Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Tak Sebanding


__ADS_3

Sekar merasa wanita di hadapannya sangat berbahaya. "Jangan kasar sama Shakila, kamu siapa?" Dia menarik tangan Shakila seketika lalu menyembunyikan kembali anak kecil itu di belakang tubuhnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Sekar, wanita itu malah menatap Shakila. "Dear, apa kamu tidak rindu sama Mommymu ini? Daddymu di mana?" tanyanya sambil menarik lagi tangan Shakila.


Sekar sedikit terkejut, ternyata wanita berambut panjang dan berpenampilan glamor ini adalah Mommynya Shakila, yang bernama Kiara, yah, Sekar ingat Shakila pernah menyebut siapa nama Mommynya itu.


Sekar bingung, mengapa sikap Kiara terhadap Shakila, tak seperti Ibu dan anak pada umumnya, terkesan kasar, menurutnya.


Shakila mengibaskan cepat tangan Kiara. "Ish, apaan sih Mommy? Nggak usah pegang-pegang Shakila, Shakila nggak rindu sama Mommy!" seru Shakila dengan suara yang bergetar pelan.


Sekali lagi Sekar tersentak, Shakila sepertinya memiliki trauma psikis pada Mommynya sendiri.

__ADS_1


Rahang Kiara mengetat seketika. "Shakila! Berani kamu sama Mommy ya! Siapa yang ngajarin kamu?!" ucapnya sambil mencengkram kuat dagu Shakila.


"Hei! Turunkan tanganmu!" Dengan sekuat tenaga Sekar mendorong dada Kiara, dia tak bisa bergerak bebas karena berada Reni di gendongnya sedari tadi.


Kiara terhuyung sejenak ke belakang. "Kurang ajar! Kamu siapa ha?!" serunya sambil melototkan mata.


Sekar bingung harus menjawab apa, apa dia harus mengatakan kepada Kiara bahwa ia adalah pacar dari mantan suami wanita itu. "Aku–"


"Dia pacarnya Daddy dan calon Mommy Shakila, kenapa? Apa ada masalah Mom?" Meskipun Shakila terlihat ketakutan, namun gadis munggil itu mendongakkan kepalanya ke atas, melayangkan tatapan tajam.


Mendengar hal itu, Kiara tersenyum sinis lalu melipat tangan di dada dan berkata,"Oh ya? Hanya pacar kan? Belum tentu jadi istri Michael, lagipula apa kamu bisa tahan memiliki mertua seperti Mommy Michael, aku saja tidak tahan dengan mantan mertua galakku itu, asal kamu tahu, keluarga Michael itu orang terpandang di Belanda, dan kamu itu tidak selevel dengan Michael. Aku bingung, mengapa Michael bisa jatuh cinta padamu."

__ADS_1


Kiara menelisik penampilan Sekar yang menurutnya tak menarik sama sekali. Pasalnya Sekar memoles wajahnya tipis-tipis dan hanya memberi warna pink natural pada bibirnya. Sementara Kiara memang suka hal-hal yang berbau glamor. Maka dari itu dimata Kiara, Sekar terlihat biasa saja. Padahal bagi kacamata orang lain, wajah Sekar sangatlah keibuan, manis dan enak untuk dipandang.


Sekar menghela napas sejenak.


"Aku tak peduli pendapatmu, masalah jodoh atau tidak itu bukan urusanmu, sekarang apa maumu dari Shakila? Jika kamu rindu padanya, bersikaplah selayaknya sebagai seorang Ibu," ucap Sekar tenang dan tak terprovokasi sedikitpun dengan perkataan Kiara barusan.


Malah Kiara yang meradang, tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangannya. Tak mengira Sekar ternyata tak mudah digertak. "Tak usah menasehatiku! Cih! Aku hanya ingin melihat anakku sendiri, kenapa? Apa kamu tak suka! Aku hanya mau memberitahu mu, lebih baik kamu mundur saja!"


Sekar geleng-geleng kepala, melihat sikap Kiara. Dia enggan menanggapi perkataan Kiara.


Kiara semakin naik pitam hendak menarik rambut Sekar."Awas saja–"

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Gerakan tangan Kiara terhenti saat mendengar suara Michael dari belakang.


__ADS_2