
Bab 13
Tiara duduk termangu seorang diri di halte dengan membawa koper dan banyak barang bawaan. Wanita itu memandangi kendaraan yang berlalu-lalang dengan tatapan kosong.
"Aku harus pergi ke mana?" gumam Tiara bingung.
Wanita itu pergi dari rumah suaminya tanpa rencana. Tiara tak tahu ke mana kakinya harus melangkah.
"Kenapa pernikahanku jadi kaya gini?" oceh Tiara dengan manik mata berkaca-kaca.
"Sebelum Ibu datang, semuanya masih baik-baik aja. Sebelum Ibu datang, aku hidup bahagia sama Mas Dimas. Kenapa semuanya jadi begini?" Tiara menangis seorang diri di halte yang sepi itu.
Tiara benar-benar kesal dan kecewa pada suami serta ibu mertuanya yang tak mau mengerti dirinya. Tiara sudah berusaha keras menjalankan tugas sebagai istri dengan baik disaat dirinya masih harus membantu suaminya mencari nafkah.
Pikiran wanita itu mulai melayang ke mana-mana. Penyesalan dan kekesalan mulai bercampur aduk dalam hatinya.
"Aku pergi ke mana, ya?" gumam Tiara sembari mengotak-atik ponselnya.
Setelah lama termenung di halte, akhirnya Tiara pun memutuskan untuk menghubungi temannya, Lesti. Tiara tidak tahu lagi siapa orang yang bisa ia hubungi untuk meminta bantuan. Daripada ia mencari hotel dadakan, lebih baik Tiara mencoba mencari tumpangan pada teman-temannya.
"Halo, Lesti?"
"Kenapa, Mbak?" sahut Lesti melalui sambungan telepon.
"Kamu di mana sekarang?"
"Di kosan, Mbak. Ada apa, Mbak?"
Tiara memainkan jemarinya dan nampak sungkan untuk memberitahu Lesti. Tapi Tiara tidak mempunyai pilihan lain. "Aku boleh ke kosan kamu nggak?"
__ADS_1
"Sekarang? Boleh, Mbak. Datang aja!"
"Makasih ya, Lesti! Aku jalan ke sana sekarang, ya?"
Tiara bergegas menyeret kopernya menuju ke kosan Lesti. Begitu sampai di tempat Lesti, teman kerjanya itu cukup terkejut saat melihat Tiara yang membawa banyak barang.
"Mbak Tiara ngapain bawa koper?" tanya Lesti keheranan.
Tiara menampakkan senyum tipis. Wanita itu masuk ke dalam kosan Lesti terlebih dahulu sebelum menceritakan hal yang terjadi padanya, hingga membuat Tiara kabur dari rumah.
"Masuk dulu, Mbak. Mau minum apa? Aku bikinin teh hangat, ya?" tawar Lesti dengan penuh perhatian.
Tanpa banyak bertanya, Lesti seharusnya sudah tahu kalau Tiara saat ini telah kabur dari rumah, melihat wanita itu yang pergi dengan membawa koper besar.
"Nggak perlu. Makasih banyak. Maaf ya udah bikin kamu repot," ucap Tiara sungkan.
"Nggak masalah, Mbak. Aku nggak merasa direpotin kok."
"Ngerepotin apa, Mbak?"
"Aku ... boleh nginep di sini untuk sementara waktu nggak?" tanya Tiara kemudian.
Sebelum Lesti memberikan jawaban, tentu saja gadis itu ingin tahu terlebih dahulu sebenarnya apa yang terjadi pada Tiara. "Maaf Mbak, bukannya aku mau ikut campur, tapi aku boleh tahu nggak kenapa Mbak pergi dari rumah sambil bawa koper? Mbak kabur dari rumah?"
Tiara menundukkan kepala. "Aku lagi ada masalah sama Mas Dimas."
Lesti dapat memaklumi. Meskipun dirinya masih gadis, tapi Lesti cukup paham mengenai permasalahan rumah tangga.
"Tapi kenapa Mbak sampai harus kabur segala? Memangnya nggak bisa Mbak bicarakan baik-baik dulu? Bukannya aku mau sok tahu, tapi kalau Mbak sampai pergi dari rumah begini, suami Mbak pasti cemas," sahut Lesti.
__ADS_1
"Aku juga nggak mau kaya gini. Aku juga nggak mau pergi dari rumah. Tapi aku nggak punya pilihan lain, Lesti!" terang Tiara. "Rumah yang aku tempati bersama suamiku bukan lagi rumah yang nyaman buat aku. Makanya aku lebih memilih buat pergi."
