
Sekar memalingkan muka ke samping lalu mengambil salep dari tangan Michael dengan cepat. "Biar aku saja Michael," sahutnya sambil beranjak dari tempat duduk.
"Yakin?" Michael pun bangkit berdiri dan curi-curi pandang ke arah Sekar.
Sekar mengangguk pelan.
Suasana mendadak hening seketika. Kecanggungan sangat terasa sekarang, Michael menarik napas panjang karena sepertinya mengambil hati Sekar tidak semudah yang ia bayangkan.
Sejak Sekar pindah di dekat vilanya, Michael seakan mendapatkan angin segar. Dia pun mengajak Shakila menetap di vila untuk sementara waktu. Namun, sampai saat ini Sekar susah sekali didekati. Wanita itu selalu memberi jarak dengannya. Sekar ibaratkan terumbu karang yang kokoh dan susah sekali disentuh. Akan tetapi, hari ini ada sedikit perubahan, Michael membuat alasan ingin mengembalikan kotak bekal tupperw4re milik Rena, yang di pinjam Shakila tempo lalu. Dan sebelum pulang Michael berbicara sebentar dengan Sekar di teras rumah.
Pria itu sesekali melontarkan kata-kata lucu walaupun sedikit kaku. Sebab Michael memiliki karakter yang dingin dan cuek terhadap para wanita. Namun, demi wanita yang ia sukai, Michael berusaha merubah sikapnya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa hubungi aku, sepertinya Andre akan sering ke sini, aku takut kalau mantan suamimu itu akan melukai kamu dan anak-anakmu." Akhirnya Michael membuka suara, menatap lekat-lekat Sekar yang dari tadi terdiam membisu.
"Iya, terima kasih Michael," ucap Sekar sambil tersenyum kaku.
Setelah punggung Michael menghilang dari balik pintu, Sekar duduk di atas sofa kembali, tercenung sejenak seraya menyentuh dadanya yang berdetak kencang entah karena apa.
__ADS_1
*
*
*
"Andre! Dari mana saja kamu!" teriak Melani ketika melihat Andre baru saja masuk ke rumah. Secepat kilat ia meletakkan sapu dan melangkah pelan, menghampiri Andre.
Andre tengah menjatuhkan bokongnya di sofa dan menyenderkan kepalanya seketika.
"Andre! Cepat jawab!" Melani kembali menjerit saat tak mendapat jawaban sama sekali.
Mendengar nama Sekar, kedua tangan Melani terkepal kuat. "Ngapain kamu ke sana ha! Apa wanita mur4han itu menggodamu!"
"Diam!" Andre bangkit berdiri tiba-tiba lalu menarik tangan Melani dan menuntunnya wanita itu ke kamar.
"Andre! Aku masih marah! Kamu mau apa?!" tanya Melani sambil menyeimbangi langkah kaki Andre yang lebar itu.
__ADS_1
Tak ada sahutan, Andre malah mempercepat langkah kakinya.
Sesampainya di kamar, Andre langsung mendorong tubuh Melani ke atas kasur. Hingga wanita itu terjembab di ranjang empuk itu. Tanpa memikirkan kondisi Melani yang tengah berbadan dua, Andre menggauli tubuh istrinya dengan sangat liar dan mengabaikan saran dari dokter tadi. Entah apa yang dipikirkan Andre saat ini. Pria itu benar-benar gila.
Setengah jam kemudian, Melani menoleh ke samping, melihat Andre sedang tertidur pulas setelah berhubungan badan bersamanya tadi.
Dengan pelan Melani beringsut dari ranjang dan memakai dasternya seketika, kemudian mendekati pintu kamar sambil menahan rasa sakit di tubuhnya karena permainan Andre sangatlah kuat tadi.
"Shfft, ah sakit sekali..." lirih Melani, meringis pelan.
Sesampainya di luar kamar, Melani berniat melanjutkan lagi membersihkan rumah. Dia pun pergi ke ruang depan, hendak mengambil kemoceng di atas lemari.
"Jorok banget sih Andre, rumah udah kayak kapal pecah," Melani bergumam pelan sembari menyambar kemoceng.
Ketika membalikkan badan, pandangan Melani teralihkan ke selembar kertas di atas meja. Dia ingat betul jika Andre masuk ke rumah sambil membawa kertas tadi. Melani sangat penasaran. Dia pun mengayunkan kaki, mendekati meja di ruang tamu.
"Tidak!!! Ini tidak mungkin! Argh!!!" Betapa terkejutnya Melani saat membaca isi kertas yang memperlihatkan hasil bahwa Andre mengidap penyakit HIV/AIDS.
__ADS_1
Melani begitu ketakutan sekarang.