
Bab 6
Bu Ismiyati tersenyum sumringah begitu wanita paruh baya itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata yang tidak lain ialah Scentia Square Park. Dimas dan Tiara ngajak Bu Ismiyati untuk mencoba banyak wahana yang berada di tempat wisata tersebut.
Mereka menjajal beberapa wahana dan berpindah dari zona satu ke zona lain. "Ayo, Bu!" panggil Dimas pada Bu Ismiyati yang mengekor di belakang Dimas dan Tiara.
Wanita paruh baya itu nampak kesulitan berjalan mengikuti Dimas, dikarenakan Bu Ismiyati membawa barang bawaan yang cukup banyak. Hal ini pun membuat Bu Ismiyati terlihat rempong dan kerepotan saat berkeliling area wahana.
Tiara melihat sekilas ke arah Bu Ismiyati yang kesusahan membawa banyak tentengan di tangan. "Mas, jalan pelan-pelan aja!" bisik Tiara pada Dimas dan meminta pria itu untuk menunggu Bu Ismiyati yang berjalan di belakang mereka.
"Kalian bisa pelan-pelan nggak, sih? Lihat nih Ibu bawa banyak barang!" omel Bu Ismiyati pada Dimas.
"Lagian tadi kan Mas Dimas juga udah bilang kalau Ibu nggak perlu banyak bawa barang. Ibu terlalu banyak bawa makanan," ujar Tiara pada Bu Ismiyati.
Sebelumnya mereka juga sudah mewanti-wanti pada Bu Ismiyati agar membawa barang secukupnya saja agar tidak kerepotan saat tengah berkeliling area tempat wisata. Tapi Bu Ismiyati sendiri yang keras kepala. Sekarang wanita paruh baya itu pun menerima batunya.
"Kamu mau nyalahin Ibu?" sungut Bu Ismiyati tidak terima mendengar perkataan Tiara yang seolah menyalahkan Bu Ismiyati yang membawa banyak barang.
"Bukan nyalahin, Bu. Tapi kalau tadi Ibu dengerin kita, Ibu nggak akan kerepotan sendiri kaya gini," sahur Tiara.
Tiara yang sejak tadi hanya diam pun akhirnya menyuarakan isi pikirannya. Bu Ismiyati terlalu keras kepala dan tidak bisa diberitahu. Dan wanita paruh baya itu pun masih sempat menyalahkan orang lain saat dirinya sendiri yang membuat ia repot.
"Dengerin apa? Biar kalian bisa hambur-hamburin uang nggak jelas? Emang apa salahnya kalau Ibu bawa bekal banyak?" timpal Bu Ismiyati.
"Nggak ada salahnya juga, sih. Tapi Ibu juga nggak perlu bawa banyak makanan. Lihat aja di sini. Ada banyak orang jual makanan di sini," tukas Tiara.
"Terus kenapa kalau di sini banyak yang jual makanan? Bagus kan kita nggak perlu beli! Lebih hemat kalau bawa sendiri!" gerutu Bu Ismiyati.
"Udah syukur Ibu masakin! Bukannya bantuin Ibu bawa barang, malah nyalahin," omel wanita paruh baya itu lagi.
Meskipun berkata begitu, sebenarnya Bu Ismiyati juga agak menyesal tidak mendengarkan perkataan Dimas dan Tiara. Namun, tentu saja Bu Ismiyati tidak ingin mengakuinya di depan Tiara dan berpegang teguh pada pendapatnya demi menyelamatkan wajahnya dari rasa malu.
__ADS_1
"Niatnya mau liburan malah jadi capek sendiri bawa banyak barang," gerutu Bu Ismiyati dalam hati.
"Kalian nggak perlu buang-buang uang buat beli makanan! Kalian bisa pakai uangnya buat beli barang lain, kan?" sahut Bu Ismiyati lagi untuk menutupi rasa malunya.
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Dimas pun segera menghampiri sang ibu dan membantu membawa barang bawaan. Tiara pun juga tidak ingin memperburuk suasana. Niat hati mereka mengajak Bu Ismiyati pergi berlibur adalah untuk memperbaiki hubungan mereka, bukan untuk memperpanjang perdebatan.
Tiara tidak ingin merusak rencananya dan Dimas yang sudah berusaha keras untuk membuat Bu Ismiyati senang.
"Biar Dimas aja yang bawa!" ujar Dimas sembari merebut semua barang bawaan sang ibu. "Ibu bisa jalan santai sambil lihat-lihat."
