
Bab 11
"Jawab, Mas! Kamu pilih aku atau ibu kamu?" tanya Tiara terus menerus menekan Dimas dengan pertanyaan yang sama.
Pertengkaran mereka masih berlanjut hingga larut malam. Tiara tidak ingin menunda-nunda masalah ini lagi. Dimas tidak bisa terus-terusan bersikap plin-plan seperti ini. Tiara ingin suaminya segera mengambil langkah tegas untuk memperbaiki ketidaknyamanan rumah tangga mereka akibat kehadiran Bu Ismiyati.
"Kamu laki-laki kan, Mas? Jawab sekarang! Kalau kamu nggak mau jawab juga, mendingan aku aja yang pergi dari rumah ini!" tegas Tiara.
Dimas langsung meraih dengan Tiara dan mencegah wanita itu untuk pergi. "Jangan begini, Tiara! Aku nggak mungkin memilih salah satu di antara kalian! Kamu dan Ibu sama-sama pentingnya buat aku!" ujar Dimas.
"Kamu harus tepatin janji kamu ke ayah aku, Mas! Kamu janji kamu bakal jagain aku seumur hidup kamu! Tapi mana? Di depan ibu kamu aja kamu nggak bisa belain aku!" protes Tiara.
"Aku akan jagain kamu! Apa pernah aku nelantarin kamu? Aku cuma minta satu hal sama kamu, tolong kamu ngertiin posisi aku. Tolong kamu bantu aku jaga ibu aku! Gimana pun juga wanita yang bikin kamu kesel sekarang masih ibu kandung aku! Kamu pengen aku jadi anak durhaka?"
Dari jawaban Dimas, melihat jelas jika pria itu tidak akan memulangkan ibunya. Karena itu, Tiara pun memutuskan untuk mengalah dan menjauh dari Dimas. Lebih baik wanita itu yang pergi, jika memang Dimas tidak mau melepaskan Bu Ismiyati.
"Baik! Mas nggak mau lepasin ibu Mas, kan? Kalau gitu lebih baik Mas lepasin aku aja!" sahut Tiara kemudian bergegas mengemasi pakaiannya.
Dimas pun makin dibuat panik. Sepertinya kali ini Tiara tidak main-main. Jika sebelumnya Dimas masih bisa menangani keluhan Tiara, sepertinya kali ini Dimas tidak akan bisa mencegah kepergian Tiara.
"Tiara kamu mau ngapain?" Dimas mencoba merebut pakaian yang hendak dikemasi oleh Tiara.
"Kamu lebih pilih hidup sama ibu kamu daripada sama aku, kan? Aku kabulin keinginan kamu! Aku bantu kamu supaya kamu nggak jadi anak durhaka!" timpal Tiara.
"Kamu nggak boleh pergi! Kamu nggak boleh ke mana-mana!"
__ADS_1
"Aku nggak mau hidup sama suami plin-plan kaya kamu! Tinggal di rumah ini udah nggak bisa bikin aku bahagia, Mas! Tinggal di rumah ini cuma bisa bikin aku stres!"
Meskipun Tiara terus mengamuk, Dimas masih tetap membujuk sang istri dengan sabar. Namun, pria itu tetap tidak bisa memilih salah satu diantara ibunya atau istrinya.
Keduanya sama berharganya dan ingin dijaga oleh Dimas. Tak mungkin Dimas memulangkan ibunya ke Sukoharjo dan membiarkan wanita paruh baya itu tinggal sendirian. Dan tak mungkin juga pria itu mengusir istrinya sendiri yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Tiara, tolong jangan pergi!" Dimas memeluk istrinya dengan erat dan memohon-mohon agar Tiara tidak meninggalkan dirinya.
Namun tekad Tiara sudah bulat. Tiara tak mau lagi mendengar bujukan Dimas. Kecuali Dimas menurut keinginannya untuk memulangkan Bu Ismiyati, Tiara akan tetap pergi dari rumah tersebut.
"Maaf, Mas! Tinggal sama kamu udah nggak bikin aku seneng. Mungkin buat kamu sepele. Tapi kamu nggak tahu gimana beratnya jadi istri yang bekerja. Kamu nggak akan pernah tahu gimana beratnya menjadi menantu wanita yang menghadapi ibu mertua!"
