Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah

Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah
chap 7


__ADS_3

Bab 7


Saat ini Bu Ismiyati tengah berkumpul dengan ibu-ibu kompleks di perumahan Cipta Asri. Ibu-ibu itu mengadakan perkumpulan bersama, sekaligus berbincang ringan untuk menghabiskan waktu.


Seperti ibu-ibu pada umumnya, mereka lebih banyak bergosip dan saat ini tengah membahas tentang rumah tangga dan juga menantu mereka. Tentang rumah tangga dan juga menantu mereka.


"Saya lagi sebel banget sama suami. Saya nambah ikut arisan nggak dibolehin. Tadinya kan saya ikut arisan di tiga tempat. Sekarang saya cuma dibolehin ikut arisan di satu tempat," ungkap seorang ibu-ibu yang tengah mencurahkan isi hatinya.


"Sama, Bu. Saya juga dibatasi ikut arisan sekarang. Padahal kan arisan kita ini juga ajang bersosialisasi bersama, kan?" timpal ibu-ibu yang lain.


Bu Ismiyati yang berada di kerumunan ibu-ibu itu hanya bisa manggut-manggut sembari mendengarkan cerita beragam dari banyaknya wanita paruh baya yang berkumpul bersama dengannya.


"Anak saya sekarang juga ikutan bawel. Padahal menantu saya juga ikut banyak arisan. Tapi saya nggak dibolehin."


"Menantu saya juga ikut arisan aneh-aneh, Bu. Ikut arisan makananlah. Ikut arisan emaslah. Sampai ikut arisan barang juga, Bu. Pusing anak saya cari uang cuma buat dipakai bayar arisan."


Nampaknya para wanita paruh baya itu terlihat asyik membahas mengenai arisan. Bu Ismiyati sendiri tidak memberikan banyak tanggapan karena selama pindah ke Tangerang pun, wanita paruh baya itu juga tidak mengikuti banyak perkumpulan ibu-ibu.


"Bu Ismi sendiri gimana? Bu Ismi baru kan di sini? Ikut arisan di sini nggak, Bu?" tanya seorang ibu-ibu mengajak Bu Ismiyati untuk ikut terlibat dalam perbincangan mereka mengenai arisan.


"Saya nggak terlalu aktif ikut arisan," ujar Bu Ismiyati.


"Tapi di kampung ada kan, Bu?"


"Di kampung juga sama aja kaya di sini, Bu. Ada banyak macam arisan juga. Tapi saya cuma ikut beberapa. Cuma untuk menyambung silaturahmi aja," sahut Bu Ismiyati.


"Suami sama anak-anak saya juga nganggepnya saya boros ikut arisan. Padahal arisan ini kan juga tujuannya buat nyambung silaturahmi. Salah satu upaya sosialisasi juga. Tapi kalau ikutnya kebanyakan juga nggak terlalu bagus, sih," cetus ibu-ibu di sana.


"Iya, Bu. Kadang ada kan ibu-ibu boros yang kecanduan arisan. Menantu saya sampai pinjol cuma demi bayar arisan."

__ADS_1


Topik pembahasan pun mulai merembet membicarakan tentang para menantu ibu-ibu tersebut. "Kalau menantu saya nggak kecanduan arisan. Menantu saya kecanduan pinjol buat belanja barang nggak jelas. Menantu saya beneran nggak bisa ngatur uang."


"Menantu saya juga boros. Bukan cuma boros, tapi juga males banget. Tiap hari kegiatannya cuma malas-malasan. Padahal menantu saya di rumah, tapi disuruh masak nggak mau. Tiap makan selalu aja jajan. Padahal kan lebih hemat kalau masak sendiri di rumah."


Saat para ibu mertua mulai sibuk menjelekkan menantunya, sebenarnya Bu Ismiyati juga ingin sekali mengungkapkan sesuatu mengenai Tiara. Tapi wanita paruh baya itu berusaha keras untuk menahan diri.


"Menantu saya juga cuma di rumah tapi kerjaannya malas-malasan terus. Bilangnya sih udah capek ngurus anak. Padahal cucu saya sering dibiarin main sendiri."


"Bu Ismi sendiri gimana? Tiara gimana di rumah, Bu?" tanya seorang ibu-ibu yang menanyakan tentang Tiara.


Walaupun Bu Ismiyati sering mengeluhkan sikap Tiara, tapi wanita paruh baya itu tidak tega jika harus menjelek-jelekkan menantunya di depan orang banyak seperti ini. Bagaimanapun juga, Tiara adalah wanita yang paling dicintai oleh putranya. Sekesal apapun Bu Ismiyati, wanita paruh baya itu tidak akan mengumbar aib rumah tangga putranya sendiri.


