Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Ditemani Michael


__ADS_3

Sementara itu di bilik tirai, Sekar yang sedang menarik dan menghembuskan napas dengan pelan sesuai intruksi petugas medis, membelalakkan matanya ketika melihat Michael masuk ke dalam.


Michael nampak salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


“Kenapa kamu ada di sini?!” tanya Sekar setengah berteriak.


Dahi sebagian petugas kesehatan berkerut kuat seketika. Mereka melemparkan pandangan satu sama lain sejenak.


“Aduh Bu, sudahlah biarkan suamimu Ibu menemani Ibu melahirkan, ayo Pak berdiri di samping istrinya, supaya cepat proses bersalinnya, sebentar lagi anaknya mau keluar nih,” sahut perawat sambil menarik tangan Michael untuk berdiri di samping Sekar.


Michal tersenyum kikuk.


Sementara, Sekar menatapnya dengan sangat tajam sekarang. Bagaimana bisa dia ditemani oleh seseorang yang bukan suaminya sendiri. Dan yang membuat Sekar murka adalah bukannya Michael sudah berkeluarga dan memiliki anak.


“Keluar ka-“


“Ayo Bu, di dorong!”


Belum sempat Sekar mengeluarkan kekesalannya, Bidan menyela perkataannya, meminta Sekar mendorong bayi yang sekarang di bawah sana kepalanya mulai menyembul keluar.


Michael auto panik. Tanpa sadar dia mengenggam tangan Sekar. Seperti yang dia lakukan dulu ketika menemani mantan istrinya melahirkan Shakila.


“Aku akan menemanimu, Sekar. Ayo kamu pasti bisa Sekar, doronglah kuat-kuat,” sahut Michael sambil mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Dia berusaha menjaga matanya agar tak melihat tubuh Sekar yang setengah terbuka.


Anehnya, Sekar tak menolak. Hatinya menghangat tiba-tiba ketika tangan Michael menyentuhnya saat ini. Dia tak peduli lagi. Rasa sakit yang menjalar ditubuhnya membuat Sekar ingin secepat mungkin mengeluarkan bayinya. Sekar pun mulai mendorong bayinya dengan sekuat tenaga. Dalam sepersekian detik, tangisan bayi pun terdengar di dalam bilik.


“Oek, oek,oek,oek!”

__ADS_1


“Selamat Ibu dan Bapak, bayinya perempuan,” sahut seorang tenaga medis sambil menaruh bayi munggil yang badannya masih memerah di tubuh Sekar.


Senyuman tipis terlukis di wajah Sekar. Dia mengecup pelan wajah anak keduanya itu lalu melirik Michael yang tak melepaskan genggaman tangannya sedari tadi. Michael tengah memandangi bayi Sekar, tanpa mengedipkan matanya, seakan terpesona akan makhluk hidup munggil tersebut.


“Lepaskan tanganmu,” sahut Sekar kemudian dengan sedikit ketus.


Michael segera tersadar, secepat kilat melepaskan tangan. “Maaf Sekar, anakmu sangat cantik dan lucu, aku jadi ingat dengan anakku dulu Shakila,” katanya tanpa mengalihkan pandangan mata dari bayi Sekar.


“Shakila? Namamu anakmu Shakila?” tanya Sekar. Dia keheranan mengapa nama tersebut sangatlah mirip dengan nama teman anak pertamanya, Rena.


“Bu, kami akan memindahkan Ibu ke ruangan lain ya.”


Bibir Michael tak sempat bergerak tatkala petugas medis akan memindahkan Sekar ke ruang lain.


***


“Bunda! Di mana adik Rena?” Rena menyelenong masuk tiba-tiba bersama Shakila.


Sekar mengalihkan pandangan seketika. “Iya Sayang. Kemarilah.”


Rena dan Shakila mendekat, melihat bayi munggil yang dibungkus lampin sedang tertidur pulas.


“Wow adikku lucu dan cantik ya,” celetuk Rena sambil menyentuh pelan tubuh adiknya.


“Iya lucu, hihi, Shakila pengen punya adik deh!” celetuk Shakila seketika.


Mendengar perkataan Shakila, Sekar terenyuh dan menatap iba. Sekarang dia sudah tahu kalau Daddy Shakila adalah Michael, pria yang tadi menemaninya lahiran. Tadi, saat keluar tirai Sekar melihat dan mendengar langsung Shakila memanggil Michael dengan sebutan Daddy. Sekar jadi malu sendiri, membenci Michael tanpa sebab. Hal itu dikarenakan kesalahpahaman yang terjadi tempo lalu. Mengira Michael memiliki istri tapi nyatanya Michael adalah seorang duda beranak satu.

__ADS_1


“Shakila, di mana Daddymu?” tanya Sekar tiba-tiba.


“Ada di luar, Aunty mau ketemu Daddy?”


Sekar tersenyum simpul, Shakila benar-benar paham bahwa dirinya ingin berbicara dengan Michael. Dia hendak meminta maaf karena membentak Michael tadi.


“Iya Sayang, Aunty minta tolong panggilkan ya.”


“Oke Aunty.” Shakila bergegas pergi keluar dari ruangan.


***


Tak sampai lima menit, Michael masuk ke dalam bersama Shakila. Sekar melemparkan senyum tipis kepada Michael. Michael pun berdiri di samping Sekar seketika, mengembangkan senyuman hangatnya juga.


“Terima kasih dan aku minta maaf karena membentakmu tadi,” sahut Sekar.


Kedua alis Michael saling bertautan. “ Untuk apa?”


“Karena tadi sudah menemaniku.” Dalam sekejap mata, raut wajah Sekar berubah cepat. Bagaimana tidak’ seharusnya yang menemaninya saat ini adalah Andre. Akan tetapi, sepertinya Andre sedang sibuk menghabiskan malam pertama dengan istri keduanya.


“Sama-sama, Sekar. Namaku Michael, sekarang aku tahu mengapa kamu belum bercerai dengan suamimu, tapi karena kamu sudah melahirkan, kamu tidak punya alasan lagi untuk bercerai, aku akan membantumu agar cepat bercerai dengan suamimu itu, aku seorang pengacara, Sekar,” sahut Michael tanpa basa-basi lagi. Tekad Michael sudah bulat, dia ingin Sekar cepat-cepat menjanda. Jadi dia memiliki kesempatan untuk menikahi Sekar.


Sekar terhenyak sejenak. Mendengar perkataan Michael barusan.


“Sekar!!!”


Terdengar suara teriakan dari luar seketika. Sekar menghela napas kasar mengenali suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan Andre.

__ADS_1


__ADS_2