Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Rena, Sayang Bunda


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan cinta Michael tempo lalu, perasaan Sekar semakin kalut. Bagaimana tidak' sejak hari itu Sekar tak pernah lagi melihat batang hidung Michael. Entah kemana perginya Michael, pria itu seperti hantu' yang datang dan pergi sesuka hati. Tak cukup sampai di situ, biasanya Michael akan mengirim pesan singkat padanya sekadar menanyakan kabar atau menanyakan kegiatannya. Tapi sekarang, tak ada lagi notifikasi pesan masuk menghiasi layar ponsel Sekar.


Sekar merasa hampa.


"Bunda, kok ngelamun?" tanya Rena ketika melihat Bundanya termenung dan tak langsung menyalakan mobil.


Saat ini, Sekar berada di parkiran bangunan sekolah, tengah menjemput Rena pulang.


Lamunan Sekar buyar seketika. Secepat kilat ia menoleh ke samping. "Eh ya Sayang, maaf Bunda lagi mikirin bahan dress apa yang cocok untuk pesanan kawan Bunda kemarin," kilahnya sambil tersenyum tipis.


Rena ber-oh ria sejenak lalu melirik ke belakang, melirik Reni tengah tidur pulas di kursi khusus bayi yang sudah dilengkapi seat-belt. "Huh, tidur terus. Ayo Bunda kita pulang, hari ini kita ke butik dulu atau langsung pulang Bunda."


Sekar tersenyum tipis. "Wajar Sayang, Rena dulu juga gitu kok, emm ke..."


Sekar tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat di ujung sana Michael tengah menggandeng Shakila untuk masuk ke dalam mobil. Tanpa sadar Sekar mengulas senyum tipis, akhirnya dapat melihat Michael.


"Bunda kok senyum? Ih, Bunda kata Shakila kalau senyam-senyum sendiri itu kayak orang gila tahu," celetuk Rena.


Sekar segera tersadar. Astaga, ada apa denganku?

__ADS_1


"Nggak Sayang, Bunda senyum soalnya tadi pas di butik nonton film komedi, hehe." Sekar menyengir kuda.


"Oh gitu, bukan lihatin Daddynya Shakila kan?" tanya Rena dengan mimik muka serius.


Sekar tercengang sejenak. "Nggak lah, ya udah yuk kita pulang, nanti Bunda masakin Rena nasi goreng ya?"


"Yei!! Oke!" Rena terlihat kegirangan.


Sekar menghirup napas lega karena Rena tak kembali bertanya. Dia harap-harap cemas akan pertanyaan kritis anak sulungnya itu.


Selang beberapa menit, Sekar dan kedua anaknya sudah berada di rumah. Selagi merebahkan Reni di atas kasur, Sekar mengintip sedikit di sela-sela kaca jendela, ingin melihat apakah ada Michael atau tidak di villa sekarang.


"Bunda." Rena menyelenong masuk ke dalam kamar sambil membawa boneka barbie.


"Kok Ayah udah nggak pernah nelpon lagi ya Bunda, Ayah kemana ya? Udah lama nggak telepon Rena ataupun main ke sekolah?" Rena keheranan, mengapa akhir-akhir ini Ayahnya tak pernah lagi menghubunginya dan berkunjung ke sekolah saat di jam istirahat, seperti yang dilakukan Andre sebelum-belumnya. Rena mencoba menelepon Ayahnya namun panggilan sama sekali tak di angkat.


Sekar pun merasakan hal yang sama, Andre tak pernah lagi bertandang ke butik. Terakhir kali ia bertemu adalah minggu lalu, saat Andre datang ke rumah dalam keadaan marah-marah. "Besok kita main ke rumah Ayah ya?"


"Oke, Bunda."

__ADS_1


"Rena ada yang mau Bunda tanyain, sini duduk dekat Bunda?" Sekar menjatuhkan bokong di tepi ranjang seketika.


Rena menurut dan duduk di samping Sekar. "Ada apa Bunda?"


"Sayang, menurut kamu Daddynya Shakila bagaimana?" tanya Sekar sambil menatap wajah bulat Rena.


Rena tak langsung menyahut. Dia tampak berpikir keras sejenak. "Apa Bunda mau menikah dengan Daddy Shakila?" Bukannya menjawab pertanyaan Bundanya, Rena malah mengajukan sebuah pertanyaan.


Sekar tergelak. Menatap heran putri sulungnya itu.


"Emm kalau menurut Rena, Uncle Michael itu orangnya baik, so sweet sekali sama Shakila, dia juga nggak pelit, selalu nepatin janji sama Shakila, kalau Bunda mau nikah sama Daddynya Shakila, Rena setuju-setuju saja, yang penting Bunda bahagia, Rena nggak mau lihat Bunda nangis kayak waktu itu."


Sekar tergugu, lidahnya sangat sulit untuk digerakkan sekarang.


"Tapi Rena belum bisa manggil Uncle Michael dengan sebutan Daddy ya, karena Ayah Rena cuma satu dan Rena sekarang rindu sama Ayah tapi kayaknya Ayah nggak rindu sama Rena." Rena kembali menambahkan dengan mimik muka sendu.


Sekar tak mampu berkata lagi. Kejujuran Rena membuat ia menitihkan air matanya tiba-tiba. Di usia Rena yang terbilang masih muda, anaknya sudah berpikir dewasa, entah karena bergaul dengan Shakila. Rena sudah mengerti perpisahan kedua orangtuanya. Bocah munggil itu tak pernah bertanya-tanya, mengapa orangtuanya tinggal tak seatap serumah. Tempo lalu, Sekar pernah mendengar celetukan Rena, mengatakan pada Shakila bahwa Ayah dan Bundanya telah bercerai.


Dalam sepersekian detik, ia membawa Rena ke dalam pelukan. "Maafin Bunda ya Nak."

__ADS_1


Di dalam pelukan, Rena tampak keheranan. "Kok Bunda nangis? Jangan nangis, Bunda. Rena sayang sama Bunda, kalau Bunda mau nikah sama Uncle Michael nggak apa-apa kok."


Mendengar perkataan anaknya, Sekar semakin mengeratkan pelukannya.


__ADS_2