"Tiara udah capek kerja, jadi saya cuma bisa maklumi kalau Tiara sering beli makanan di luar," sahut Bu Ismiyati. "Biarpun Tiara jarang di rumah dan ngurus pekerjaan rumah tangga, tapi Tiara udah bekerja keras membantu keuangan Dimas."


"Bu Ismi beruntung banget ya punya menantu yang bekerja? Menantu saya sih bisanya cuma habisin uang anak saya," timpal yang lain.


"Iya, Bu. Menantu saya juga kerjaannya cuma ngabisin uang suaminya terus di rumah!"


"Tiara juga boros nggak di rumah, Bu?" tanya seorang ibu-ibu pada Bu Ismiyati lagi.


"Tiara nggak terlalu boros. Tiara juga cukup pandai mengatur uang. Ditambah lagi Tiara juga punya penghasilan sendiri, jadi anak saya nggak terlalu terbebani ngurus kebutuhan rumah tangga. Udah ada Tiara yang bantu mengurus kebutuhan rumah," ujar Bu Ismiyati.


"Saya jadi iri sama Ibu. Ibu beruntung ya punya menantu yang bekerja."


Akhirnya acara gosip itu pun selesai. Bu Ismiyati pun bergegas pulang ke rumah sebelum putra dan menantunya kembali dari kantor. Di perjalanan pulang, Bu Ismiyati kembali berjumpa dengan Adam.


Pria itu nampak sibuk menyapa beberapa warga yang berpapasan dengannya sembari menenteng plastik kresek yang berisi barang belanjaan.


"Selamat sore, Bu!" sapa Adam pada Bu Ismiyati.

__ADS_1


"Selamat sore, Mas! Baru pulang kerja?" tanya Bu Ismiyati.


Wanita paruh baya itu menyapa Adam dengan ramah dan hanya memandang pria itu sebagai tetangga biasa. Padahal sebenarnya Adam adalah atasan dari Tiara. Tapi sepertinya Bu Ismiyati tidak tahu kalau Adam adalah bos dari menantunya.


"Iya, Bu. Saya baru pulang. Tiara juga pasti udah dalam perjalanan pulang," sahut Adam.


"Mas bawa apa?" tanya Bu Ismiyati keheranan saat melihat pria itu membawa tentengan plastik besar yang berisi banyak bahan makanan dan bumbu dapur.


"Oh ini, Bu? Saya baru aja belanja dari warung," ungkap Adam.


Bu Ismi nampak terkejut. Bagi Bu Ismiyati, sungguh pemandangan yang aneh saat melihat seorang pria membawa plastik berisi sayuran, terlebih lagi pria tersebut juga baru saja pulang setelah lelah bekerja. "Belanja di warung? Memang istrinya ke mana? Baru pulang kerja kok udah mampir aja ke warung belanja sayuran," komentar Bu Ismiyati.


Adam lempar senyum tipis pada Bu Ismiyati. "Istri ada di rumah, Bu. Saya bantuin belanja karena sekalian lewat juga," sahut Adam.


"Daripada istri saya harus keluar rumah, mendingan saya yang membelikan pesanan istri mumpung searah dengan jalan pulang," sambung pria itu.


Bu Ismiyati terdiam tanpa bisa memberikan tanggapan. Wanita paruh baya itu tak percaya melihat seorang suami yang sudah lelah bekerja, tapi masih disuruh-suruh berbelanja oleh istrinya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu!" pamit Adam segera berlalu meninggalkan Bu Ismiyati.


Bu Ismiyati hanya mengangguk sembari melempar senyum canggung. Wanita paruh baya itu menatap punggung Adam yang mulai menjauh dengan tatapan nanar.


"Kenapa jadi dia yang harus pergi belanja? Padahal istrinya ada di rumah. Kok mau maunya sih diperintah sama istri kayak gitu?" gumam bu Ismiyati terlihat iba pada nasib Adam.


"Beneran kebangetan istrinya Mas Adam! Suami pulang bukannya disambut pakai teh hangat, malah disuruh belanja ke warung!"


Bagi Bu Ismiyati, tentu saja berbelanja apalagi kebutuhan dapur, adalah tugas mutlak seorang istri. Bu Ismiyati merasa sikap istri dari Adam sudah keterlaluan dan tidak sopan pada Adam yang sudah lelah bekerja.


"Kasihan sekali Mas Adam. Dia pasti menderita banget hidup sama istrinya."

__ADS_1


*****


__ADS_2