
Sekar terenyuh melihat ketidakberdayaan Andre saat ini. Dia pun menyayangkan perbuatan Andre, yang tak memikirkan terlebih dahulu apa dampak dari perselingkuhan yang ia lakukan dulu. Namun, semuanya sudah terlambat sekarang.
"Baguslah, kalau kamu menyesali perbuatanmu, sebelum kamu meminta maaf padaku, aku sudah terlebih dahulu memaafkanmu, Andre. Sekarang kamu harus bangkit dan bersemangat untuk sembuh, lihatlah Rena dan Reni, mereka merindukanmu," sahutnya sambil menyodorkan bayi munggilnya ke pangkuan Andre.
Secepat kilat Andre mengambil alih Reni dari tangan Sekar kemudian menatap lekat-lekat anak keduanya itu. Reni berkicau-kicau tak jelas sedari tadi. Andre semakin merasa bersalah karena menelantarkan kedua anaknya.
"Semoga kamu lekas sembuh Andre, lihatlah Rena dan Reni, mereka anak-anak yang lucu bukan," sahut Michael seketika. Dari tadi dia hanya diam saja memperhatikan interaksi antara Sekar dan Andre.
Andre menoleh. "Iya, aku benar-benar menyesal, aku minta padamu, Michael. Karena selama ini berprasangka buruk terhadapmu," sahutnya sambil mengulas senyum tipis.
Michael pun mengembangkan senyuman karena akhirnya Andre mau meminta maaf padanya. "Iya, aku juga minta maaf karena ikut campur urusan kalian, tapi aku tidak bisa melihat wanita yang aku cintai ini disakiti."
Mata Sekar terbelalak saat mendengarkan penuturan Michael barusan.
Andre pun tak kalah terkejutnya. Dia terbakar api cemburu seketika. Namun, dirinya tak memiliki hak lagi karena statusnya sekarang sudah menjadi mantan suami Sekar.
__ADS_1
"Selamat Michael, Sekar," ucapnya sambil tersenyum getir. "Aku turut bahagia, semoga hubungan kalian langgeng, jika suatu saat nanti aku pergi, aku titip Sekar dan anak-anakku padamu, Michael."
Michael tersenyum tipis, melihat sikap Andre yang sudah berubah sekarang. "Jangan berbicara seperti itu, kamu harus tetap hidup dan melawan penyakitmu."
Andre hanya diam saja. Sejujurnya, di relung hati terdalam, dia mengharapkan hal yang sama, ingin hidup lebih lama lagi dan melihat kedua anaknya beranjak dewasa. Namun, apalah daya penyakit yang ia derita sekarang, belum ada obatnya dan kecil kemungkinan ia dapat sembuh. Andre hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang.
Setelah menjenguk Andre di ruangan, Sekar dan Michael berkunjung ke ruang Melani, yang kebetulan berada di rumah sakit yang sama. Sementara, Rena, Reni dan Shakila masih berada di ruangan Andre, tengah menghibur pria itu.
"Sekar," Melani bergumam pelan, melihat Sekar dan Michael masuk ke dalam ruangan.
Melani pingsan di tempat dan mengalami pendarahan yang sangat hebat kemudian dibawa oleh para karyawan kantor ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Melani langsung diberikan pertolongan pertama, wanita itu selamat, akan tetapi bayi di dalam perutnya meninggal akibat benturan. Melani begitu tertekan dan sedih, meratapi nasibnya saat ini.
"Bagaimana keadaanmu, Mel?" tanya Sekar dengan tatapan sendu. Sekar sudah mengetahui kronologi Melani terjatuh di kantor Andre. Dia merasa kasihan dengan keadaan Melani, yang telah kehilangan anaknya selama-lamanya.
"Seperti yang kamu lihat, anakku mati, Sekar, aku minta maaf...hiks, hiks, hikss, aku menyesal, Sekar, aku sangat menyesal, apa ini karma untukku...." ujar Melani dengan berderai air mata.
__ADS_1
Sekar tak membalas perkataan Melani. Dia malah memeluk tubuh Melani seketika lalu berkata sambil mengelus punggung Melani,"Mel, jangan berbicara seperti itu, itu sudah menjadi suratan takdir, aku sudah memaafkanmu."
Sebagai seorang Ibu, Sekar dapat merasakan apa yang dirasakan Melani saat ini. Sekar berharap Melani segera sembuh dan dapat menjalani kehidupannya.
Selang beberapa menit, Sekar dan Michael berserta anak-anaknya sudah keluar dari rumah sakit. Kini mereka tengah berjalan menuju parkiran mobil.
"Sekar, aku mau ke toilet dulu, tunggulah aku sebentar." Michael menghentikan gerakan kakinya seketika.
Sekar memutar kepala ke samping. "Oke, jangan lama-lama, kami menunggu di dekat mobil ya."
Michael mengangguk cepat kemudian melenggang pergi.
Setelah sampai di parkiran mobil, Sekar terlihat kebingungan, melihat Shakila tiba-tiba bersembunyi di belakangnya kala seorang wanita berambut blonde melangkah cepat, mendekati mereka.
"Shakila!" serunya sambil memandang sinis Sekar lalu menarik kuat tangan Shakila untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
__ADS_1