
Bab 16
Pagi-pagi sekali, Bu Ismiyati sudah berada di warung seperti biasa untuk membeli kebutuhan dapur. Untuk yang kesekian kalinya, ibunda dari Dimas itu kembali berjumpa dengan Adam yang tengah sibuk berbelanja.
Saking seringnya bertemu di warung, sepertinya tugas berbelanja memang dibebankan oleh Adam. "Belanja lagi, Mas?" sapa Bu Ismiyati pada Adam.
"Iya, Bu. Ibu mau masak apa hari ini?" tanya Adam berbasa-basi.
"Pengen masak yang seger-seger aja. Masak sop kayaknya enak," ujar Bu Ismiyati. "Mbak Manda ke mana, Mas? Akhir-akhir ini kok Mas Adam sering banget belanja?"
Seperti biasa, Adam selalu memberikan jawaban santai setiap kali Bu Ismiyati menanyakan keberadaan istrinya. "Ada di rumah, Bu. Lagi main sama anak," sahut Adam dengan entengnya.
Bu Ismiyati nampak tercengang. Kemarin-kemarin Adam masih memberikan alasan mengenai istrinya yang sibuk atau mempunyai urusan lain. Tapi kali ini dengan entengnya ada mengatakan kalau istrinya sedang berada di rumah dan bermain dengan anaknya yang masih balita. Jelas sekali Manda tidak sibuk, tapi Manda tetap meminta Adam untuk berbelanja kebutuhan dapur.
"Kenapa bukan Mbak Manda yang pergi belanja?" tanya Bu Ismiyati kemudian. "Mbak Manda cuma jagain anak aja di rumah?"
__ADS_1
Adam mengulas senyum. "Nggak ada salahnya juga kalau saya yang belanja kan, Bu?"
Memang tidak salah. Tapi kalau istrinya hanya santai-santai di rumah, kenapa masih harus Adam yang mengurus kebutuhan dapur? Kenapa bukan Manda saja yang belanja? Kenapa Adam begitu memanjakan istrinya? Begitulah pikir Bu Ismiyati.
"Ya nggak ada yang salah, sih. Tapi lebih pantas Mbak Manda yang pergi belanja, kan? Apalagi Mbak Manda juga nggak sibuk di rumah," cetus Bu Ismiyati.
"Menurut Ibu, laki-laki nggak pantas belanja di warung?" tanya Adam.
"Ya kalau udah punya istri, lebih baik istri yang mengurus keperluan dapur, kan?"
Bu Ismiyati segera pergi usai ia selesai berbelanja. Selama di perjalanan pulang, wanita paruh baya itu terus menggerutu memikirkan keluarga Adam yang dinilai aneh olehnya. "Harusnya seorang suami nggak berlebihan memanjakan istri sampai segitunya, kan? Mau banget dia belanja, sementara istrinya cuma santai-santai aja main sama anak," gerutu Bu Ismiyati.
****
Tengah malam, Bu Ismiyati terbangun dari tidurnya karena rasa haus yang menyerang. Wanita yang sudah beristirahat itu pun bangkit dari ranjang dan bergegas melangkah menuju ke dapur.
__ADS_1
Namun, langkah Bu Ismiyati terhenti begitu ia mendengar sayup-sayup suara seseorang yang tengah berbicara. Karena penasaran, akhirnya Bu Ismiyati pun berbelok dan lebih memilih mencari tahu suara yang samar-samar ia dengar itu.
"Dimas belum tidur?" gumam Bu Ismiyati sembari melangkah menuju ke kamar putranya.
Suara siapa lagi yang terdengar di telinganya kalau bukan suara putranya, mengingat Bu Ismiyati hanya berada di rumah bersama dengan putranya.
"Dimas ngomong sama siapa?"
Bu Ismiyati pun sengaja menguping pembicaraan putranya dengan seseorang. Sepertinya Dimas sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
"Tiara, kamu di mana?" tanya Dimas dengan suara lemas.
"Dimas sedang telepon siapa?" gumam Bu Ismiyati makin penasaran.
Dimas nampak memohon-mohon pada Tiara untuk memberitahu alamatnya singgah dan meminta istrinya itu untuk segera pulang. Bu Ismiyati mendengar dengan jelas suara putranya yang menyebut-nyebut nama Tiara.
__ADS_1