang ke Sukoharjo? Selama ini Ibu ada di sini?" tanya Dimas ikut menimpali.
"Dengerin aja dulu penjelasan dari Pak Adam," sahut Bu Ismiyati.
Pak Adam kembali melanjutkan ceritanya. "Sabar, ya? Saya akan ceritakan pelan-pelan."
"Waktu itu saat saya berniat menjemput asisten dari kampung, ternyata asisten dari kampung tidak jadi datang. Malah justru kami secara kebetulan berjumpa dengan Bu Ismi. Saat itu Bu Ismi terlihat kebingungan," terang Adam.
"Ternyata Bu ismi kejambretan," sambungnya.
"Apa? Kok bisa? Tapi ibu baik-baik aja, kan?" tanya Dimas cukup terkejut begitu mendengar kabar ternyata ibunya kejambretan. Pantas saja Dimas tidak pernah mendapatkan kabar dari sang ibu setelah Bu Ismiyati berangkat ke stasiun. Ternyata barang-barang Bu Ismiyati telah raib dibawa kabur oleh penjambret di stasiun.
"Ibu baik-baik aja. Untungnya Ibu ketemu sama Pak Adam di stasiun," sahut Bu Ismi.
"Ibu tinggal di rumah Pak Adam dan jadi ART? Kenapa Ibu nggak pulang aja ke sini?" Tanya Dimas.
"Ibu nggak enak numpang gratis di rumah Pak Adam. Pak Adam juga lagi butuh ART. Jadi Ibu menawarkan diri sekaligus sebagai ucapan terima kasih karena udah ditolong sebelumnya," ungkap Bu Ismiyati. "Soal kenapa Ibu nggak pulang ke sini ... kamu juga udah tahu sendiri alasannya, kan? Ibu nggak mau mengganggu rumah tangga kalian lagi. Ibu nggak mau bikin kalian susah dan terpisah."
Tiara dan Dimas tak menyangka Bu Ismiyati akan mengalami waktu yang sulit selama mereka terpisah. Bu Ismiyati bahkan tidak mau lagi kembali ke rumah Dimas, karena tidak ingin mengganggu rumah tangga putranya yang sempat ia acak-acak.
"Kenapa Ibu ngomong gitu? Dimas ini masih anak Ibu. Mana mungkin Dimas tega melantarkan Ibu? Dimas beneran cemas sama Ibu. Selama beberapa hari ini Dimas terus berusaha menghubungi Ibu. Tapi setelah Ibu pergi ke stasiun, Ibu nggak pernah ada kabar. Dimas kira Ibu beneran pulang ke Sukoharjo. Dimas pikir Ibu nggak mau lagi menghubungi Dimas," ujar Dimas dengan mata memerah.
Ibu dan anak itu pun mulai berurai air mata. Dimas menatap sang ibunda dengan wajah sendu nan pilu. Tak tega sekali ia melihat ibunya yang ternyata selama ini kebingungan mencari tempat berteduh, hingga akhirnya Bu Ismiyati harus tinggal di rumah orang asing dan menjadi asisten rumah tangga.
"Maafkan Ibu, ya? Ibu nggak mau lagi balik ke sini. Ibu nggak mau lagi bikin masalah di rumah ini. Ibu nggak mau lagi bikin kalian pisah," sahut Bu Ismiyati.
__ADS_1
"Ibu ngomong apa, sih? Kalau ada apa-apa, harusnya Ibu langsung pulang ke sini," timpal Dimas. "Maafin Dimas ya, Bu? Ini semua salah Dimas. Dimas nggak bisa jagain Ibu."
Tiara pun ikut angkat bicara. Hal ini tidak akan terjadi jika Tiara tidak meminta Bu Ismi untuk meninggalkan rumah dan pulang ke Sukoharjo.
"Ini semua salah Tiara. Seharusnya Tiara nggak bersikap kurang ajar ke Ibu sampai meminta Ibu pulang ke Sukoharjo. Tiara yang udah bikin gara-gara. Tiara udah bersikap kekanak-kanakan. Maafin Tiara ya, Bu?" ucap Tiara sembari bersimpuh di kaki ibu mertuanya.
Mereka bertiga menangis di depan Adam. Mereka bertiga mengakui kesalahan mereka. Tidak adanya kekompakan dan toleransi sudah membuat hubungan mereka bertiga tercerai berai.
Namun, kini situasinya sudah berubah. Baik Dimas, Tiara, maupun Bu Ismiyati sudah sadar dan mau memperbaiki kesalahan masing-masing.
"Nggak, Tiara. Ibu bisa memaklumi rasa kesal dan kemarahan kamu sama Ibu," sahut Bu Ismiyati.
"Ini semua karena Dimas, Bu. Maafin Dimas ya, Bu? Dimas belum bisa jadi anak yang baik buat Ibu. Maafin aku juga ya, Tiara? Aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu," ujar Dimas sembari memeluk ibu dan juga istrinya.
"Dimas yang udah gagal menjaga kalian berdua," imbuhnya.
Adam cukup lega akhirnya ia bisa membawa Bu Ismiyati kembali berkumpul bersama dengan putra serta sang menantu. Bu Ismiyati dan Tiara kini juga telah resmi berbaikan.
ibu mertua dan menantu itu sudah saling memaafkan dan akur kembali seperti sedia kala. Mereka mulai belajar memahami satu sama lain dan menghargai prinsip hidup masing-masing.
"Syukurlah kalau Bu Ismi sudah bisa berkumpul bersama dengan keluarga lagi," ujar Pak Adam lega melihat Bu Ismi rukun kembali bersama dengan keluarganya.
"Terima kasih banyak ya, Pak! Saya berutang banyak pada Pak Adam. Kaau tidak ada Pak Adam, saya tidak tahu bagaimana sekarang nasib ibu saya," ucap Dimas.
"Nggak perlu sungkan begitu. Saya juga senang bisa membantu Bu Ismi," tukas Pak Adam.
Dimas pun beralih menatap ibu dan juga istrinya. Setelah melewati perdebatan yang panjang hingga melalui pilihan yang sulit, akhirnya Dimas bisa merangkul kembali ibu dan juga istrinya untuk hidup bersama dengan damai.
__ADS_1
****