Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Tidak Mungkin


__ADS_3

"Hai Michael, maaf aku datang terlambat," ucap Sekar ngos-ngosan.


Sesampainya di cafetaria, Sekar mengatur pernapasannya sejenak sebab dia sudah terlambat lebih dari setengah jam.


"Tak apa, duduklah, apa Rena dan Reni sudah di antar ke tempat neneknya?" Sudah sebulan lebih Michael tak bertemu Sekar, pria itu disibukkan dengan kasus terbaru, yang harus ia tangani sendiri. Dan sore ini akhirnya Michael dapat mengajak Sekar, melepas kepenatan bersama.


"Sudah Michael, Ibuku senang karena di temani cucunya, oh ya di sana juga ada Andre, sekali lagi aku minta maaf ya." Sekar menunjukkan mata memelas karena tak enak hati dengan Michael.


Sejak berjumpa Miranda tempo lalu, Michael sangat susah sekali ditemui. Namun, hari ini Sekar sangat gembira karena Michael memiliki waktu luang untuknya. Dan jujur saja, setelah bertemu orangtua Michael kemarin, setiap kali mendapat perhatian dari Michael, Sekar merasakan getaran cinta merasuk ke relung hatinya sekarang.


Saat tak bisa bertemu, Michael selalu menelepon ataupun mengirim pesan singkat padanya. Pria itu penuh perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya juga. Serta bersikap dewasa, pasalnya' Michael tak pernah marah jika Andre berkunjung ke rumah, hendak menemui anak-anaknya. Kini sikap Andre juga telah berubah dan tak seperti dahulu kala.


"Tidak apa-apa Sayang, aku juga salah karena mendadak memberitahumu, soalnya aku bangunnya kesiangan, kamu tahu sendiri kan' kasus yang aku kerjakan sekarang, sangatlah sulit." Michael mengurut-urut pelipisnya sejenak kala rasa pusing masih terasa.


Sekar menatap sendu. "Kasihan sekali, apa kamu tidak mau ke SPA Michael, di urut begitu?"


Michael menggeleng kuat. "Tidak usah, nanti juga pasti akan hilang."


"Yakin?"


"Yakin Sayang." Michael langsung menggengam tangan Sekar yang berada di atas meja sambil tersenyum lebar.


Semburat merah muncul di kedua pipi Sekar seketika. Dia senyam-senyum sendiri. "Hm."


"Oh ya, kamu mau pesan apa?" tanya Michael kemudian tanpa berniat melepaskan tangan Sekar.


"Sesuaikan denganmu saja Michael."


"Baiklah, tunggu sebentar." Michael pun memberi kode pada waitres untuk mendekat ke meja. Setelah selesai memesan makanan, ia kembali menatap Sekar. "Sekar sehabis makan kita ke pantai ya, melihat sunset, aku mau merefreshing kan mataku."


"Tentu saja boleh, aku juga sudah lama tak menikmati sunset," ucap Sekar sambil tersenyum simpul.


Satu jam kemudian, Sekar dan Michael sudah berada di pantai. Kini keduanya berdiri tegap di bibir pantai sambil menghadap ke hamparan pantai.


Angin sepoi-sepoi membuat dress panjang Sekar meliuk-liuk seketika. Sekar tengah menatap lurus ke depan, menikmati desiran angin yang menerpa wajah dan rambutnya. Kedua matanya berbinar-binar, melihat pemandangan sunset yang menakjubkan. Sore itu, langit begitu indah, Sekar berulang kali menarik panjang, menghirup udara segar di sekitarnya.

__ADS_1


"Bagaimana kamu suka?" Di samping, secara diam-diam Michael memperhatikan Sekar sedari tadi.


Sekar menoleh sambil melengkungkan senyuman. "Suka sekali," ucapnya.


"Baguslah, ayo kita ke sana dulu, kita makan jagung bakar." Michael langsung menggandeng tangan Sekar dan menggengamnya dengan sangat erat.


Sekar mengganguk cepat.


Selang beberapa menit, setelah selesai menikmati jagung bakar, Michael kembali mengajak Sekar berjalan di sekitar bibir pantai sambil menikmati pemandangan sunset.


"Sudah lama aku tidak ke pantai, terakhir kali aku ke pantai dua tahun lalu,itupun karena ada lomba kegiatan sekolah Rena," kata Sekar tiba-tiba.


"Oh ya? Apa kamu suka dengan pantai?" Michael melirik Sekar sekilas.


