
Hening, suasana mendadak canggung.
"Michael kenapa Shakila di bekap mulutnya? Kasihan dia kesusahan bernapas." Dari ujung sana Sekar memperhatikan tingkah Shakila dan Michael.
Michael baru saja tersadar. Secepat kilat menurunkan tangannya. Pria itu tampak kikuk.Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sekarang dan berharap Sekar tak mendengar perkataan Shakila tadi.
Shakila mendengus pelan lalu mengarahkan lagi toa ke bibirnya. "Mommy, dengar Shakila kan tadi, kalau Daddyku itu sehari tak sanggup tak melihat wajah Mommy.".
Michael tampak salah tingkah, telinganya sekarang sudah nampak memerah. "Shakila, masuk ke kamarmu sekarang atau Daddy tidak mau memberikanmu uang jajan." Michael melototkan mata ke arah Shakila.
"Mom, Daddy tidak mau memberikan aku uang jajang, karena dia malu sama Mommy sekarang."
Michael menahan sabar. Dia mengangkat Shakila seperti karung beras dan mengambil toa dari tangan munggilnya. Mengabaikan Sekar di ujung sana tengah membalas perkataan Shakila dengan terkekeh pelan.
"Ish, Daddy menyebalkan! Turunin Shakila sekarang!" ucap Shakila dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Never, kamu harus di hukum!" ucap Michael tegas.
"Michael, turunkan Shakila sekarang, aku mendengar semuanya tadi, aku juga merindukanmu Michael."
Bak kesamber petir di siang bolong, Michael tak menyangka ternyata Sekar merindukannya juga. Tanpa sadar dia melengkungkan senyuman.
"Tuh kan dengar, Mommy aja rindu sama Daddy, uh Daddy nggak gercep sih, pintar kan Shakila jadi mak comblang Daddy hihi," sahut Shakila, masih bergeming di pundak Michael.
"Shfft, diam, sekarang masuk ke kamar, kamu harus di hukum," sahut Michael tanpa menatap lawan bicara. Saat ini dia tengah memandangi Sekar dari kejauhan. Kini wanita itu tengah dihampiri Rena yang tengah menyodorkan Reni padanya.
Michael memejamkan mata sejenak karena Shakila benar-benar bawel. Tanpa berpikir panjang ia melangkah cepat menuju kamar putrinya, kemudian memasukan Shakila ke dalam dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.
"Maaf, aku lama ke dalam." Sekarang Michael sudah berada di teras depan dan mengarahkan toa ke bibir sambil menatap Sekar.
"Iya, tidak apa-apa, jangan terlalu kasar sama Shakila, Michael. Dia masih kecil."
__ADS_1
"Iya, maaf." Michael tampak salah tingkah karena keduanya saling bersahut-sahutan menggunakan toa sedari tadi. Untung saja pemukiman di sini tak ramai dan jarak antar rumah pun lumayan jauh. Kecuali villa Michael dan rumah Sekar yang tidak terlalu jauh, hanya di batasi rumput-rumput liar.
Sekar mengulas senyum. "Oh ya, nanti malam apa kamu ada waktu sebentar. Mari kita bertemu, ada yang mau aku bicarakan," ucap Sekar kemudian.
Mendengar hal itu Michael bahagia karena sepertinya Sekar akan membicarakan hal penting terkait jawaban ungkapan cintanya kemarin. "Iya, tentu saja ada, ayo kita makan malam di restaurant," balasnya cepat.
Sekar mengangguk cepat.
***
Malam pun tiba, di restaurant bintang lima, Michael nampak grasak-grusuk menunggu kedatangan Sekar. Dia sedikit kecewa karena Sekar tak mau pergi bersamanya tadi. Sekar beralasan ingin berkunjung ke rumah Andre terlebih dahulu bersama anak-anaknya dan akan menyusul dirinya nanti. Entah mengapa perasaan Michael sangat was-was. Takut, jika Sekar menolaknya.
"Kemana dia? Apa dia masih di rumah Andre?" Michael melirik arloji di pergelangan tangan, menunjukan pukul setengah delapan, yang artinya Sekar sudah terlambat tiga puluh menit, tak sesuai dengan jam ketentuan pertemuan.
Michael panik. Namun, dalam sekian detik raut wajahnya berubah, saat melihat Sekar di depan sana' tengah melangkah pelan, mendekati mejanya.
__ADS_1
Michael bangkit berdiri seketika. Menatap penuh damba ke arah Sekar, yang terlihat mempesona, dengan balutan dress sebatas lutut berwarna putih gading yang menempel di tubuh moleknya.