Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah

Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah
chap 12


__ADS_3

Bab 12


"Dimas, kamu kenapa, sih? Kamu sakit?" tanya Bu Ismiyati Dengan cerewetnya pada sang putra.


Tak ingin membuat Bu Ismiyati semakin khawatir, akhirnya Dimas pun terpaksa berkata dusta pada Bu Ismiyati. "Nggak, Bu. Tadi Dimas cuma cari barang yang jatuh di sini," sahut Dimas.


"Tiara udah bangun kok dari tadi," sambung Dimas.


"Terus sekarang Tiara di mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Bu Ismiyati sembari celingukan ke seluruh ruangan.


Dimas nampaknya tengah berpikir dan mencoba mencari-cari alasan yang bagus untuk dikatakan pada Bu Ismiyati. Dimas tidak ingin membuat Bu Ismiyati cemas. Pria itu pun akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun mengenai pertengkarannya dengan Tiara dan tidak membahas mengenai kepergian istrinya itu.


Dimas tak ingin menyakiti perasaan Bu Ismiyati. Dimas ingin menjaga perasaan Bu Ismiyati. Bu Ismiyati pasti akan sedih jika ia tahu kalau Tiara kabur dari rumah karena dirinya.


"Tiara udah pergi ke kantor duluan, Bu," jawab Dimas terpaksa berbohong pada Bu Ismiyati.


"Pergi ke kantor? Jam segini?"


"Tiara ada dinas dadakan ke luar kota, Bu. Tadi Tiara langsung berangkat. Ada kerjaan mendadak dan Tiara harus ngejar penerbangan pagi. Tiara sampai nggak sempat pamitan sama Ibu," terang Dimas panjang lebar mengungkapkan karangan cerita yang ia buat.


Untungnya Bu Ismiyati tidak curiga sedikitpun dengan kebohongan sang putra. Setidaknya cerita yang dikarang oleh Dimas masih cukup masuk akal.


"Keluar kota? Istri kamu sekarang lagi perjalanan ke luar kota?"


"Iya, Bu."


"Kok kamu kasih izin, sih? Kenapa juga istri kamu mau disuruh keluar kota?" omel Bu Ismiyati tidak terima menantunya pergi ke luar kota.

__ADS_1


"Mau gimana lagi, Bu? Ini tuntutan pekerjaan," sahut Dimas.


Bu Ismiyati tetap menggerutu dan menyayangkan keputusan dari putra dan menantunya. "Tiara kan udah bersuami. Emangnya dia nggak bisa pilih-pilih pekerjaan? Harusnya dia bisa nolak, dong!"


Dimas hanya diam dan membiarkan Bu Ismiyati mengeluarkan semua unek-unek yang disimpan oleh wanita paruh baya itu. "Kamu sebagai suami juga harusnya lebih tegas sama Tiara! Istri pergi dinas jauh kaya gini harusnya nggak kamu kasih izin!"


Dimas hanya bisa tersenyum. Pria itu pun segera mengalihkan perbincangan dan mengakhiri omelan sang ibu mengenai Tiara. "Udah, Bu. Tiara juga nggak bisa melawan atasannya. Dimas siap-siap dulu, ya? Keburu telat berangkat kerja nanti, " sahut Dimas.


Bu Ismiyati pun bergegas melanjutkan pekerjaan rumah yang belum ia selesaikan. Usai membuatkan sarapan sederhana untuk sang putra, wanita paruh baya itu pun menikmati makan paginya berdua dengan Dimas.


"Makan yang banyak! Ibu masak banyak hari ini," ujar Bu Ismiyati disaat ia dan putranya duduk bersama di meja makan.


"Ibu juga makan yang banyak," sahut Dimas.


"Tiara pergi dinas berapa hari?" tanya Bu Ismiyati kembali membahas Tiara dengan sang putra.


Bu Ismiyati menelan bulat-bulat kebohongan dari Dimas. Wanita paruh baya itu percaya penuh pada semua hal yang dikatakan oleh putranya.


"Tiara harusnya mempertimbangkan lagi sebelum mengambil pekerjaan. Ibu yakin kok pasti ada atasan yang pengertian kalau Tiara berusaha menolak tugas dinasnya," sahut Bu Ismiyati. "Harusnya dia mengutamakan suami, bukannya lebih mementingkan pekerjaan."


"Sudah, Bu. Dimas nggak apa-apa kok."