"Sangat suka, tapi ya sekarang aku kan sibuk, mengurus anak-anakku."


"Tenanglah, setelah kita berkeluarga nanti, aku akan membantumu mengurus, Rena, Shakila dan Reni. Dan jika aku libur, aku akan berusaha menyempatkan waktu untuk membawa kalian ke pantai," ucap Michael sambil mengangkat tangannya yang bertautan dengan Sekar ke udara, lalu melabuhkan kecupan pelan di punggung tangan Sekar.


"Aku perlu bukti, bukan janji," sahut Sekar diiringi kekehan setelahnya. Sudah mantap hati Sekar saat ini, dia mencoba mencintai Michael dan tak mau terlalu berharap pada lelaki. Pengalamannya pernah disakiti, mengajarkan Sekar untuk tidak menaruh harapan lebih terhadap manusia.


Sekar percaya skenario Allah lebih indah. Dan sekarang dia tengah mengikuti alur yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.


Michael memegang pundak Sekar dan menghadapkan Sekar ke hamparan pantai.


Sekar manut-manut saja lalu mulai memejamkan mata. "Mau apa sih Michael?" tanyanya penasaran.


"Ada aja tutup matamu, jangan dibuka sampai aku suruh buka." Michael berbisik pelan di telinga Sekar.


Sekar cekikikan sejenak. "Iya, iya tenang saja."


Tak ada tanggapan, Sekar bingung, saat tak merasakan deru napas Michael di belakangnya lagi.


"Michael? Sudah belum? Kamu di mana?" Sekar mulai panik.


"Sekarang, buka matamu."

__ADS_1


Saat mendengar perkataan Michael, Sekar langsung membuka mata,begitu terkejut melihat Michael berjongkok di hadapannya sambil menyodorkan sebuah kotak cincin.


"Will you marry me?" tanya Michael sambil membuka kotak cincin.


Sekar terkesima sejenak, melihat cincin berlian yang berkilau, terpampang jelas di hadapannya sekarang.


"Ayo Bunda, diterima."


"Iya Mom, tunggu apa lagi, kasihan Daddyku nanti jadi duda lapuk, hihihi."


"Sekar, terimalah Michael."


"Dada da... Da.. Daa."


Sekar terlonjak kaget saat suara Rena, Shakila, Andre dan celotehan Reni terdengar di sekitar. Secepat kilat ia menoleh ke sumber suara. "Kalian? Bagaimana bisa di sini?"


"Ceritanya panjang Mommy, ini semua ulah Daddyku, uh Shakila jadi nggak bisa tidur siang,sudah sekarang Mommy ambil cincin itu, biar Shakila cepat pulang," sahut Shakila cepat.


Sekar tertawa pelan.


"Sekar, bagaimana, will you marry me?" Dengan sabar Michael menunggu jawaban Sekar. Dia berharap Sekar mau menerima lamarannya. Beberapa jam lalu, dia sudah berkerjasama bersama Andre, ingin melamar dan memberi kejutan pada Sekar. Beruntung Andre mengiyakan dan mau membantunya.


"Yes." Sekar mengangguk pelan sambil senyam-senyum sendiri.


Michael begitu senang dan langsung menyematkan cincin di jari Sekar. Kemudian memeluk wanitanya itu tanpa sadar.


"Yei Shakila udah ada Mommy, Rena sebentar lagi kita saudaraan, yei yei yei!" Shakila meloncat-loncat kegirangan. Rena pun tak kalah senangnya.


"Yeii, Rena nambah saudara lagi!"


Dengan jarak beberapa meter, Andre menarik napas dalam, melihat wanita yang sangat ia cintai dilamar oleh rivalnya dulu. Meskipun begitu Andre tahu diri, dia berusaha mengikhlaskan semua yang telah terjadi, lagipula kesalahan ada pada dirinya sendiri.


Andre tersenyum getir setelahnya lalu membuang muka ke samping, karena tak mampu melihat wajah bahagia Sekar saat ini.


"Siapa itu?" Andre heran saat matanya tak sengaja bertubrukan dengan seeorang memakai jaket hitam di ujung sana, seperti melihat ke arah Sekar dan Michael.

__ADS_1


Tak jauh dari mereka.


"Si4l! Miranda tidak mungkin menyetujui hubungan mereka kan, ini tidak mungkin!" umpat Kiara kesal sambil menundukkan muka.


__ADS_2