
Sudah sebulan Sekar menyandang status menjadi janda. Rasanya dia seperti menghirup udara segar karena sekarang perasaannya lega. Meskipun begitu, jauh di lubuk hatinya kadangkala dia masih merindukan Andre. Bagaimana tidak pria itulah yang menjadi pacar pertama sekaligus cinta pertamanya. Bukan hal yang mudah bagi Sekar, mengambil keputusan untuk berpisah dengan Andre. Namun, saat mengingat pengkhianatan yang dilakukan Andre, Sekar hanya mampu menghela napas kasar sebab bukan satu wanita Andre berselingkuh tapi dengan banyak wanita.
Sampai sekarang Sekar masih penasaran. Sebenarnya apa yang membuat Andre menduakannya. Padahal, Sekar sudah menjadi istri yang penurut, istri yang pandai mengurus rumah dan anaknya, dan menjadi istri yang berpenampilan cantik serta menarik, bahkan membantu perekonomian mantan suaminya itu. Tidak hanya sampai di situ untuk masalah ranjang, jika Andre meminta berhubungan badan, Sekar pasti akan melayani suaminya sampai puas. Aneh bukan? Entahlah, Sekar benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Andre.
"Bunda, hari ini kita mau kemana? Kok bawa barang-barang kayak mau pindahan aja Bunda?" tanya Rena seketika.
Setelah sebulan tinggal di panti asuhan tempat dia dulu berteduh. Hari ini, Sekar berencana pindah ke rumah barunya. Dia tak sanggup untuk menetap di rumah yang pernah memberikannya kenangan-kenangan bersama Andre.
Saat ini Sekar, Rima, Rena dan Reni berada di dalam taksi.
"Kita pindah ke rumah baru ya Sayang," ucap Sekar sambil melirik Rima di samping, menggendong bayi munggilnya bernama Reni tengah tertidur pulas.
"Yei! Rena punya rumah baru ya, Bunda." Rena mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Iya Sayang."
"Tapi Bunda, kok Ayah nggak ikut lagi, apa dia masih sibuk kerja Bunda?"
Rena mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Sekar melemparkan pandangan ke arah Rika sejenak.
Sekarang Sekar bingung harus menjawab apa sebab dia sudah sering membuat alasan pada Rena. Alhasil Sekar pun sedih karena perpisahan yang ia lakukan sampai harus mengorbankan anaknya.
"Ayahnya Rena masih ada kerjaan, untuk sekarang Bunda, Rena dan Reni pergi dulu ke rumah barunya ya." Rima mengeluarkan suara seketika, berusaha memberi pengertian.
__ADS_1
"Hm, oh gitu." Rena nampak manggut-manggut sejenak.
Sekar menarik panjang. "Rena udah nggak takut lagi sama Ayah?" tanyanya, sebab tempo lalu Rena sempat ketakutan saat berhadapan dengan Andre. Mungkin karena trauma yang dimiliki Rena, belum sembuh sepenuhnya.
Rena menggeleng cepat. "Nggak lagi Bunda, kata Shakila nggak boleh takut sama Ayah sendiri hehe."
Sekar tersenyum tipis. "Baguslah."
Selang beberapa menit, kendaraan roda empat berwarna biru pekat itu berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar dan nampak asri.
Sekar mengulas senyum tipis, melihat rumah yang ia beli dari hasil jerih payahnya selama ini terpampang nyata di hadapannya sekarang. Sekar sengaja membeli rumah yang jauh dari pusat kota, bermaksud ingin mencari ketenangan.
"Hati-hati Sekar, Ibu takut loh lihat kamu udah bisa jalan sekarang," ucap Rima seketika saat melihat Sekar turun dari mobil dengan tergesa-gesa.
"Hehe iya Ibu tenang aja ya, Sekar baik-baik aja kok, yuk kita masuk ke dalam." Sekar membayar taksi kemudian mengandeng tangan Rena. "Pak, tolong bawa keluar ya kopernya," ucapnya pada sang supir.
"Ayo!" Dengan langkah riang, Sekar mengajak Ibu angkat dan anaknya masuk ke rumah barunya.
Sesampainya di dalam, Sekar mengedarkan pandangan, mengagumi sejenak setiap sudut-sudut ruangan rumah.
Terdengar klakson dari luar rumah seketika diikuti suara seorang anak kecil, siapa lagi kalau bukan Shakila.
Rena berlarian ke ambang pintu. Sementara Sekar hanya memutar kepala sekilas, penasaran mengapa Shakila ada di luar rumah barunya saat ini.
__ADS_1
"Shakila! Kok kamu ada di sini?" tanya Rena heran.
"Hehe, seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu ada di sini Rena? Villa Daddyku ada di sana, aku baru saja keluar dari villa dan tidak sengaja melihat kalian," ucap Shakila cepat.
"Benarkah? Berarti kita tetanggaan." Rena terlihat senang.
"Hehe, iya kalau tidak di ajak Daddyku, aku jarang sekali ke sini."
Rena nampak manggut-manggut sejenak.
"Tapi sepertinya aku akan suruh Daddy tinggal di sini saja sekarang biar lebih dekat dengan calon Mommyku, hehe."
"Calon Mommy, maksudnya?" tanya Rena bingung.
"Aish! Dasar tidak peka!" Shakila mencebikkan bibir seketika.
Rena menggaruk kepalanya sejenak karena bertambah bingung.
"Hai Shakila." Dari belakang Sekar berjalan mendekati mereka kemudian memegangi pundak Rena.
"Hai Mommy." Shakila malah da da dah.
Dahi Sekar berkerut kuat sekarang. "Mommy?" gumamnya pelan.
__ADS_1
"Ish! Shakila, ini Bundaku tahu!" Rena tak terima saat mendengar Shakila memanggil Bundanya dengan sebutan Mommy.
Shakila cenggengesan.