Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Berjumpa Calon Mertua


__ADS_3

Keheningan tercipta sesaat di ruangan.


Sekar dapat melihat wajah wanita paruh baya itu masih terlihat segar di usianya yang sudah tidak muda lagi. Aura yang terpancar dari Miranda begitu elegan, bak dewi-dewi kerajaan keraton.


Sekat teringat perkataan Michael semalam, mengenai Mommynya yang merupakan keturunan diningrat asli. Begitupula dengan Daddy Michael keturunan darah biru di negeri Belanda. Kata Michael Mommy dan Daddynya memang jarang berbicara dan memiliki sifat yang sama seperti dirinya, dan meminta padanya untuk memakluminya. Meskipun begitu, menurut penuturan Michael, Mommy dan Daddynya adalah orang yang baik.


Namun, entah mengapa saat ini, Sekar semakin gugup. Kala keduanya tak menanggapi perkataan Michael dan malah melanjutkan menyeduh teh.


Michael berdeham rendah sejenak lalu berbisik di telinga Sekar. "Hmm, Sekar, ayo kita bergabung bersama Mommy dan Daddyku," ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.


Sekar mengangguk pelan lalu mengikuti langkah kaki Michael. Sesampainya di sofa, Sekar duduk di samping Michael dan langsung berhadapan dengan orangtua Michael.


Sebelum menjatuhkan bokong ke sofa, tak lupa Sekar membungkukkan badan sedikit lalu melemparkan senyuman tipis kepada orangtua Michael, walau tak di balas sama sekali oleh mereka.


Hawa di sekitar terasa mencekam. Tanpa sadar Sekar menarik napas dalam, menetralisir kegugupan yang menderanya sekarang.


"Michael," panggil Miranda seketika.


"Iya Mom?"


"Bisakah kamu mengambilkan gula di dapur, asisten mu sedang sibuk sekarang, sekalian Mommy mau berbicara dengan kekasihmu ini." Miranda melirik Sekar sekilas.


Sekar meremas sedikit gaun yang menempel di tubuhnya kala mendengar permintaan Miranda barusan. Entah mengapa perasaan tak nyaman merasuk palung hatinya.


Michael tersenyum lebar. "Oke, Mom." Lalu mengalihkan pandangan ke samping dan berkata,"Sekar, aku ke belakang dulu ya, aku tidak lama kok, Mommy mau berbicara bersamamu."


Sekar membalas dengan tersenyum hambar. "Iya."


Selepas kepergian Michael, Sekar tampak salah tingkah, baik Miranda dan Karl sama-sama tak membuka suara.

__ADS_1


"Apa kamu gugup?"


Miranda mengajukan pertanyaan yang membuat Sekar tersenyum kaku saat ini.


"Tidak Bu, saya-"


"Jangan panggil aku Bu, panggil aku Mommy dan gunakan bahasa informal saja," sela Miranda cepat sambil tersenyum tipis sekali.


Sekar sedikit bernapas lega karena akhirnya dapat melihat Miranda tersenyum.


"Iya, Mom."


"Apa kamu sudah bertemu Kiara kemarin? Apa yang wanita itu katakan tentang kami?" tanya Miranda beruntun.


Sekar kebingungan. Apa dia harus berkata jujur pada Miranda. Dia tak langsung menjawab, tengah merangkai kata-kata dibenaknya saat ini.


Karl menyeruput pelan teh tersebut dan menaruh kembali gelas di atas meja. "Hm, seperti yang kamu katakan Darling, seharusnya wanita itu kita kirim ke Antartika supaya tidak membuat huru-hara di kehidupan anak kita," ucapnya pelan namun tegas.


"Karl, Karl, Karl, tidak semudah itu." Miranda mengangkat alis matanya sedikit lalu menatap lurus ke depan lagi. "Sekar, percayalah apa yang dikatakan Kiara memang benar, aku sangatlah galak padanya dan dari dulu tidak pernah menyetujui hubungan Michael dan Kiara, karena Kiara wanita jahat dan berbisa. Anakku itu memang benar-benar bodoh, mau saja menikahi wanita ular itu."


Suara Miranda terdengar dingin di telinga Sekar membuatnya semakin cemas.


"Tapi khusus dirimu, aku memberi pengecualian." Miranda kembali menambahkan.


Kini dahi Sekar berkerut kuat, tengah kebingungan, karena ucapan Miranda terdengar ambigu.


"Maksudnya Mom?"


"Hahaha!" Pecah tawa Miranda seketika. "Lihatlah Karl, sepertinya calon menantumu ini was-was tidak di terima," sahutnya sambil meletakkan cangkir ke atas meja.

__ADS_1


Karl hanya tersenyum tipis menanggapi Miranda. Sementara, Miranda beranjak dari sofa tiba-tiba dan melangkah cepat mendekati Sekar.


"Dear, apa kamu mengira, aku tidak menyetujui hubunganmu dan anakku?" tanya Miranda, tersenyum simpul sambil mengelus rambut panjang Sekar yang menjuntai ke belakang.


Sekar mengedipkan mata dengan cepat kala aura yang keluar dari tubuh Miranda berubah menjadi lebih lembut.


"Iya Mom, karena aku bukan keturunan bangsawan seperti kalian. Apalagi kemarin Kiara mengatakan-"


"Shfft, oh Dear, jangan mendengarkan perkataan wanita gila itu, Mommy hanya bersikap seperti itu pada Kiara, kalau untukmu tentu saja berbeda, come on, Mommy tak peduli kalau kamu tidak keturunan darah biru atau darah apapun itu, bukankah peristirahatan terakhir kita sama, asal kamu tahu Mommy senang sekali, karena akhirnya Michael pandai memilih wanita, kamu sangat cantik dan keibuan, oh ya di mana anak-anakmu? Kenapa tidak di bawa?" ucapnya panjang lebar sambil mengelus pelan pipi Sekar.


Sekali lagi mata Sekar berkedip cepat. Tak menyangka ternyata Mommy Michael memperlakukannya dengan sangat baik. Sekar jadi malu sendiri jadinya karena sudah beranggapan tak baik pada Mirana tadi. Dan sepertinya Miranda tak mempermasalahkan statusnya seorang janda.


"Terima kasih Mom, Mommy benar, mereka di panti asuhan."


"Yah! Besok bawa ke sini ya, kasihan Shakila, dia tak ada teman bermain di sini, oh ya jadi kapan kalian menikah? Mommy sangat tak sabaran," ucap Miranda semangat.


"Secepatnya Mom," sahut Michael seketika.


Belum juga bibir Sekar bergerak, Michael sudah menyelanya. Sekar terkejut sejenak, mendengar jawaban Michael barusan.


"Oh my! Benarkah?"


Michael mengangguk sambil melempar senyuman pada Sekar, yang saat ini terlihat salah tingkah.


...----------------...


Jangan lupa mampir juga ke novel author yang ini ya 😊


__ADS_1


__ADS_2