"Nggak apa-apa gimana? Tiara pergi kerja kaya biasa aja dia nggak bisa ngurus kamu, kan? Apalagi sekarang kalian jauh-jauhan gini. Gimana dia mau ngurus kamu?"


Dimas menghela nafas sejenak. Pria itu mencoba memberikan pengertian pada ibunya dengan sabar.


"Dimas baik-baik aja di sini, kan? Emangnya Dimas harus diurus kaya gimana? Ada Ibu juga di rumah, kan?" timpal Dimas.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak nyuruh Tiara berhenti kerja aja?" ujar Bu Ismiyati kemudian. "Kamu aja yang kerja udah cukup, kan? Tiara biar ngurus rumah. Kalau Tiara nggak kerja, Tiara juga jadi lebih fokus ngurus kamu, kan?"


Kalau saja bukan karena keadaan, tentu Dimas juga tak ingin istrinya merasakan lelahnya mencari nafkah seperti dirinya. "Nggak bisa, Bu. Tiara harus tetap kerja. Toh, Tiara kerja juga demi masa depan bersama," sahut dimas.


"Tapi Tiara jadi nggak bisa jalanin peran sebagai istri dengan maksimal," timpal Bu Ismiyati.


"Tapi kalau Tiara nggak kerja, Dimas juga bakal kesulitan, Bu. Rumah ini aja masih kredit. Dimas dan Tiara juga masih harus nabung. Penghasilan Dimas aja nggak cukup, Bu. Dimas masih butuh bantuan Tiara," terang Dimas panjang lebar. "Dimas nggak pernah mempermasalahkan soal pekerjaan rumah. Jadi tolong jangan terlalu menekan Tiara ya, Bu?"


Dimas berbicara dengan sang ibu dengan tutur kata selembut mungkin. "Meskipun Tiara bekerja, tapi Tiara udah berusaha mengurus Dimas dengan baik," sambung Dimas.


"Ngurus dengan baik gimana? Masak aja nggak pernah. Cuci baju juga nggak pernah. Bersihin rumah juga jarang. Gimana Ibu nggak cemas sama kamu? Kamu udah beristri tapi kamu kaya nggak punya istri," cetus Bu Ismiyati.


"Mau gimana lagi, Bu? Dimas memang nggak bisa berdiri sendiri. Dimas masih butuh Tiara. Selama Dimas sama Tiara saling membantu dan mendukung satu sama lain, itu udah cukup untuk membangun rumah tangga kan, Bu?"


Kini Bu Ismiyati yang dibuat bungkam. Dimas sendiri sudah mengakui kalau pria itu tidak akan bisa mengurus finansial keluarga tanpa bantuan Tiara. Jika saja Dimas mempunyai penghasilan yang cukup, Tiara juga tidak akan memaksakan diri untuk bekerja.


"Tiara juga sama capeknya kaya Dimas, Bu. Jadi Dimas nggak mau nambahin beban Tiara. Tiara udah berkorban banyak buat Dimas. Tolong ngertiin posisi Tiara ya, Bu?" pinta Dimas.


"Memangnya kamu punya banyak cicilan? Kalau kamu masih pengen Tiara kerja, mendingan kamu suruh Tiara pindah aja. Pindah ke tempat yang nggak bikin Tiara harus dinas ke luar kota dan pulang malam," saran Bu Ismiyati.


"Pindah kerja nggak semudah itu, Bu. Tempat kerja Tiara yang sekarang juga cukup nyaman buat Tiara," tukas Dimas. "Tolong ngertiin keadaan kami, Bu. Tiara juga nggak bermaksud untuk melalaikan tugas sebagai istri. Kalau Tiara nggak kerja, Dimas yakin Tiara juga pasti rajin."


"Harusnya kerja nggak dijadiin alasan, kan? Ibu dulu juga sering bantuin bapak kamu di ladang. Ibu nggak pernah bikin alasan buat nggak masak, buat nggak bersih-bersih, buat nggak cuci baju, cuma karena ibu pergi ke ladang," sahut Bu Ismiyati.


"Tolong jangan disamaratakan, Bu. Pekerjaan Tiara juga berat," ujar Dimas pada Bu Ismiyati dengan sabar.


"Apa pun yang dilakukan sama Tiara, Dimas yakin Tiara udah nyoba yang terbaik."

__ADS_1


****


__ADS_2