
Bab 14
Tiara menatap layar ponselnya yang terus berdering sejak tadi. Selama beberapa hari wanita itu pergi dari rumah, Dimas terus berusaha menghubungi dirinya dan berusaha membujuk ia untuk pulang.
Sesekali Tiara mengangkat panggilan telepon suaminya hanya untuk mendengar kira-kira perkataan apa yang akan diucapkan oleh suaminya untuk meluluhkan hatinya. Tapi sepertinya Dimas masih belum bisa mengabulkan permintaan yang diinginkan oleh Tiara.
"Tiara, kamu di mana?" tanya Dimas berulang kali setiap kali panggilan teleponnya diangkat oleh Tiara. "Tolong pulang, Tiara! Sampai kapan kamu akan terus begini?"
"Ibu kamu masih di rumah, kan?" tanya Tiara. "Aku nggak akan pulang ke rumah kalau masih ada ibu kamu di sana."
Tiara masih tetap teguh dengan keputusannya. Wanita itu sengaja merahasiakan keberadaannya dari Dimas, dan tetap tidak akan pulang selama Bu Ismiyati masih tinggal di rumah suaminya.
"Kamu beneran pengen nyuruh aku ngusir ibu aku? Kamu nggak kasihan sama ibu aku?"
"Kamu kasihan sama ibu kamu, tapi kamu nggak kasihan sama aku, kan? Aku capek fisik, capek mental. Tapi kamu nggak pernah ngelakuin apa pun buat nolongin aku!" protes Tiara.
"Aku nggak bermaksud gitu ...."
"Terus maksud kamu apa? Kamu emang condong sebelah, kan? Kamu emang pilih kasih, kan?"
Dimas hanya bisa diam. Apa pun yang dikatakan oleh pria itu tidak akan mempan untuk membujuk Tiara, kecuali Dimas memulangkan ibunya ke Sukoharjo.
"Tolong jangan paksa buat buang ibu aku, Tiara!"
"Aku nggak nyuruh kamu buang ibu kamu! Kamu bisa bayar orang buat bantu-bantu ngurus ibu kamu di kampung, kan? Kamu juga masih punya kerabat di kampung, kan? Kamu juga masih bisa kirim uang bulanan buat rawat ibu kamu. Masih ada banyak cara buat berbakti sama ibu kamu. Kenapa kamu justru maksa aku buat korbanin kebahagiaan aku?"
Dimas dibuat bungkam. Pria itu tak dapat lagi berkata-kata.
"Udahlah, Mas! Aku nggak mau bahas ini lagi!"
Tut! Tiara langsung mematikan sambungan telepon. Tak ingin lagi diganggu oleh dering ponsel, Tiara pun bergegas menonaktifkan telepon genggam miliknya.
__ADS_1
Dimas hanya bisa mengamuk saat ia tak bisa menghubungi Tiara lagi. Sudah tiga hari lamanya Tiara tidak juga pulang. Dimas sendiri juga tak tahu Tiara ada di mana. Sampai detik ini Dimas juga belum berhasil menemui Tiara.
"Tiara, tolong pulang!" gumam Dimas sembari mengusap matanya yang sudah basah.
Pria itu menjalani hari-hari hampa tanpa Tiara. Tapi Dimas juga tak mau mengorbankan ibunya. Dimas tak mau kehilangan Tiara atau pun ibunya.
"Kenapa rumah tanggaku jadi begini? Semuanya jadi berantakan!" sesal Dimas tidak bisa bersikap tegas sesuai dengan keinginan Tiara.
Dimas benar-benar dibuat frustasi. Tekanan dari Tiara hanya membuat dirinya semakin stress. Ditambah lagi saat ini Bu Ismiyati juga belum tahu mengenai pertengkaran mereka.
Setiap kali ada kesempatan, pria itu terus berusaha untuk menghubungi Tiara bagaimanapun caranya.
"Ada apa lagi, Mas? Ibu kamu udah pulang ke Sukoharjo?" tanya Tiara begitu ia mengangkat panggilan telepon dari Dimas lagi.
"Bisa nggak kamu nggak bahas itu? Tolong kamu pulang sekarang! Kita masih bisa bicarain ini semuanya baik-baik, kan?" bujuk Dimas tanpa lelah.
"Bicarain apa lagi? Udah berapa kali kita bicara? Ujung-ujungnya pasti Mas minta aku buat sabar, kan?"
"Kamu nggak percaya sama aku?"
"Kita ketemu dulu ya? Aku jemput kamu sekarang! Kita bicara langsung! Kita bicarain ini berdua, habis itu kita bahas sama Ibu. Gimana?"