Dimas terdiam sejenak. Pria itu mulai kehabisan akal untuk membujuk istrinya. Tapi Dimas tetap tidak akan melepaskan Tiara. Dimas tidak akan melepaskan keduanya.
Tiara tak mau lagi menggubris. Setiap kali mereka membahas hal ini, Dimas hanya bisa meminta Tiara untuk terus bersabar. Sedangkan pria itu tidak pernah melakukan apa pun untuk menyelesaikan masalah. Tiara terus yang harus mengalah.
"Udah berapa kali Mas minta aku buat bersabar? Udah berapa kali juga aku terus bersabar buat, Mas? Kenapa harus aku terus yang bersabar? Aku punya suami, tapi aku nanggung semuanya sendiri!" Tiara mengusap air mata yang sudah jatuh di pipinya.
Wanita itu juga tidak ingin rumah tangganya berakhir seperti ini. Semuanya berjalan lancar sebelum Bu Ismiyati datang. Hari-hari tenang Tiara mulai hilang sejak Bu Ismi ikut campur mengatur semua urusan dalam hidupnya.
"Mungkin aku terlalu lunak sama kamu. Aku selalu berusaha patuh sama kamu. Aku selalu ngasih kesempatan buat kamu. Tapi kamu sendiri nggak pernah berjuang buat aku, kan? Kamu bebasin ibu kamu bertingkah semena-mena sama aku! Kamu bebasin ibu kamu ngatur ini itu ke aku! Tapi kamu pernah mikirin nggak gimana perasaan aku?" tanya Tiara.
"Kamu nggak pernah peduli sama perasaan aku, kan? Kamu nggak pernah peduli sama lelahnya aku, kan? Kamu nggak pernah peduli sama jengkelnya aku, kan?" sambung Tiara.
Dimas tak dapat lagi berkata-kata. Perlahan pria itu mulai sadar kalau semua ini terjadi karena salahnya. Salah Dimas yang tidak bisa bersikap tegas. Salah Dimas yang tidak bisa menjadi penengah di antara istri dan ibunya.
__ADS_1
"Sekarang kamu bisa bebas rawat ibu kamu di rumah ini. Aku nggak akan maksa kamu buat jadi anak durhaka!"
Tepat di pagi hari, Tiara pun menenteng barang bawaannya dan bergegas meninggalkan rumah suaminya. Tentu saja wanita itu tidak berpamitan pada Bu Ismiyati. Bahkan Bu Ismiyati sendiri tidak tahu jika putra dan menantunya tengah bertengkar malam tadi.
"Tiara, tolong jangan tinggalin aku!" Untuk yang terakhir kalinya Dimas masih mencoba memohon pada Tiara dan mencegah kepergian sang istri.
Tapi semua perkataan Dimas tidak mampu untuk menghentikan langkahnya. Tiara tetap pergi meninggalkan rumah suaminya tanpa mempedulikan Dimas yang saat ini sudah terduduk lemas di depan pintu.
"Dimas? Kamu ngapain di sini?" tegur Bu Ismiyati yang baru saja kembali dari warung di pagi hari.
Bu Ismiyati tidak tahu kalau menantunya sudah pergi, karena Bu Ismiyati sendiri juga tidak sedang berada di rumah. Wanita itu sedang berada di warung dan tidak melihat kepergian Tiara.
"Kenapa muka kamu pucat banget?" tanya Bu Ismiyati lagi pada Dimas.
"Kamu berangkat kerja lebih pagi hari ini, ya? Tumben udah bangun," cetus wanita paruh baya itu lagi.
Dimas masih tetap bungkam. Pertanyaan-pertanyaan dari Bu Ismiyati hanya membuat pria itu pusing.
"Tiara mana? Tiara udah bangun?" tanya Bu Ismiyati mulai menanyakan sang menantu.
Hati Dimas sakit sekali saat mendengar nama Tiara terucap dari mulut sang ibu. "Tiara belum bangun, ya? kamu ngapain sih di depan pintu?" tanya Bu Ismiyati mulai tidak sabaran.
"Dimas? Kamu baik-baik aja, kan? Bilang sama Ibu sekarang, Tiara ada di mana?"
****
__ADS_1