
"Ih Daddy nakal! Hihihi, hiii Daddy kayak ikan dugong."
Suara cempreng Shakila terdengar di sekitar. Secepat kilat Sekar mendorong tubuh Michael dan melirik sekilas dua bocah itu tengah cekikikan saat ini.
Sekar tampak salah tingkah.
Michael mendengus sejenak lalu melototkan mata ke arah Shakila karena anaknya itu telah menganggunya. Entah sejak kapan Shakila berada di ruangan.
"Shakila, sejak kapan kamu ada di sini? Ayo cepat masuk ke dalam kamar, tidur!" titah Michael seketika sambil menatap tajam.
Bukannya takut, Shakila malah cekikikan lalu melipat tangan di dada. "Hihi, ada deh, yang pastinya pas Daddy rayu-rayu Mommy," sahutnya, mengangkat dagu dengan angkuh.
"Oh my, Shakila masuk ke dalam kamarmu." Michael menaikan sebelah alis mata. Berhadapan dengan Shakila, mengingatkan Michael pada dirinya muda dulu, yang keras kepala dan susah di atur.
"No!" Alis mata Shakila pun terangkat sedikit seperti Michael. Keduanya saling bertatapan satu sama lain sekarang, bak beradu perang.
Sekar menggeleng pelan, melihat kelakuan bapak dan anak itu, tanpa sadar ia tersenyum tipis. "Shakila, masuk ke dalam ya, tidurlah dulu, nanti Mommy akan bangunkan," katanya dengan pelan dan lembut.
Shakila memutus kontak matanya seketika lalu mengalihkan pandangan ke arah Sekar. "Hehe oke Mommy, Shakila mau pipis dulu ya," ucapnya sambil melirik sinis Michael. Namun di mata Sekar wajah Shakila terlihat lucu.
"Iya Sayang." Sekar terkekeh sejenak setelahnya.
__ADS_1
Selepas kepergian Shakila. Michael mengenggam kedua tangan Sekar tiba-tiba.
"Sekar, jangan marah lagi ya, aku serius dengan hubungan kita, besok aku akan membawamu menemui Daddy dan Mommyku, kamu ada waktu kan?"
Sekar terkejut, mendengar ajakan Michael untuk menemui kedua orangtuanya.
"Ha besok? Bukannya jarak Indonesia dan Belanda lumayan jauh, maaf Michael, aku tak bisa," ucapnya tak enak hati, karena tak bisa membawa anaknya yang masih bayi berjalan jauh.
Michael tersenyum tipis. "Tenanglah,
kamu tak usah khawatir, Mommy dan Daddyku nanti malam sudah di Jakarta, mereka dalam perjalanan ke sini, jadi kamu tidak memiliki alasan lagi untuk menolak, Sekar. Kasihan Daddy dan Mommy datang jauh-jauh dari Belanda hanya untuk bertemu calon menantunya."
"Iya, besok aku akan menjemputmu kemari ya, malam ini aku harus menjemput mereka di bandara dan menemani mereka di mansionku. Untuk malam ini aku tidak tidur di villa," ucap Michael dengan semangat, tak sabaran ingin mengenalkan Sekar pada orangtuanya.
Sekar tersenyum kaku. "Baiklah, Michael, jemputlah aku besok. "
***
Pagi-pagi sekali, Sekar menitipkan Rena dan Reni kepada Ibu angkatnya di panti asuhan. Setelah memastikan kedua anaknya aman, Sekar pergi ke butik, melihat-lihat sebentar kinerja para pegawainya.
Pukul sepuluh pagi, Sekar pun kembali ke rumah, hendak mandi dan bersiap-siap, sebelum Michael datang menjemput.
__ADS_1
Satu jam kemudian, Sekar mengulas senyum tipis, melihat mobil Michael berhenti di depan teras. Secepat kilat Sekar melangkah menuju mobil Michael lalu masuk ke dalam.
"Hari ini kamu sangat cantik, Sekar." Michael memuji penampilan Sekar setelah melihat Sekar duduk di sampingnya.
Semburat merah muncul di kedua pipi Sekar seketika. "Terima kasih."
"Kamu sudah siap?" tanya Michael sambil menyalakan kembali mobilnya.
Sekar mengangguk.
Menempuh perjalanan hampir satu jam, Sekar sudah tiba di kediaman Michael yang nampak megah. Sekar menenguk ludahnya berkali-kali, menetralisir rasa gugup yang tiba-tiba menderanya.
"Ayo kita masuk. " Michael merangkul tangan Sekar.
"Iya, ayo," balas Sekar tersenyum hambar.
Sesampainya di ruang tamu.
"Hai Mom, Dad, ini Sekar, wanita yang semalam aku ceritakan," ucap Michael, tersenyum lebar.
Sekar tersenyum kikuk, melihat orangtua Michael langsung memusatkan perhatian ke arahnya saat ini. Sekar begitu gugup, saat Mommy Michael memandanginya, dari ujung kepala sampai ujung kaki, tanpa ekspresi sama sekali.
__ADS_1