Setelah puas menaiki wahana, mereka pun bergegas mencari tempat untuk menikmati bekal yang dibawa. Bu Ismiyati sudah tidak terlalu rewel lagi dan segera menghabiskan bekal yang dimasak olehnya, agar ia tidak lagi kerepotan dengan banyak barang bawaan selama berjalan-jalan.
"Makan yang banyak!" Bu Ismiyati mengeluarkan semua bekal makanan dan minuman yang ia bawa ke tempat wisata tersebut.
"Makanan di tempat wisata kaya gini pasti mahal. Untung aja ibu bawa banyak makanan," sahut Bu Ismiyati tidak ingin menyesali keputusannya telah membawa banyak makanan, meskipun hal itu sempat membuat dirinya kerepotan.
"Iya, Bu! Terima kasih banyak udah siapin banyak bekal!" ucap Dimas.
"Ibu mau ke mana lagi? Kita belanja aja terus pulang, ya?" ajak Dimas.
"Belanja di mana?"
Dimas pun membawa sang ibu dan istrinya menuju ke pasar lama Tangerang. Tempat ini akan menjadi destinasi terakhir yang mereka kunjungi sebelum pulang ke rumah.
"Ibu mau beli apa? Dimas temenin keliling," tawar Dimas pada sang ibu.
Bu Ismiyati terlihat bersemangat mengelilingi pasar yang menjual banyak barang. Manik mata wanita paruh baya itu pun berbinar saat memandangi banyak daster yang dipajang di banyak toko dalam pasar tersebut.
"Ibu mau lihat daster, ya?" pinta Bu Ismiyati.
Dimas mengangguk kemudian membawa wanita paruh baya itu ke salah satu toko yang menjual banyak daster. "Ibu pilih aja. Ibu mau yang mana?"
__ADS_1
"Wah, dasternya bagus-bagus!" gumam Bu Ismiyati terlihat girang melihat banyak daster yang ia suka.
"Beli aja Bu!" timpal Dimas ingin memanjakan sang ibu.
Bu Ismiyati mengelilingi toko-toko di pasar tersebut hingga puas dan membeli banyak daster untuk dirinya. Saat tengah memilih daster yang ingin dibelinya, wanita paruh baya itu pun berinisiatif memiliki pakaian untuk menantunya juga.
"Tiara, ke sini, deh!" panggil Bu Ismiyati pada sang menantu.
Tiara yang tengah menemani Bu Ismiyati berbelanja pun bergegas menghampiri sang ibu mertua yang masih asyik memilih daster. Bu Ismiyati mengambil satu daster dan menyadarkannya pada Tiara. "Daster yang ini motifnya bagus. Cocok buat kamu!" ungkap Bu Ismiyati berniat membelikan daster tersebut untuk sang menantu.
Tiara menatap lekat-lekat pakaian yang ada di tangan ibu suaminya itu. Menurut Bu Ismiyati, model dan motifnya bagus. Tapi sayangnya Tiara tidak terlalu suka dengan selera pakaian yang dipilihkan oleh Bu Ismiyati.
"Ibu aja yang beli. Tiara masih punya banyak baju," ujar Tiara berusaha menolak halus daster yang dipilihkan oleh ibu mertuanya.
"Nggak apa-apa nambah satu aja! Masa' cuma Ibu sendiri yang belanja? Kamu juga ngambil satu!" sahut Bu Ismiyati memaksa Tiara untuk menerima daster pilihannya.
"Nggak perlu, Bu! Tiara udah punya banyak daster," ucap Tiara masih menolak pakaian dari ibu mertuanya itu.
Tak ingin melihat Bu Ismiyati kecewa, Dimas pun akhirnya ikut turun tangan dan membujuk agar Tiara mau menerima daster tersebut. "Terima aja! Biar Ibu senang!" bisik Dimas pada sang istri.
"Tapi Mas ...."
"Tolong diterima, ya? Ibu udah milihin baju buat kamu. Tolong jangan bikin Ibu sedih karena penolakan kamu," pinta Dimas.
Akhirnya Tiara pun mengalah dan menerima daster pilihan ibu mertuanya itu, meskipun Tiara tidak suka. Bu Ismiyati terlihat senang dan puas dengan liburan kecil yang sudah disiapkan oleh putra dan menantunya itu.
"Terima kasih banyak ya udah ngajak Ibu jalan-jalan!" ucap Bu Ismiyati tulus.
Mendengar ucapan dari sang ibu mertua pun membuat Tiara terenyuh. Bagaimanapun juga acara jalan-jalan hari ini adalah salah satu cara untuk memperbaiki hubungan dengan ibu mertuanya. Tiara cukup bersyukur, Bu Ismiyati bisa menikmati acara jalan-jalan sederhana ini bersama dengannya.
****
__ADS_1