Tiara pun mulai menceritakan permasalahannya dengan sang ibu mertua yang terlalu mengatur dirinya. Bukan maksud Tiara untuk menjelek-jelekan ibu mertuanya, tapi wanita itu hanya tidak suka dipaksa mengikuti peraturan yang berbeda jauh dengan prinsip yang dianutnya.
"Aku tahu maksud ibu mertua aku tuh baik. Tapi aku juga punya caraku sendiri. Aku juga punya pendapatku sendiri. Tapi ibu mertuaku nggak pernah mau menghargai pendapatku," ujar Tiara.
Lesti hanya dapat manggut-manggut tanpa memberikan banyak komentar. "Suami Mbak pasti sekarang lagi bingung banget terjepit di antara Mbak sama ibunya."
"Aku cuma pengen Mas Dimas bersikap tegas. Aku juga cuma manusia biasa, Lesti. Aku nggak bisa terus-terusan sabar. Aku nggak mau mengorbankan kebahagiaanku buat orang lain. Aku yang sekarang udah nggak bahagia tinggal di rumah sama mertuaku," terang Tiara panjang lebar.
"Tapi wajar kalau suami Mbak kesulitan mengambil keputusan. Suami Mbak pasti juga pasti bingung dan ingin mempertahankan Mbak serta ibunya," cetus Lesti berusaha bersikap netral tanpa ikut menyalahkan Dimas.
Lesti dapat memahami kebimbangan Dimas yang tidak bisa memilih antara istri dan juga ibu. Gadis itu tidak bisa ikut menyalahkan Dimas, karena memang Dimas sendiri juga memiliki kesulitan yang tidak bisa ia tangani.
"Mungkin di sini Mbak cuma butuh komunikasi lebih intens aja, Mbak. Mbak sama ibu mertua Mbak cuma pengen sama-sama saling dimengerti, kan? Mungkin cara komunikasinya aja yang kurang tepat," sahut Lesti.
"Aku udah bilang berkali-kali sama Mas Dimas buat bujuk ibunya. Tapi Mas dimas terkesan meremehkan dan terus bersikap plin-plan. Aku sengaja keluar dari rumah buat ngasih Mas Dimas pelajaran supaya dia bisa lebih tegas lagi jadi suami," tegas Tiara.
Lesti menepuk-nepuk bahu Tiara dan mencoba menenangkan wanita itu. Pelupuk mata Tiara pun mulai basah selama ia menceritakan hal tersebut pada Lesti.
"Aku udah nggak tahan lagi ngadepin sikap kolot mertuaku. Tubuh aku capek. Pikiran aku capek. Nggak salah kan kalau aku ngeluh sama suamiku? Kalau aku terus-terusan bersabar, lama-lama badan aku bisa remuk," ujar Tiara dengan tangis sesenggukan.
Tiara tak sanggup lagi menceritakan penderitaan yang ia alami selama beberapa minggu terakhir ini. Tekanan demi tekanan yang diberikan oleh Bu Ismiyati benar-benar membuat psikis wanita itu juga ikut mulai terguncang hingga Tiara mengalami stres berkepanjangan.
"Istirahat aja, Mbak! Mbak boleh tinggal di sini selama ya Mbak mau," timpal Lesti kemudian. "Aku nggak bisa bantu banyak. Aku cuma bisa doain semoga masalah Mbak bisa cepat selesai."
"Aku juga nggak tahu mau ngapain lagi. Aku udah coba bahas masalah ini sama Mas Dimas. Aku udah coba bersabar sesuai permintaan Mas Dimas. Aku udah coba melakukan apa pun sesuai keinginan ibu mertuaku. Tapi semua yang aku lakukan nggak pernah membuat mereka puas."
"Tapi Mbak juga nggak mau kaya gini terus-terusan, kan? Mbak juga harus mempersiapkan solusi buat masalah ini. Coba Mbak bicarakan lagi baik-baik sama suami dan juga ibu mertua Mbak. Asal ada komunikasi yang bagus antara Mbak dengan ibu mertua Mbak, semua masalah Mbak pasti bisa teratasi," saran Lesti.
__ADS_1
Tiara mengangguk sembari melempar senyum tipis pada sang teman. "Terima kasih banyak ya atas bantuannya! Berkat kamu, aku benar-benar tertolong hari ini."