
Bu Ismiyati termenung menatap langit-langit kamarnya. Wanita paruh baya itu nampak tengah memikirkan sesuatu.
"Raja dan ratu, ya? Kenapa adam ngomong gitu, sih?" gumam Bu Ismiyati ternyata masih teringat dengan kata-kata Adam tadi.
Raja dan ratu seharusnya berjalan beriringan. Layaknya suami istri, seharusnya tidak ada yang direndahkan di antara keduanya. Kata-kata Adam itu terus berputar-putar di kepala Bu Ismiyati.
Wajar saja jika orang-orang memiliki pandangannya sendiri terhadap suatu hal. Namun, sayangnya Bu Ismiyati tidak mau menghargai pendapat orang lain. Menurut Bu Ismiyati, penilaiannya yang paling benar. Menurut Bu Ismiyati, pendapatnya yang harus digunakan.
"Kalau semua orang berpikir suami istri adalah raja dan ratu, pasti banyak perempuan manja di dunia ini. Pasti banyak perempuan yang kurang ajar dan semena-mena sama suami," ujar Bu Ismiyati.
__ADS_1
"Nggak ada salahnya juga kan mengabdi dengan melayani suami? Lagian aku juga nggak mau punya menantu ngelunjak kayak istrinya Adam yang suka nyuruh-nyuruh suami," imbuh Bu Ismiyati.
Semalaman Bu Ismiyati tidak dapat tidur. Wanita paruh baya itu sibuk mengganti posisi tubuh, hingga ia tak bisa terlelap dengan nyenyak.
Pikirannya mulai melayang, mencemaskan kehidupan rumah tangga putranya yang hampir hancur. Padahal dulu Bu Ismiyati cukup akur dengan menantunya. Siapa sangka hubungannya dengan sang menantu akan berakhir seperti ini setelah mereka tinggal bersama.
Biasanya Bu Ismiyati hanya bertemu dengan Tiara saat putra dan menantunya itu pulang kampung. Selama di kampung pun, Bu Ismiyati dapat memaklumi semua tindakan Tiara. Tapi setelah tinggal bersama, Bu Ismiyati dikejutkan dengan banyak tingkah Tiara yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Sebenarnya maksud sikap Tiara ini apa, sih? Apa dia nganggap kalau dirinya ratu? Apa dia punya pemikiran yang sama seperti Adam? Apa dia ngerasa kalau dia adalah ratu yang harus dimanja sama suami?" gerutu Bu Ismiyati. "Pantas aja jaman sekarang banyak suami yang takut sama istri. Ternyata karena pemikiran yang seperti ini? Beberapa istri pasti nganggap mereka adalah ratu, makanya mereka semena-mena sama suami dan nggak hormat sama suami."
__ADS_1
Keadaan ini tentu saja sangat berbeda jauh dengan jaman yang dialami oleh Bu Ismiyati. Pada jaman dahulu, terlebih lagi di kampung, para istri diwajibkan untuk mengurus rumah tangga. Para istri harus menghormati dan melayani suami layaknya mengabdi pada seorang raja.
Hal itu dikarenakan para perempuan jaman dulu masih tertinggal dan terbelakang. Terlebih lagi, emansipasi wanita juga belum terlalu digalakkan.
Jaman dulu, para wanita hanya dituntut untuk mengurus dapur. Sehingga Bu Ismiyati pun ikut menerapkan aturan yang sama untuk para perempuan di keluarganya. Padahal jaman sudah berubah. Dan tidak ada pula aturan yang mewajibkan seorang istri harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sendiri.
Sayangnya belum ada yang bisa mengubah pikiran kolot Bu Ismiyati. Wanita paruh baya itu hanya bisa memaksakan pendapatnya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Harusnya dulu aku mengenali Tiara lebih dalam, sebelum menyetujui hubungannya dengan Dimas. Kalau aku nggak tinggal bersama dengan Tiara di sini, sampai kapan pun aku nggak akan pernah tahu kalau Tiara ternyata hanyalah seorang istri yang malas," ujar Bu Ismiyati.
__ADS_1