Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Aku Akan Menunggumu


__ADS_3

Michael baru menyadari perbuatannya. Pria itu tampak salah tingkah, sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sekarang. "Maaf Sekar, aku tidak sengaja, tanganku reflek tadi," sahutnya sambil melirik Reni sedang bersender dipundaknya. Mata bayi munggil yang berusia 8 bulan itu berkedip cepat, sedari tadi memperhatikan interaksi antara Michael dan Sekar.


Sekar mengangguk pelan sambil menghirup udara di sekitar, berusaha menetralisir detak jantung yang semakin berdegup cepat tatkala melihat senyuman yang terlukis di wajah Michael saat ini.


"Ya sudah, ayo kita pulang." Michael mengalihkan pandangan ke arah Reni, masih bergeming di tempat sambil bergelayut manja di lengannya.


"Da,da,da.." celoteh Reni seketika sambil mengucek-ucek matanya,menahan kantuk.


"Iya, ayo kita pulang. Sudah waktunya Reni tidur siang, kemarikan dia, Michael." Sekar hendak mengambil alih Reni dari tangan Michael. Namun, pria itu menggeleng cepat.


"Biar aku saja Sekar, lihat dia sudah mulai tidur, lebih baik kamu menelepon Flores untuk mengambil mobil kamu di sini, kamu dan anak-anakmu naik mobilku saja," sahut Michael cepat.


"Apa tidak merepotkanmu, Mich?" Sekar tak enak hati sebab selama ini Michael kerapkali membantunya, dari proses penceraiannya tempo lalu hingga kedatangannya kemari untuk mengetahui keadaan ia dan anak-anaknya.


"Tidak,sudahlah, lihat Reni sudah tidur." Michael terkekeh pelan, melihat bayi munggil itu sudah mengatup kelopak matanya.


Shakila dan Rena pun tertawa pelan, melihat Reni tertidur pulas sambil berkicau-kicau tak jelas sekarang


Untuk kesekian kalinya, jantung Sekar semakin berdegup kencang, melihat Michael tengah tersenyum lebar.

__ADS_1


Lima menit kemudian, mereka sudah berada di parkiran rumah sakit hendak berjalan menuju mobil. Michael berjalan berdampingan bersama Shakila dan Rena sembari bercengkrama satu sama lain. Sementara itu, dengan jarak dua meter, Sekar mengekori mereka dari belakang, dari tadi mengamati tingkah laku mereka.


Para pengunjung yang lalu-lalang di rumah sakit, pasti mengira Sekar dan Michael, pasangan suami istri, yang tengah membawa ketiga anaknya berobat ke rumah sakit.


Tanpa sadar Sekar tersenyum tipis, melihat kedekatan Michael dan anak-anaknya.


Selang beberapa menit, Michael dan Sekar berserta anak-anaknya sudah tiba di rumah.


Dalam perjalanan ke rumah, Shakila dan Rena tertidur pulas, alhasil Sekar menyuruh Michael membaringkan Shakila di kamar anaknya.


Michael menurut, lalu dengan hati-hati merebahkan Shakila dan Rena secara bergantian.


"Lucu sekali mereka." Sebelum menutup pintu kamar, Sekar melirik Rena dan Shakila yang sekarang tengah menindih kaki masing-masing.


"Tidak, kenapa?" tanya Sekar penasaran.


"Ada yang mau aku bicarakan, ayo kita ke ruang tamu dulu," sahut Michael.


"Oke." Sekar mengangguk cepat.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tamu, Michael duduk di hadapan Sekar. Sedari tadi pria itu tak mengedipkan mata, memperhatikan lekat-lekat wajah wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya sejak beberapa bulan yang lalu.


"Jadi, apa yang mau dibicarakan Michael?" Sekar mulai membuka suara.


Sebelum menjawab pertanyaan Sekar, Michael menarik napas panjang.


"Sekar, maaf kalau aku sedikit lancang denganmu, sebenarnya aku sudah lama ingin mengutarakan ini padamu, waktu itu sejak pertama kali kita bertemu di supermarket, aku menyukaimu, Sekar. Aku pikir itu hanyalah sebatas suka saja, namun lama-kelamaan perasaan ini tak dapat terbendung sama sekali, ternyata aku salah besar, rupanya aku mencintaimu, Sekar. Aku tidak mau hubungan ini hanya sebatas pacaran saja, aku mau kamu menjadi pendamping hidupku di kemudian hari, Sekar. Aku berjanji akan menjadi suami yang setia dan menyayangi anak-anak kita kelak. Apa kamu mau menerimaku menjadi suamimu, Sekar?" tanyanya sambil meraih tangan Sekar dan mengenggamnya dengan erat.


Sekar tertegun sejenak, tak menyangka ternyata Michael mencintainya. Sekar tak langsung menjawab meskipun dirinya juga memiliki ketertarikan pada Michael. Namun, hatinya bimbang, kegagalannya dalam berumah tangga membuat Sekar trauma mendalam. Apalagi janji yang terucap barusan, sama persis pernah terlontar dari bibir Andre sewaktu dulu.


"Aku–"


"Sekar, kalau kamu ragu-ragu, jangan langsung di jawab, pikirkan lah dulu matang-matang, aku akan menunggumu," potong Michael cepat tanpa melepaskan genggaman tangannya. Untuk sejenak keduanya saling bersitatap satu sama lain saat ini.


Jika Sekar tengah diterpa dilema sekarang, namun, berbeda dengan Andre.


Kini Andre sangat frustrasi, setelah mengetahui dirinya mengidap penyakit HIV/AIDS. Hampir setiap hari pria itu muntah dan demam serta dari rudalnya keluar cairan-cairan kentah berwarna keruh. Tubuh Andre semakin kurus kering. Saat ini ia baru saja dari kamar mandi mengeluarkan semua makanan yang ia santap tadi pagi ke dalam closet.


"Andre! Tanda-tangani ini!" Melani baru saja datang ke rumah dan melempar dokumen di atas meja.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Andre dengan kening berkerut kuat.


Melani malah menyilangkan kedua tangannya di dada sambil mengangkat dagunya dengan angkuh. "Baca!"


__ADS_2