Tiara diam seribu bahasa. Untuk saat ini wanita itu masih tidak ingin bertemu dengan Dimas. Rasa kesal dan jengkel di hatinya hanya akan memantik keributan disaat dirinya berjumpa dengan sang suami.
"Buat apa kita ketemu? Aku nggak mau ketemu kamu lagi kalau kamu nggak juga pulangin ibu kamu!"
Dimas memijat kepalanya yang pening. Tiara benar-benar keras kepala. Ibunya pun juga sama saja. Ditambah lagi pria itu tidak bisa bersikap tegas untuk menangani hubungan istrinya dengan sang ibu.
"Kalau begitu tolong kasih tahu aku di mana kamu tinggal sekarang? Aku nggak akan datang ke sana. Aku cuma pengen tahu gimana keadaan kamu sekarang."
"Aku masih bisa angkat telepon kamu. Itu artinya aku baik-baik aja! Kamu nggak perlu tahu aku tinggal di mana. Yang jelas saat ini aku bisa hidup jauh lebih tenang semenjak aku nggak lagi dengerin omelan ibu kamu!"
__ADS_1
"Semua yang dikatakan sama Ibu juga demi kebaikan kamu. Kenapa kamu nggak mau nerima nasihat baik dari ibu aku? Ibu aku juga nggak punya niat jahat ke kamu. Aku juga udah berusaha ngebujuk ibu aku buat ngertiin kamu. Aku juga nggak cuma diem. Aku juga udah berjuang belain kamu. Tapi kamu justru nggak menghargai usahaku sama sekali!"
"Aku juga sama menderitanya, Mas. Aku juga udah berusaha buat nahan-nahan selama ini. Di sini bukan cuma kamu aja yang berjuang! Aku sendiri juga berusaha berjuang untuk tetap waras!"
Setiap kali Dimas menghubungi Tiara, keduanya pasti terlibat pertengkaran. Dimas benar-benar tidak pandai mengambil hati seorang wanita dan Tiara sendiri juga terlalu keras kepala.
Hingga hari keempat, Dimas belum juga berhasil membujuk Tiara untuk pulang. Bu Ismiyati pun perlahan mulai curiga dan mempertanyakan kapan Tiara akan kembali ke rumah.
"Dimas, makan dulu! Ibu udah selesai masak!" panggil Bu Ismiyati pada Dimas.
Sudah selama beberapa hari terakhir ibu dan anak itu hanya menikmati makan bersama berdua saja tanpa kehadiran Tiara. Suasana rumahnya benar-benar sepi dan hampa.
"Udah empat hari, istri kamu belum ada tanda-tanda mau pulang?" tanya Bu Ismiyati membuka obrolan di sela-sela acara makan mereka.
Dimas yang tengah mengunyah makanan pun mendadak kehilangan selera makan. Pikirannya kembali melayang, memikirkan Tiara. Kira-kira sekarang Tiara sedang apa? Kira-kira Tiara sudah makan apa belum? Kira-kira bagaimana keadaan Tiara sekarang?
"Dimas! Kok malah bengong?" tegur Bu Ismiyati.
Dimas nampak gelagapan dan berusaha memberikan jawaban yang pas agar tidak menyakiti perasaan Bu Ismiyati. Dimas sendiri juga tidak ingin ibunya memandang buruk Tiara karena wanita itu telah meninggalkan rumah dengan sengaja.
"Belum tahu, Bu. Mungkin beberapa hari lagi."
Lagi-lagi Dimas hanya bisa berbohong. Hanya ini pilihan terbaik yang bisa ia lakukan untuk tidak memperburuk suasana.
"Ini udah mau seminggu. Istri kamu mau pergi berapa hari? Mau pergi dinas sebulan? Sebenarnya dia dinas ke mana, sih?" omel Bu Ismiyati.
"Masih ada pekerjaan yang belum selesai, Bu. Kita tunggu aja sampai Tiara pulang."
"Menunggu sampai kapan? Tiara benar-benar kelewatan! Tiara bener-bener udah lalai sama tugasnya!" gerutu Bu Ismiyati. "Nanti kalau Tiara pulang, kamu harus nasehatin istri kamu! Tiara perlu dididik lebih keras lagi!"
Dimas tak dapat mengatakan apa pun lagi untuk menanggapi omelan sang ibu. Pria itu hanya bisa menikmati kesedihannya seorang diri, tanpa bisa berkeluh kesah pada siapa pun.
__ADS_1
"Tiara, tolong pulang! Aku rindu. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu," batin Dimas.
****