
Tiara dan Dimas saling pandang dari kejauhan. Dimas mengulas senyum tipis pada Tiara, sementara Tiara sendiri tidak ingin menampakan senyum sedikit pun.
Hatinya benar-benar sakit melihat penampilan Dimas yang begitu kuyu dan tidak bersemangat. Memang pakaian Dimas terlihat rapi. Tapi wajah Dimas terlihat amburadul. Mata Dimas sembab dan dikelilingi lingkaran hitam. Bibirnya juga pucat dan pancaran matanya juga nampak tidak bersahabat.
"Apa yang terjadi dengan Mas Dimas? Kenapa penampilan mas Dimas seperti ini?" gumam Tiara miris dan merasa bersalah sudah membiarkan suaminya menderita hingga seperti ini.
Namun penampilan Dimas yang berantakan tidak akan membuat hati Tiara goyah. Wanita itu akan tetap teguh pada pendiriannya.
"Tiara!" panggil Dimas pada Tiara dengan suara lemas.
Kedatangan Dimas sendiri juga bukan untuk memaksa Tiara pulang. Dimas hanya ingin tahu bagaimana keadaan Tiara. Dimas hanya ingin tahu bagaimana kabar istrinya itu.
"Tiara, kamu baik-baik aja, kan? Kamu sehat, kan?" tanya Dimas pada sang istri.
Tiara hanya mengangguk tanpa bersuara. Wanita itu bahkan membuang muka dan tidak berlama-lama menatap Dimas.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja! Aku benar-benar khawatir padamu."
"Kalau Mas datang ke sini cuma buat nyuruh aku pulang, Mas cuma buang-buang waktu. Aku nggak akan pulang!" tegas Tiara pada Dimas.
__ADS_1
Dimas menggelengkan kepala. Meskipun memang ia ingin sekali membawa Tiara pulang, tapi Dimas tidak akan memaksa Tiara. Apalagi Dimas juga tidak memiliki keberanian untuk memulangkan ibunya. Sudah pasti Tiara akan menolak untuk pulang bersamanya.
"Aku ke sini bukan mau jemput kamu pulang. Aku cuma pengen ketemu kamu aja. Aku cuma pengen lihat muka kamu aja," sahut Dimas.
Rasanya sulit sekali bagi Tiara untuk menahan tangis. Ingin sekali wanita itu berlari ke pelukan Dimas dan meluapkan rasa rindunya. Tapi Tiara harus menahan diri dan terus menunggu sampai Dimas memberikan jawaban yang ia mau.
"Mas udah lihat aku, kan? Sekarang Mas bisa pergi."
"Tunggu sebentar, Tiara! Aku belum selesai ngomong," sahut Dimas.
"Apa lagi yang pengen Mas omongin? Mas nggak pengen bawa aku pulang, kan? Itu artinya ibu Mas masih ada di rumah Mas, kan?"
"Aku sayang sama kamu Tiara. Karena itu aku nggak akan maksa kamu pulang. Tapi aku juga sayang sama ibu aku. Karena itu aku nggak tega buat mulangin ibu aku ke Sukoharjo," sambung Dimas.
Tiara hanya bisa pasrah. Dimas tidak akan memaksa Tiara untuk pulang, dan Tiara sendiri juga tidak akan memaksa Dimas untuk mengusir ibunya.
"Kamu harus milih salah satu, Mas. Kalau kamu mau terus-terusan kaya gini, ya silakan.Yang jelas aku udah nggak mau bersabar lagi."
****
__ADS_1
Sepulang kerja, Adam mampir sebentar ke warung yang menjual lauk matang. Pria itu menyambangi warung, di mana Tiara juga kerap membeli lauk matang di sana.
Saat tengah berbelanja, pria itu kembali berpapasan dengan Bu Ismiyati yang juga hendak membeli lauk. Tak biasanya wanita paruh baya itu membeli laut matang. Biasanya Bu Ismiyati lebih suka memasak sendiri.
Tapi semenjak ia mendengar percakapan putranya dengan Tiara melalui telepon, hari-hari Bu Ismiyati mulai kacau. Wanita paruh baya itu nampak susah dan gelisah, serta terus menampakan wajah murung.
"Nggak masak, Bu?" tegur Adam pada Bu Ismiyati.
Bu Ismiyati menoleh ke arah Adam, kemudian melempar senyum tipis pada pria itu. "Nggak, Mas. Pengen beli lauk matang aja."
Melihat Bu Ismiyati yang nampak muram, Adam pun berinisiatif untuk mengajak wanita paruh baya itu berbincang. "Warung sebelah udah buka, Bu. Ibu mau nemenin saya beli teh nggak?" tawar Adam.
"Beli teh?"
"Kita kan udah lama bertetangga, Bu. Nggak ada salahnya juga kan sekali-sekali kita ngeteh bareng?" ajak Adam lagi.
Karena Bu Ismiyati juga tidak terlalu sibuk dan tak tega melihat tingkah murung putranya di rumah, akhirnya Bu Ismiyati pun menyetujui ajakan dari Adam. Toh, wanita paruh baya itu juga membutuhkan waktu santai.
"Mari, Bu!"
__ADS_1